Hancur Berkeping

"Cici, kenalkan ini Mbak Ajeng. Kalian yang rukun, ya?" Ibu tersenyum sembari mengenalkan aku dengan bocah cantik yang berada tepat di hadapan.

"Ajeng, ini Cici, adikmu." Om Danu yang sekarang sudah menjadi ayahku juga tersenyum.

"Hai Cici. Aku Ajeng. Ayuk kita mainan boneka, Ayah baru saja membelikan sepasang untukku dan kamu." Mbak Ajeng yang masih kelas 5 SD itu menggandeng tanganku dan mengajakku menuju ke kamarnya.

"Ini nanti akan menjadi kamar kita. Sudah lama aku ingin punya saudara perempuan biar bisa diajak bermain bersama. Itu dia boneka barbienya. Aku yang berambut pirang, kamu yang berambut hitam, ya."

Mbak Ajeng mengambil dua kotak yang berada di atas meja belajarnya dan memberikan satu kepadaku. Awalnya aku takut kalau tidak diterima oleh keluarga baru, tetapi melihat Mbak Ajeng yang ramah hatiku terasa lega. Akhirnya setelah sekalian lama aku mempunyai keluarga yang utuh. Aku mempunyai ayah yang baik sekaligus mempunyai seorang kakak yang cantik dan ramah.

Semenjak Ayah meninggal dunia ketika aku masih kecil ibu memang mencari nafkah di kota. Meninggalkan aku bersama Nenek di desa. Ibu jarang pulang, hanya ketika lebaran saja kami bertemu karena tempatnya bekerja tidak memberikan cuti.

Suatu hari ketika aku bermain di kebun bersama teman-teman, Ibu pulang. Ibu mengenalkanku dengan Om Danu. Om Danu suka membelikan buah-buahan pakaian dan makanan kesukaanku saat main ke sini bersama Ibu. Tak lama, Ibu pun menikah dengan Om Danu secara sederhana di desa. Beberapa hari setelah akad, Ibu dan Om Danu membawaku ke kota.

Hidupku sangat bahagia bersama keluarga baru, sekolah baru, teman-teman baru dan ayah baru yang sangat memanjakanku. Ayah tidak pernah membeda-bedakan aku dengan Mbak Ajeng.

Aku sangat sayang kepada Ayah juga sayang kepada Mbak Ajeng. Jasa mereka tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup. Jasa mereka tidak akan pernah bisa kubalas sepanjang masa.

"Apa Mas? Coba diulangi lagi." Kupandang bening mata Mas Ferdi yang sekarang sedang menghindar, dia menatap sudut kamar.

Biasanya Mas Ferdi memang suka bercanda tapi saat ini bercandanya sangat keterlaluan dan aku tidak suka.

"Ada apa dengan Mbak Ajeng, Mas?" Kembali aku melontarkan tanya.

Kali ini Mas Ferdi menghirup nafas panjang dia menuntun jemariku ke dalam genggaman tangannya. Ranjang ukuran king size ini bergoyang tatkala tubuh Mas Ferdi bergeser merapat.

"Apakah Dek Cici ingat perjanjian pra nikah dulu?" Ganti Mas Ferdi yang bertanya kepadaku.

Deg!

Hatiku terasa tercubit gunting tajam.

Perjanjian pra nikah? Saat itu kami hanya ada dua perjanjian yaitu bila suatu saat ada sosok idaman lain maka harus jujur kepada pasangan. Kedua, tidak akan pernah melakukan kekerasan fisik dan mental kepada pasangan.

Menyadari hal itu jantungku bertalu-talu, berdegup kencang tak beraturan membuat tubuhku bergetar hebat di dalam dekapan Mas Ferdi.

"A ... Apakah Mas Ferdi suka Mbak Ajeng?" Susah payah kulontarkan pertanyaan itu. Tenggorokanku tercekat, suaraku bergetar.

"Maaf, Dek. Aku tidak bisa menghindari rasa ini."

Saat itu pula tangisku pecah. Seperti anak kecil aku meraung-raung di dalam dekapan Mas Ferdi.

Kupukul dadanya sekuat tenaga. Kutarik bajunya hingga berantakan. Kucakar leher Mas Ferdi hingga meninggalkan bekas luka.

"Kenapa, Mas? Kenapa ...!" Aku histeris, tidak percaya bahwa cobaan akan menerjang kehidupan damai rumah tangga.

"Keluar dari kamarku, Mas. Keluar!" Kembali aku berteriak.

Kali ini kudorong tubuh tegap Mas Ferdi sekuat tenaga menuju keluar kamar. Kemudian kututup pintu kamar dan menguncinya rapat-rapat. Setelah itu aku membanting diri di atas kasur, dan menggenangi tempat tidur dengan air mata.

Selama berjam-jam aku menangis dan meratap. Menyesali cinta yang laknat Mas Ferdi kepada Mbak Ajeng.

Kenapa harus Mbak Ajeng? Kenapa?

Kenapa cobaanku harus wanita lain, kenapa?

Apa salahku, Tuhan? Apa dosaku?

Merutuki diri, itulah yang bisa kulakukan. 

Tepat pukul satu malam, tenagaku pun terkuras habis. Dengan tubuh terhuyung aku menatap pantulan bayang di meja rias besar seberang ranjang.

Lihatlah ... wanita yang ada di sana. Berbadan gemuk, lipatan lemak di mana-mana.

Apakah hanya karena bentuk badan yang menyebabkan Mas Ferdi berpaling ke wanita lain? Bukankah kulitku tidak kalah mulus dengan Mbak Ajeng? Aku rutin perawatan wajah ke dokter, aku selalu senang berada di salon kecantikan. Apa hanya karena tubuhku tidak berbentuk lagi, Mas Ferdi tega mengkhianati?

Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam benak. Namun tak ada satupun yang berhasil kujawab. Hingga terdengar azan subuh, aku masih meneriakkan berjuta-juta pertanyaan.

Tidak! Aku tidak boleh terlihat menyedihkan seperti ini. Aku harus kuat untuk mempertahankan rumah tangga yang sedang diguncang badai.

Berpikirlah yang jernih, Cici! Hadapi ujianmu dengan elegan.

Kuembuskan nafas berat tiga kali, lalu perlahan keluar kamar menuju ke mushola yang berada di bagian belakang rumah. Guyuran air wudu membuat letihku sedikit sirna, bersujud menghadap Tuhan membuat lelahku sedikit terangkat.

Aku harus bisa aku pasti bisa melalui semua ini. Lihat saja, aku akan menjadi pemenangnya. tak akan kubiarkan wanita lain merampas apa yang sejak awal sudah menjadi milikku. Mas Ferdi adalah milikku selamanya

Dengan menahan luka hati yang masih berdarah-darah, aku menghubungi nomor Mbak Ajeng. Tak kulihat Mas Ferdi sedari tadi, mungkin dia tidur di lantai atas.

Pada dering ketiga, terdengar suara Mbak Ajeng.

"Ya? Cici? Ada apa pagi-pagi?" tanya Mbak Ajeng dengan suara serak.

"Mbak, apakah Mbak Ajeng menjalin hubungan sama Mas Ferdi?" Spontan aku bertanya inti masalah.

Senyap.

Mbak Ajeng terdiam lama.

"Mbak?" Kembali aku melontarkan tanya, kali ini dengan nada yang menyedihkan.

"Sebenarnya aku dan Mas Ferdi ....."

Bersambung

Heleeeeh gemes banget sama kelakuan Ajeng. Bakiak! Mana bakiak.

Happy reading dan salam bahagia senantiasa.