Tercacah Belati

"Mbak Ajeeng! Tolong aku ...!"

Siang itu aku berlari lintang pukang menuju ke kantin saat jam istirahat. Anak-anak perempuan kelas 6 berbuat jahat kepadaku. Tiga orang anak tega merampas tas dan membuang isinya di lantai tanah dekat kamar mandi, hingga menyebabkan buku pelajaran hari ini rusak. Bukan itu saja, mereka juga mengatakan aku jelek dan bodoh.

Aku berlari, tidak menghiraukan tas dan ejekan anak-anak jahat itu. Aku mencoba mencari Mbak Ajeng di kelasnya, siapa tahu dia masih berada di sana. Ternyata Mbak Ajeng tidak ada. Kata teman-temannya, Mbak Ajeng berada di kantin.

Air mata dan ingus berlelehan membasahi wajah, coreng moreng rupanya, pasti aku semakin jelek. Ya, sejak kecil aku memang cengeng, penakut, dan dan selalu menggantungkan apapun kepada orang lain. Saat ini malaikat pelindungku adalah Mbak Ajeng. Hanya dia yang bisa menolongku dari kejahatan anak-anak usil itu.

Mbak Ajeng segera menghentikan menyeruput es teh, ketika melihatku berlari mendekatinya.

"Ada apa, Cici? Kenapa kamu menangis?" Mbak Ajeng berdiri menghampiri kemudian menghapus air mataku.

"Ada kakak kelas enam yang jahat. Mereka membuang bukuku di dekat toilet Mbak." Terisak-isak aku menjelaskan kepada Mbak Ajeng.

"Ayo beritahu Mbak, Mbak akan kasih pelajaran kepada mereka."

Tangan Mbak Ajeng menggenggamku dengan erat. Aku segera berjalan menuju tempat tas berada. Di dekat Mbak Ajeng, aku merasa aman. Di sisi Mbak Ajeng, aku merasa bahwa semua masalah akan teratasi.

Rupanya anak-anak bandel itu belum pergi. Mereka tengah menendang-nendang buku pelajaran yang dibelikan oleh Om Danu.

Serta merta Mbak Ajeng mendekati mereka, dan menendang anak-anak itu satu persatu. Suasana pun berubah gaduh. Anak-anak itu mengaduh kesakitan. Tulang kering mereka terkena serempet sepatu Mbak Ajeng.

"Awas kalau kalian berani mengganggu adikku lagi!" teriak Mbak Ajeng sambil berkacak pinggang.

Mbak Ajeng memang sangat keren. Dia adalah idolaku. Mbak Ajeng adalah pahlawanku.

Paras kedua pasangan yang sudah sepuh itupun memucat. Om Danu memegang pelipis, sementara Ibu meremas kerudungnya. Kembali tangisku pecah. Aku benci dengan sifat cengeng ini. Disaat genting ingin aku berubah menjadi wanita yang tegar dan kuat. Tetapi bagaimana lagi, rasanya air mata tidak dapat kubendung. Bening itu meluncur begitu saja menerobos netra.

"Mungkin ini hanya salah paham, Nduk?" Om Danu akhirnya mengeluarkan suara. "Nggak mungkin Mbak Ajeng melakukan hal itu. Dia sangat menyayangimu."

"Aku juga tidak menyangka, Ayah. selama ini hubunganku dan Mbak Ajeng baik-baik saja, tidak pernah ada perselisihan yang berarti. Wajar kalau adik kakak bertengkar tetapi tidak pernah sampai keluar batas." Aku menyusut air mata.

"Tolonglah Ayah, Ibu, tolong nasehati Mbak Ajeng dan Mas Ferdi. Semoga mereka mau mendengarkan kalian sebagai orang tuanya," lanjutku lirih.

"Ayah akan mencoba menasehati Ajeng, Nduk. Doakan agar Ajeng bisa menerima masukan dari Ayah. Sebaiknya kamu istirahat dulu ya, biar kamu tidak terlalu capek habis perjalanan jauh."

Aku menggeleng pelan. "Nggak usah Ayah, aku akan langsung pulang. Aku tadi ke sini tanpa izin Mas Ferdi."

"Sabar ya, Nduk. Gusti Allah mboten sare. Tetaplah berpikir jernih, jangan mengedepankan hawa nafsu." Ibu mengelus lenganku. "Apakah Ibu perlu menemanimu pulang?"

"Nggak perlu, Bu." Aku menolak tawaran Ibu. "Ibu doakan aku, agar aku bisa melalui ini semua."

Ibu merengkuhku ke dalam pelukannya. Kali ini kurasakan debar jantung ibu bertalu-talu. 

Orang tua mana yang tidak sakit hati melihat anaknya berkubang dalam duka?

Beberapa saat kemudian aku pun pamit. Ojek mobil sudah menunggu di depan rumah Om Danu.

Benar kata Ibu, aku tidak boleh terhasut aura negatif yang berdesak-desakan di dalam otak. Aku harus berpikir jernih untuk mempertahankan mahligai rumah tangga. Alasan Mas Ferdi berselingkuh mungkin karena dia sudah tidak tertarik lagi dengan fisikku.

