Berkubang Duka
Melihat semua kemesraan yang terjadi tepat beberapa meter di depan sana, membuat aku seolah menjadi seekor kupu-kupu yang kehilangan sayap. Jatuh ke atas tanah, merangkak kesakitan dan mengutuk dunia atas segela derita. 

Kakiku lemas. Hanya tembok yang bisa kujadikan sandaran. Napasku tersengal, pandanganku kabur. 

Mereka tetap berada di sana. Tak memperhatikan aku yang sedang berjuang melesakkan sakit. Sakit yang tak pernah kurasakan. Seribu sakit yang memedang jiwa.

Setelah menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, aku pun kembali turun. Persis seperti pecundang! Aku tidak punya nyali menghardik Mbak Ajeng yang telah lancang mengambil hati Andien. Andienku, hartaku yang paling berharga setelah Mas Ferdi. 

Lemas, kakiku menuruni tangga. Menuju ke dalam kamar lalu menguncinya. Di sini, di atas ranjang ini aku menumpahkan tangis. Kubenamkan kepala di atas bantal dan menjerit sejadi-jadinya. 

Biarlah sekarang aku menumpahkan hujan air mata. Biarlah saat ini aku berkubang dalam duka. Aku akan mengumpulkan kekuatan, untuk bangkit melawan Mbak Ajeng. Aku akan buktikan bahwa Cici Handayani tidak sebodoh yang dia kira. 

Diajeng Kusuma, tunggulah aku! 


Rupanya aku tertidur karena kelelahan menangis. Kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku bangkit dan terkejut dengan penampakan yang terpantul pada kaca rias. 

Sosok perempuan gendut dengan rambut panjang berantakan. Pipi yang tembem, dagu yang menyatu dengan leher, lipatan lemak di perut ... astaga penampilanku memang sangat menyedihkan. Tidak sedap dipandang. 

Mungkin inilah yang membuat Mas Ferdi berpaling ke tubuh lain yang lebih seksi. 

Aku mendekati cermin. Merentangkan tangan ke kanan dan kiri. Terlihat jelas betapa besar lengan atasku, lemak bergelambir, berayun dengan setiap gerakan sekecil apapun yang kulakukan. 

Ya, kemewahan ini telah membuatku terlena. Segala macam makanan enak dan berlemak selalu menemani hari-hari. Hingga tak sadar, tubuhku yang dulu langsing sudah berubah seumpama karung beras. 

Sementara Mas Ferdi masih tetap seperti dulu. Kesibukan di kantor dan di swalayan membuatnya harus rutin olah raga agar staminanya tetap terjaga. 

Perkataan Mas Ferdi yang membuat aku lupa diri. "Aku cinta kamu apa adanya, Dek, Cici. Apapun itu. Mau langsing atau gendut, Dek Cici adalah ratu di hatiku."

Selalu, dan selalu itulah yang ia ucapkan ketika aku sudah mengeluh tentang berat badan. Sebagai istri, aku sangat bahagia karena Mas Ferdi tetap mencintaiku tanpa melihat bentuk dan rupa. 

Ternyata, aku salah. Saat ini dengan mata kepala sendiri, aku melihat Mas Ferdi yang menatap Mbak Ajeng seperti serigala menemukan daging segar. 

Aku salah! Salah besar karena memelihara lemak terkutuk ini! Aku salah karena seratus persen mempercayai perkataan Mas Ferdi. Bagaimanapun, ia tetaplah laki-laki yang harus dipuaskan pandangan matanya. Perempuan bertubuh indah akan mempu mengoyak pertahanannya. Perempuan itu adalah Mbak Ajeng ... orang yang sangat kusayangi selama ini.

Lunglai, aku keluar kamar menuju kamar mandi. Kemudian, kupadamkan api yang menyala-nyala dalam diri di bawah shower. 

Ah ... rasanya agak mendingan. Air ternyata mampu mendinginkan kemarahan. 


