Memar di Tubuh Hani
IBUKU MEMBENCI ISTRIKU (2)

(ISTRIKU TERNODA KARENA IBUKU!)
____________________

Sebelum baca mohon klik tombol Subscribe dan beri ulasan bintang 5 ya guys. Syukran.

_______

"Lho, Han ... itu tangan kamu kenapa? Kok merah dan baret-baret begitu?" tanyaku kaget dan cemas.

Namun, Hani hanya menggelengkan kepalanya. 

"Aku nggak kenapa-kenapa, Mas. Cuma jatuh aja di jalan tadi," sahutnya lirih seolah menyembunyikan sesuatu.

"Tapi kok bisa baret gitu? Sini Mas lihat!" Kutarik cepat tangan Hani tetapi wanita salihaku itu malah menahannya.

"Aku nggak papa, Mas. Bener. Cuma jatuh kok."

"Tapi kok bisa baret begitu? Terus kamu kenapa juga pakai cadar di rumah?" tanyaku lagi pada Hani.

"Sudah, Van. Jangan heboh gitu. Ngapain sih heran? Istrimu ini kan dari dulu memang sudah aneh begitu! Ya, sudah Ibu pulang dulu ya. Males di sini lama-lama!" Ibu memotong pertanyaanku lalu tanpa menunggu jawabanku lagi, beliau bangkit dan menjinjing tas besarnya ke luar rumah.

Ibu memang biasa menyetir mobil sendiri. Jadi datang dan pergi tak perlu menunggu lagi anaknya ini datang menjemput atau mengantar pulang.

Aku hanya menatap kepergian ibu dengan hati perih. Entah kapan Ibu bisa bersikap baik terhadap Hani, menantunya ini. Padahal Hani wanita yang baik. Meskipun Ibu tak pernah bersikap ramah dan menghargainya tetapi Hani tak pernah membalas.

Jangankan membalas, mengadu saja tak pernah.

Setelah Ibu pergi, aku pun membalikkan badan masuk kembali ke dalam rumah, tetapi sosok Hani tidak ada lagi di tempatnya.

"Han, Hani ...!" Aku memanggil istriku, tetapi tak kudengar sahutan darinya.

Hingga terpaksa aku pun masuk ke dalam dan menemukan Hani ternyata sedang duduk di depan meja rias. Wajahnya terlihat sendu.

"Han, kenapa?" Kusentuh pundaknya. Hani diam saja.

"Buka dong cadarnya, Han. Kamu kenapa?"

"Biar aja Mas. Aku lagi pengen pakai," sahutnya lirih.

"Tapi kenapa? Tumben? Bukannya di depan suami boleh nggak pakai cadar?"

"Tapi, aku pengen pakai. Tolong izinkan," pintanya lagi.

Mendengar permohonannya, aku pun terpaksa mengalah.

Kubiarkan saja Hani menutupi wajahnya, hingga tiba saatnya kami hendak keluar rumah untuk berbuka di restoran sesuai rencana semula.

Namun, menjelang saat itu tiba, Hani yang biasanya penuh semangat jika diajak pergi keluar, justru terlihat ogah-ogahan.

"Mas aja yang keluar ya, aku pesan nasi aja satu," ujarnya saat aku sudah bersiap dan telah memegang kunci mobil.

"Lho, kamu kok nggak ikut? Kenapa?" Kupicingkan mata pada istriku dengan heran. Ya, sedari tadi Hani terus saja memperlihatkan tingkah laku yang tidak biasa dan itu membuatku bingung sekaligus curiga.

"Nggak papa, Mas. Aku cuma nggak enak badan aja."

"Tapi kenapa? Katakan dong, Han. Istri yang baik tidak akan menyembunyikan hal sekecil apa pun dari suaminya karena sejak menikah kamu sudah menjadi tanggung jawabku. Sekarang katakan ada apa? Satu hal lagi, sebagai suami aku memerintahmu membuka cadarmu di hadapanku sekarang. Dan kamu harus taat atau mau jadi istri durhaka!" ancamku.

Ya, terpaksa aku menggunakan ancaman karena Hani selalu menghindar dariku.

Sementara mendengar ancamanku, Hani sepertinya merasa tak enak dan takut.

Perlahan dibukanya juga cadarnya hingga akhirnya aku pun terpekik kaget. Tampak jelas raut wajah Hani yang putih bersih dan mulus, dipenuhi luka bekas cakaran.

Ada noda darah yang telah mengering di sana yang membuatku sontak terkejut.

"Hani, kamu kenapa? Siapa yang sudah mencakar kamu begini?" Kuraih wajah Hani spontan dan menghujamkan tatapan tajam tepat di wajahnya tetapi istriku hanya menunduk.

"Aku nggak papa, Mas. Lepaskan."

"Tidak! Siapa yang sudah melakukan ini padamu?" tanyaku marah.

Lalu tiba-tiba saja tanganku sudah bergerak sedemikian rupa hingga terbukalah jilbab Hani, memperlihatkan bagian leher istriku itu yang dipenuhi memar kemerahan.

Begitu pun saat kubuka paksa gamis yang membalut tubuhnya. Sekujur tubuh istriku itu tampak dipenuhi luka memar kemerahan bahkan sebagian membiru.

Ah, apa sebenarnya yang telah terjadi pada diri istriku ini?

Aku benar-benar tak mampu menahan rasa terkejut, bingung dan curiga. Semua rasa itu campur aduk jadi satu dalam hati.

Apa yang sebenarnya terjadi pada istriku barusan? Insiden apa yang ia dapatkan tadi di jalan hingga tubuhnya dipenuhi luka memar di mana-mana begini?

Ya, Tuhan. Gara-gara ibu, istriku yang tak pernah keluar rumah sendirian ini jadi harus mengalami kejadian memilukan seperti ini.

Cerbung ini ada di KBM app ya. Kuy subscribe dan rate bintang 5 ya guys karena cerbung ini akan upload lebih dulu di sana.

Next?