Meranggas Jiwa

Aku menunggu jawaban Mbak Ajeng. Satu detik, dua detik, tiga detik. Terasa sangat lama. Mbak Ajeng masih menggantung kata-katanya.

"Ya ... Aku jatuh cinta dengan Mas Ferdi, Ci."

Tanganku gemetaran sehingga ponsel hampir saja merosot dari dalam genggaman. Kuhirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar, mencoba menata hati yang remuk redam.

Siapa yang tidak kenal dengan cinta? Bila cinta sudah menghunuskan berlatinya di hati seseorang maka tidak akan bisa dicabut kembali, kecuali dengan luka menganga.

"Kenapa Mbak Ajeng tega padaku? Bukankah Mbak tahu Mas Ferdi adalah matahariku?" Lirih sekali aku mengucapkan kalimat itu.

"Cahaya mataharimu begitu menyilaukan, Ci. Aku tidak sanggup menghindari hangatnya. Mas Ferdi sosok sempurna untuk mendampingiku. Kamu tahu sendiri kan kisah cintaku bagaimana? Aku merasa bahwa Mas Ferdi adalah jodoh yang selama ini kucari." Begitu entengnya Mbak Ajeng berkata.

Air mata sudah berlolosan dan membasahi pipiku. "Lalu bagaimana denganku, Mbak? Aku tidak bisa hidup tanpa Mas Ferdi. Apakah Mbak Ajeng tidak memikirkan perasaan Andien?

"Aku rela menjadi madumu, Ci. Marilah kita menikmati bersama kehangatan cahaya Mas Ferdi. aku tahu kamu pasti bisa mengerti perasaanku. Sebab aku tahu kalau kamu sangat sayang sama aku. Andien juga, dia selama ini dekat denganku."

Tangisku semakin keras, berkali-kali kususut ingus yang menetes bersamaan dengan air mata.

"Sadarkan dirimu, Mbak! Jangan mencoba merebut suami orang. Apalagi Mas Ferdi adalah suami adikmu sendiri!" Aku mulai berteriak histeris.

"Kamu yang harus sadar, Ci! Jangan egois!" Setelah itu Mbak Ajeng menutup teleponnya.

Aku hanya bisa merosot ke lantai dan menangis terisak-isak meratapi nasib. Seandainya tangisan bisa menyelesaikan permasalahan aku akan merasa sangat bersyukur, akan tetapi walaupun aku menangis sampai mata bengkak masalah itu tetap menghadang dengan garang.

"Mama? Ada apa?" Andien menyapa. Rupanya dia sudah bangun dan turun dari kamarnya yang berada di lantai atas.

Tidak! Aku tidak boleh terlihat lemah di depan Andien.

Segera kuhapus air mata dan berdiri. "Mama ngerasa nggak enak badan."

"Istirahatlah, Ma. Jangan terlalu capek." Andien mendekat dan memijat pelan pundakku. Andien memang putri yang sangat perhatian. Aku beruntung melahirkannya di dunia ini.

"Andien sarapan dulu, ya. Mama mau istirahat sebentar. Oiya, apakah Papa di atas?"

"Iya, Ma. Papa kerja di atas."

"Ya sudah kalau begitu."

Dengan memegang pelipis, terhuyung aku menuju kamar. Terpaksa aku meminum obat anti nyeri karena kepalaku berdenyut hebat.

Ketika bangun, suasana rumah lengang. Aku membuka ponsel dan mendapati pesan Andien, dia hari ini ada kerja kelompok bersama teman-temannya. Ada pesan juga dari Mas Ferdi, dia berangkat kerja.

Aku menatap langit-langit kamar, merasakan denyutan di kepala yang masih tersisa.

Aku tidak boleh terpuruk seperti ini terus. Ayolah, Ci, berpikirlah. Berpikirlah seolah-olah jodohmu dengan Mas Ferdi telah berakhir.

Segera aku menuju ke lemari. Mengeluarkan koleksi perhiasan dan logam mulia yang berada di dalam boks. Kalau semua dijual, mungkin bisa laku ratusan juta. Jemariku menyentuh tiga logam mulia seberat 100 gr. 