Ya, aku akan mulai dengan diet menurunkan berat badan. Aku harus selalu sehat agar bisa melawan Mbak Ajeng. Bila diet, itu harus di bawah pengawasan ahlinya. Aku tidak mau sakit karena salah jalan. Niat langsing justru masuk UGD.

Teman-teman sosialita sering mengajakku untuk diet sehat. Tetapi aku tidak pernah mau, karena Mas Ferdi suka dengan aku apa adanya. Tapi sekarang? Aku harus memperbaiki segalanya, semata-mata agar Mas Ferdi kembali ke dalam pelukan.

Jemariku mengambil ponsel dari dalam tas. Aku menelepon Diana, teman yang menjadi member sebuah tempat fitnes sekaligus pusat konsultasi diet sehat.

"Hallo, Assalamualaikum Diana. Besok aku ikut kamu fitness, ya. Aku pengen diet biar seksi."

Terdengar kekehan di seberang. "Akhirnya kamu tertarik juga, Ci. Wanita memang sebaiknya menjaga berat badannya. Bukan hanya kulit tubuh, wajah dan rambut saja," kata Diana renyah.

"Iya, aku baru nyadar. Besok aku langsung ke tempat fitness-mu ya. Tapi aku nggak punya bajunya."

"Gampang. Di sana jual, kok. Kualitas premium, menyerap keringat dan adem. Enak dipakai."

"Okelah, Di. Sampai ketemu besok."

Sambungan telepon kumatikan, tepat saat mobil berhenti di halaman rumah.  Aku turun dan membayar tagihan.

Terlihat mobil silver Mas Ferdi terparkir di garasi. Tumben masih sore sudah pulang. Biasanya dia pulangnya malam-malam. Apalagi akhir pekan seperti saat ini, swalayan sedang ramai-ramainya orang belanja.

Ada sebuah dorongan kuat untuk berjalan pelan-pelan menuju ke rumah. Rasanya aku enggan bertemu dengan Mas Ferdi sekarang. Kalau bisa sampai beberapa hari kedepan aku tidak mau menatap wajahnya.

Memuakkan!

Membayangkan Mas Ferdi membuat kemarahanku bergejolak.

Pelan kubuka pagar, pelan juga kubuka pintu rumah. Berusaha tidak menimbulkan suara berisik apapun. Tingkahku seperti maling yang mau mencuri ayam tetangga.

Biarlah terserah. Yang penting aku harus menghindar dulu dari Mas Ferdi. Daripada hatiku kembali tercacah belati.

Ruang tamu sepi. Tidak terlihat sosok satu pun. Bahkan Bibi Nur yang biasanya mondar-mandir juga tidak kelihatan batang hidungnya.

Sebentar, sepertinya ada suara-suara di lantai atas. Siapa yang berada di sana? Mungkin itu suara teman-teman Andien. Ramai sekali tawanya. Suara gelak Andien terdengar paling keras.

Aku berniat menyapa teman-teman gadisku itu. Tak ada salahnya orang tua dekat dengan teman anak-anaknya. Supaya tahu, dengan siapa Andien bergaul. Bila teman dekat seseorang baik, kemungkinan besar akan berpengaruh baik pula.

Satu per satu kakiku menaiki tangga lantai cokelat berukir menuju ke atas. Suara canda tawa semakin keras terdengar. Sesekali ditingkahi oleh tawa pria.

Mas Ferdi? Dia sudah beramah-taman dengan teman Andien? Tidak biasanya suamiku itu mau berkumpul bersama remaja. Dia lebih suka menyendiri dalam kamarnya menghadap laptop.

Kembali aku melangkah perlahan. Jemariku memegang pagar tangga yang terbuat dari besi. Dingin, sedingin hatiku. Ketika sudah sampai di anak tangga paling atas, aku berpegangan lebih erat lagi.

Dari sini, bisa kulihat langsung sebuah kebersamaan yang menyakitkan. Di sana, di ruang keluarga atas, Andien dan Mas Ferdi sedang bercengkrama dengan Mbak Ajeng. Mereka duduk santai di atas sofa hitam. Bahkan Bibi Nur pun ada di sana, sedang menyuguhkan minuman segar berwarna kuning di atas meja kaca.

Mereka terlihat sangat bahagia.

Tawa Andien menggema di ruangan. Remaja itu memegang sebuah ponsel dengan mata berbinar-binar. Ponsel keluaran terbaru, yang memiliki simbol buah apel tergigit.

"Makasih ya, Tante Ajeng. Aku udah lama banget pingin ponsel ini. Akhirnya punya juga. Tante memang terbaik. Aku sayaaang sama Tante," ucap Andien sembari mengecup pipi wanita yang saat ini memakai atas berwarna hitam tanpa lengan itu.

Pegangan tanganku perlahan terlepas dan ....

Bersambung

Nyeseknya huhuhu. Cici, kamu harus kuat! Jangan lembek kek squisi gitu dooong!

Happy reading dan salam bahagia senantiasa.


Komentar

Login untuk melihat komentar!