Terdengar suara mobil berhenti di di depan rumah. Aku pun tergesa menyambut siapapun yang datang. Setelah mandi tadi, aku sudah memakai make up tipis dan menghapus segala kesedihan yang tergambar di wajah. Tampilanku kini sudah terlihat segar. 

Andien dan Mas Ferdi yang datang. Mereka membawa sekotak martabak kesukaanku. 

"Ini martabak kesukaan Mama." Andien menyodorkan kotak yang menguarkan harum itu. 

"Makasih, Sayang. Dari mana ini kok kelihatannya ceria banget." Aku harus berpura-pura. Totalitas dalam peperangan ini. 

"Nganterin Tente Ajeng pulang, Ma." Andien menggandeng tanganku. Ia mengajakku duduk di ruang tamu. 

Sementara Mas Ferdi langsung menuju ke kamar. 

"Mama, Tante Ajeng baik banget. Dia beliin aku ponsel mahal yang selama ini kuinginkan!" Andien merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan ponsel pemberian Ajeng. 

"Ayo, Ma. Kita Selfi dulu. Kameranya bagus lho. Aku suka!" Andien  memelukku dan mengambil beberapa gambar kami. 

Terpaksa aku harus tersenyum semanis mungkin. Tidak tega kalau memasang wajah duka.

"Lihat, Ma. Bagus kan hasilnya?" Ia menunjukkan beberapa gambar hasil jepretan. 

"Iya, bagus hasilnya." Aku melihat gambar yang ditujukan oleh Andien. "Mama terlihat sepantaranmu."

Andien tertawa. "Mama memang cantik, awet muda. Lihat, Ma. Aku tadi juga selfi sama Papa dan Tante Ajeng."

Andien menggeser layarnya dengan lincah. Hatiku berdebar ketika melihat gambar yang membuat mata panas. Andien, Mbak Ajeng dan Mas Ferdi terlihat bahagia foto bertiga, dilatari oleh taman lantai atas rumahku. 

"Cakep ya, Ma? Tante Ajeng itu cantik banget. Gak nyangka aja dia sudah seumuran Mama. Banyak temanku yang iri dengan kecantikan Tante Ajeng."

Ada rasa sakit ketika Andien memuji orang lain, apalagi itu adalah Mbak Ajeng. Dari dulu memang Andien juga mengidolakan Mbak Ajeng karena kecantikannya. 

"Cantikan Andien lah," kataku cepat. Putriku itu tersenyum manis. "Kamu tidurlah dulu. Sudah malam. Besok daring kan?" 

Andien mengangguk. "Iya, Ma.".
Gadis itu mengecup pipiku kemudian beranjak ke lantai dua kamarnya. 

Aku mengembuskan napas panjang. Mencoba meredakan ledakan di dalam hati. Peperangan ini sungguh tidak mudah. Sama sekali tidak mudah. 

Deringan ponsel membuatku terlonjak. Ponselku yang berada di atas meja bergetar-getar, mengeluarkan suara khas. Di layarnya, tertera sebuah nama. 

Mbak Ajeng.  

Berani sekali Mbak Ajeng memakai profile foto yang baru saja ditunjukkan Andien kepadaku. Ia berlagak kalau Andien dan Mas Ferdi adalah keluarganya. 

Sungguh wanita yang tidak tahu diri! 
Malas benar aku menerima panggilannya. 

Hingga 10 panggilan tak terjawab, aku enggan menerima. 

Tring.

Mbak Ajeng mengirimkan pesan. Sekilas kubaca pesan yang lewat pada layar ponsel tanpa kubuka.

[Besok Mas Ferdi akan ajak aku liburan. Andien juga ikut.] 

Ya Allah ...

Apalagi ini? 

Bersambung 

Astaga darah tinggi aku! . Ajeng itu ulat bulu yang bulunya tebel warna merah! Bikin gataaaal dan periiih kalau terkena.

Enaknya Ajeng ini diapain ya? Kasi saran, dong.