Sembilu Pilu

"Mbak Ajeng ... kenalin, ini pacarku."

Dengan wajah berseri, aku membawa seorang pemuda yang sekolah di STM ke hadapan Mbak Ajeng. Saat itu kami masih memakai seragam abu-abu dan baru saja pulang sekolah. Aku selalu memilih sekolah di tempat yang sama seperti Mbak Ajeng, sebab di manapun ia berada aku akan dilindunginya.

Arya, kekasih pertamaku menjemput memakai motor sport miliknya. Baru kemarin dia bilang suka dengan malu-malu. Aku segera menerimanya karena kerap melihat Arya sedang duduk bersama teman-temannya di tempat aku naik angkot pulang dan pergi sekolah.

Arya pemuda yang ceria. Tawanya paling keras di antara semua temannya. Ia suka memakai topi warna hitam, yang menyembunyikan wajah tampan dengan sedikit jerawat kemerahan menghiasi pipinya.

Mbak Ajeng menyodorkan jemarinya yang lentik. "Hai, aku Ajeng kakaknya Cici. Tolong jaga Cici, ya. Jangan buat dia menangis. Kalau tidak akan kubuat kamu menyesal seumur hidup."

Setelah berkata begitu, Mbak Ajeng tertawa sembari menepuk bahu Arya.

Itulah Mbak Ajeng. Ia selalu ada untuk melindungiku. Mbak Ajeng bukan hanya kakakku, ia adalah pujaan hatiku.

Seminggu setelah resmi berpacaran, aku mendapatkan luka untuk pertama kalinya. Di saat aku masih sayang-sayangnya, Arya tiba-tiba datang dan memutuskan hubungan kami. Ia bilang tidak cocok denganku yang terlalu pendiam. Arya telah menemukan wanita lain yang lebih cantik dan ceria.

Apalah daya, aku hanya bisa pasrah dan menangis pilu. Hatiku seperti teriris sembilu. Ibu sampai khawatir melihat keadaanku. Sebab aku sampai demam selama seminggu. Ketika Ibu tahu penyebab sakitku, ia dengan tegas melarang ku menjalin hubungan dengan lelaki manapun sampai lulus sekolah.

Ketika sakitku sembuh, tak sengaja aku melihat Arya sedang membonceng seorang gadis yang melekat erat di punggungnya.

Ternyata, gadis itu adalah Mbak Ajeng.

Ya, Arya telah memilih gadis yang tepat. Mbak Ajeng ... aku tidak akan pernah bisa bersaing dengannya. Tidak akan pernah bisa.

Benar kata Ibu. Aku harus konsentrasi dengan pelajaran dan sekolah. Belum saatnya memikirkan cinta yang rumit dan hanya membawa pada sakit hati.

Sejak saat itu, tujuan hidupku hanyalah mendapatkan peringkat tiga besar. Aku tidak peduli dengan makhluk bernama lelaki. Hingga beberapa tahun kemudian, Mas Ferdi datang menawarkan biduk rumah tangga. Ah, aku tidak bisa menolaknya.

Aku membiarkan ponsel tergeletak di atas meja. Kuseret tubuhku menuju kamar. Rupanya, Mas Ferdi sudah terlelap. Ia memakai piyama biru langit yang kubelikan sebagai hadiah ulang tahun pernikahan dua minggu lalu.

Perlahan, kubuka pintu lemari geser. Kuambil piyama kepunyaanku. Dengan memunggungi Mas Ferdi, kupakai piyama itu dengan jemari bergetar. Rasanya begitu sesak! Dadaku sesak membayangkan besok Mas Ferdi dan Andien akan menghabiskan waktu bersama.

Apa yang bisa kulakukan untuk mencegah mereka? Apa?

Membunuh Mbak Ajeng? Agar duri dalam daging itu terhempas lepas?

Tidak! Aku tidak akan sanggup berada di balik jeruji besi dengan status seorang pembunuh. Aku tidak sanggup melihat Andien membenciku karena melenyapkan nyawa manusia. Aku juga tidak akan sanggup mengangkat wajah di hadapan Tuhan yang menciptakan.

Marah dan mencaci Mas Ferdi? Itu juga tidak akan pernah berhasi. Mas Ferdi sudah kenyang dengan cacian, umpatan dan kekerasan fisik yang dilakukan orang padanya. Mempunyai beberapa swalayan itu tidak mudah. Banyak orang iri dan ingin menjegal Mas Ferdi dengan berbagai cara. Dengan ketangguhan dan keuletannya, Mas Ferdi selalu bisa mendapatkan apapun yang diinginkan.

Aku hanya bisa memeluknya dalam sendu. Seperti saat ini. Hanya bisa melingkarkan lenganku di perutnya yang rata. Hanya bisa membenamkan kepala di dadanya yang bidang. Menghirup wangi keringatnya yang membuatku mabuk kepayang.