Pertama-tama, aku harus menyelamatkan harta benda dulu. Selama ini Mas Ferdi tidak mau tahu tentang apapun yang aku beli. Dia hanya tahu aku suka koleksi perhiasan, itu saja. Mas Ferdi tidak pernah bertanya tentang harga atau apapun.

Memang selama ini, uang belanja yang diberikan Mas Ferdi kepadaku bisa dibilang lebih-lebih. Aku tidak menggunakan untuk foya-foya. Aku lebih suka membeli perhiasan dan logam mulia. Uang di rekening jumlahnya tidak seberapa. Mungkin hanya ada sekitar tiga puluh juta saja.

Tapi itu kan dulu, sebelum badai menerjang. Sebelum ada wanita lain di kehidupannya. Aku khawatir Mas Ferdi akan berubah dan menendangku begitu saja dari kehidupannya. Sebelum itu terjadi, aku akan mengamankan apapun yang bisa diamankan. Bila kelak terjadi sesuatu yang terburuk, aku sudah punya perisai.

Aku tidak akan menyerah semudah itu. Mbak Ajeng, kamu salah mencari musuh.

Menggunakan ojek mobil online aku menuju ke bank untuk menitipkan box berisi perhiasan. Lebih aman berada di bank daripada berada di dalam lemari rumah. Setelah itu aku menuju ke rumah Om Danu yang berada di kota sebelah. Sengaja aku tidak menghubungi mereka. Toh mereka juga tidak akan kemana-mana karena aku membuatkan Ibu toko kelontong di depan rumahnya.

Ketika sampai di sana, kulihat Ibu sedang melayani beberapa orang pembeli. Aku menggunakan sistem seperti minimarket di toko kelontong milik Ibu. Pembeli bebas memilih barang belanjaan, sementara Ibu tinggal duduk manis di meja kasir. Itu membuat pekerjaan Ibu menjadi lebih ringan.

Melihat kedatanganku, Ibu tersenyum sumringah. Senyum Ibu memudar ketika melihat wajahku yang mungkin berantakan.

"Cici, ada apa, Nduk?"

Aku tidak bisa membohongi naluri seorang ibu.

"Ibu ...." Hanya itu yang bisa kuucapkan.

"Sebentar, Nduk. Ibu akan menutup tokonya dulu."

Ibu pun tergopoh dan menutup pintu toko kemudian menguncinya dari dalam. Wanita berkerudung biru itu memapahku menuju ke ruang tamu.

"Lho, Cici. Kapan datang? Kok Ndak kabar-kabar?" Om Danu menyapa. Dia sedang menikmati secangkir kopi di sofa.

"Barusan, Ayah." Aku mencium punggung tangan Om Danu, laki-laki baik yang telah membesarkanku.

"Gimana kabar Ferdi, Nduk?" tanya Ibu.

"Ayah, Ibu .... Sebenarnya aku kesini ingin meminta tolong kalian berdua. Aku sedang menghadapi masalah besar dan aku tidak tahu jalan keluarnya."

Lagi-lagi tangisku meledak. Kali ini aku menumpahkan air mata di dalam dekapan hangat Ibu. Jantung Ibu seperti alunan musik yang menenangkan. Tidak butuh waktu lama aku pun bisa mengendalikan diri kembali.

"Ceritakan apapun masalahmu, Nduk. Ayah dan ibu akan mendengarkan." Om Danu menepuk punggungku.

Om Danu adalah malaikat yang dikirimkan Allah untukku. Kenapa lelaki baik sepertinya harus mempunyai anak jahat seperti Mbak Ajeng?

"Mas Ferdi ... Mas Ferdi mengatakan kepadaku kalau ia ingin menikah lagi."

Om Danu dan Ibu sangat terkejut. Mata mereka membulat. Mereka menatapku dengan pandangan sayu. Mungkin mereka merasa kasihan atas cobaan yang menderaku.

"Ya Allah ... sabar ya, Ci." Ibu meremas tanganku.

"Wanita yang ingin dinikahi Mas Ferdi adalah Mbak Ajeng!" lanjutku dengan nada sinis.

"Apa?!" Om Danu dan Ibu berteriak bersamaan.

Bersambung.

Terkadang, orang tua yang baik diuji dengan anak-anak yang astaghfirullah.

Semoga Cici mendapatkan jalan keluar.

Happy reading dan salam bahagia senantiasa.