Mas Ferdi bergerak sebentar. Ia memiringkan badan menghadapku, lalu mengunci pinggangku dalam pelukannya. Posisi tidur yang akan membuatnya terlelap sampai pagi. Juga akan membuatku merasa aman karena dilindungi.

Ah, persetan dengan Mbak Ajeng. Aku akan mempertahankan Mas Ferdi apapun yang terjadi. Bila dengan cara keras tidak bisa, aku akan menggunakan cara halus untuk membuat suamiku jatuh cinta kembali kepadaku. Aku akan menjelma menjadi Cici yang langsing seperti dulu, walaupun membutuhkan banyak waktu.

Saat ini, aku akan menerima kenyataan pahit. Aku akan bertahan hidup dalam kubangan kecemburuan. Aku akan menahan betapa sakitnya hati dikhianati suami.

Demi diriku sendiri, demi Andien, aku akan melewati ini semua.

Dalam keruwetan pikiran, pelukan Mas Ferdi selalu berhasil membuatku tenang. Kantuk pun menyapa, membuat mata terkatup dan mendapatkan haknya.

"Dek, tiga hari ke depan aku akan ajak Andien ke Batu, Malang. Ada lokasi strategis untuk membangun swalayan berikutnya. Rencananya aku akan survey tempat dan sekalian rapat dengan para investor." Mas Ferdi membuka percakapan Seelah selesai sarapan.

"Beneran aku diajak? Horeee!" Andien terlihat senang sekali. Ia mencium pipi Mas Ferdi bertubi-tubi. "Papa tau aja aku sudah bosan berada di rumah terus. Aku janji di sana nanti akan jadi anak baik dan penurut."

Perkataan Mas Ferdi serupa sabda. Ia tidak membutuhkan izinku, ia hanya memberitahukan aku.

"Sama siapa, Mas?" Setelah menata debaran, aku bertanya dengan suara lirih.

"Sama beberapa pegawai kantor," jawabnya pendek.

Termasuk Mbak Ajeng? Dia kan juga pegawai kantor?

"Andien jangan ngerepotin Papa ya. Nanti Mama izinkan sama guru kalau kamu tidak bisa dari selam beberapa hari."

Mas Ferdi tersenyum menatapku. "Nanti kamu mau oleh-oleh apa, Dek?"

Aku mendesah. "Aku mau Mas Ferdi dan Andien pulang dengan selamat. Aku tidak membutuhkan apa-apa lagi."

"Uuuugh! Mama ...." Andien memelukku. "Tenang, nanti Mama akan kubelikan bakpao telo kesukaan Mama. Kita mampir di bakpao telo, ya, Pa?"

Mas Ferdi memberikan dua jempolnya.  "Apapun ...."

"Kalau begitu aku mau siap-siap dulu." Andien beranjak, ia berlari ke atas dengan ribut.

"Mas? Aku minta duit seratus juta ya?" Setelah Andien pergi, terlontar juga perkataan itu.

Mas Ferdi mengangkat sebelah alisnya.  "Buat apa, Dek? Banyak amat mintanya?"

"Aku mau ke fitness dan ke dokter kecantikan. Aku mau berusaha untuk langsung dan cantik seperti dulu." Aku menatap mata Mas Ferdi, menancapkan permohonan sekaligus keinginan.

Mas Ferdi terdiam sebentar, ia seperti memikirkan sesuatu. "Aku suka kamu apa adanya, Dek."

"Aku nggak suka dengan bentuk tubuhku sekarang, Mas! Lihat! Aku nggak ada bedanya dengan lemper!"

Mas Ferdi tertawa terbahak-bahak. Ia justru memeluk pinggangku dari belakang. "Lemakmu ini menggemaskan, lho. Aku suka."

"Nggak mau. Aku akan mengusir lemak jelek ini. Hanya seratus juta, Mas ... ayolah? Ya?" Kembali aku merayu.

"Okelah. Nanti aku transfer ya."

"Makasih, Mas. Mas Ferdi memang terbaik."

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Mas, aku juga mau belajar setir mobil. Mas ingat tidak dulu pernah nawari aku mobil sedan warna hitam? Dulu aku nggak mau mobil, sekarang aku mau, Mas. Biar nggak naik motor mulu dan jadi item kena sengatan matahari."

"Dari dulu kan aku suruh kamu naik mobil sendiri."

"Iya sih ... tapi keberanianku baru datang sekarang. Jadi kapan aku akan punya mobil?"

"Nanti setelah aku pulang dari Batu, kamu bisa memilih mobil yang kamu inginkan." 

Aku tersenyum puas. Kalau dulu aku berpikir bagaimana caranya menghemat uang, sekarang aku berpikir bagaimana caranya mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya dari rekening Mas Ferdi. Kalau bisa sampai habis! Hingga Mbak Ajeng tidak akan bisa menikmati hasil keringat suamiku.

Bersambung

Hajar, Cii! Jan kasi kendor!!

Happy reading dan salam bahagia senantiasa.


Komentar

Login untuk melihat komentar!