Istri Saliha yang Dibenci Ibu
IBUKU MEMBENCI ISTRIKU

Hai, jumpa lagi dengan cerbung baru saya ya. Sebelum baca, tolong Subscribe, rating bintang lima, love dan komentarnya ya teman-teman. Trims.

💗💗💗💗💗

(Dia menantumu, Bu. Bukan Pelakor yang merebutku dari sisimu ...!)

"Van, kamu udah pulang? Bawa apa itu?" tanya Ibu sambil mata beliau tertuju pada kantong plastik putih berisi gamis dan lingerie seksi untuk istriku.

Hari ini aku memang baru saja menerima gaji dan seperti kebiasaanku selama ini, setiap terima gajian, tak pernah lupa membawa oleh-oleh untuk Hani, istriku.

"Oh, ini gamis, Bu. Ibu kapan datang? Kok nggak bilang-bilang. Coba Ibu bilang, aku kan bisa belikan juga buat Ibu," sahutku sembari mencium tangan wanita yang sudah melahirkanku tiga puluh tahun silam itu, tetapi Ibu buru-buru menepis.

"Jadi ibu harus bilang dulu kalau mau main ke sini, baru kamu mau belikan juga gamis buat Ibu?" desis Ibu sembari menatapku tak suka.

"Ya, nggak gitu juga dong, Bu. Vano kan sudah transfer sebagian penghasilan Vano ke Ibu, jadi Ibu bisa beli sendiri yang Ibu suka di butik langganan Ibu, tinggal antar saja kan seperti biasanya? Kalau Hani, kalau tidak dibelikan, nggak pernah mau beli sendiri, Bu karena nggak suka keluar rumah. Jangankan beli baju ke butik atau mall, beli sayur saja minta tolong aku," sahutku sembari tersenyum pada Ibu, berusaha membuat kekesalan beliau mencair.

"Nah, itu dia jadi istri kok manja banget. Beli sayur aja harus minta tolong suaminya! Apa sih kerjaannya di rumah? Ingat ya Van, kunci surga istri itu ada di telapak kaki suaminya! Bukan sebaliknya, kamu jadi manjain istri begitu. Jadi istri kok kayak bos! Main perintah suami aja seenaknya! Satu lagi, kunci surga suami itu ada di bawah kaki ibunya, Van. Jadi, kedudukan ibu ini paling tinggi yang harus kamu utamakan di atas segala-galanya. Jangan salah kaprah kamu. Sok-sokan pake gamis sama jilbab nyentuh lantai, giliran ke suami, manjanya minta ampun! Nyesel ibu jadiin dia menantu!" dengkus Ibu tak suka.

Kuhela nafas berat. Kalimat seperti ini sudah sangat sering kudengar dari mulut beliau. Sejak menikahi Hani setahun lalu, ibu memang suka uring-uringan dan marah-marah tak jelas. Ada saja yang dipermasalahkan. Seolah tak suka aku menikahi gadis itu.

"Betul yang Ibu katakan. Kunci surga suami memang ada di bawah kaki ibunya. Tapi seorang suami yang zalim kepada istrinya juga haram masuk surga lho, Bu? Vano nggak mau dong nggak bisa masuk surga gara-gara nggak bisa memperlakukan istrinya dengan baik. Ibu pasti pernah dengar hadist Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang mengatakan sebaik-baik suami itu adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istrinya, bukan? Nah, sebagai umat beliau, Vano juga ingin melakukan itu, Bu. Supaya bisa masuk surga," sahutku lagi. Berharap Ibu mengerti. Beliau pun diam saja, meski masih menekuk bibir tanda belum sepenuhnya mau menerima apa yang aku katakan ini.

"Oh ya, Bu. Hani mana? Ada di dalam?" tanyaku lagi setelah menyadari Hani yang biasanya tak pernah lupa menyambutku setiap pulang kerja, sedari tadi justru tak nampak, malah Ibu yang menyambut.

"Lagi keluar. Tadi Ibu suruh beli nasi rendang ke restoran pakai ojeg. Tunggu aja bentar lagi juga pulang. Dasar istrimu itu pemalas minta ampun! Di rumah seharian, ke dapur aja nggak! Meja makan kosong melompong! Istri macam apa itu. Pantas badan kurus ceking, tahan nahan lapar sih!" Ibu masih saja bicara kasar menjelekkan menantunya, padahal itu tidak benar, membuatku masih menahan rasa kesal pada beliau.

"Hani dan Vano hari ini puasa sunnah, Bu. Buka sore nanti rencananya mau makan di luar aja, makanya Vano minta nggak usah masak. Lagian Ibu gimana, sih? Kenapa gak order online saja? Kan ada aplikasinya? Nggak usah nyuruh Hani. Sekarang ke mana lagi dia? Hani kan nggak pernah keluar rumah, Bu. Nggak ngerti jalan di sini. Sudah lama perginya?" tanyaku panik. 

Kulirik jam di tangan, sudah pukul lima sore. Sebentar lagi waktu berbuka puasa tiba. Hatiku mendadak cemas bukan main. Kucoba menelpon nomor ponsel Hani, tersambung tapi tidak diangkat-angkat. Kuulang sekali lagi, tersambung tetapi tetap tidak diangkat. Terakhir malah dimatikan dan nomor telepon istriku itu tak bisa lagi dihubungi. Hatiku pun makin dilanda prasangka dan rasa cemas tak terkira.

Kutaruh tas kerjaku ke atas meja lalu tanpa menghiraukan Ibu, berlari ke depan rumah, berusaha mencari sosok Hani. Barangkali sudah pulang. Namun, sosok wanita bersahaja itu tak juga nampak, membuatku semakin cemas. 

Akhirnya dengan buru-buru kunaiki mobil kembali dan langsung tancap gas. Kuputuskan untuk menuju restoran terdekat yang biasa menjual nasi Padang.

Lima belas menit kemudian aku sudah sampai di depan restoran itu, mencari-cari sosok istriku tetapi tidak kelihatan.

Kucoba menanyakan pada pegawai restoran, ciri-ciri istriku itu tetapi karena banyaknya pelanggan, mereka pun tak ingat lagi.

Terpaksa aku memutar kemudi lagi dan mencari-cari di setiap sudut jalanan dengan mataku. Namun nihil. Ya, Tuhan ... Hani ke mana?

Tak terasa sudah setengah jam aku berusaha mencari Hani. Tubuhku terasa lelah. Haus dan letih karena puasa.

Dalam keadaan putus asa, aku pun teringat belum menelpon ibu. Aku pun lantas menelpon beliau. Siapa tahu Hani sudah pulang.

Bergegas kuhubungi beliau dan tanpa diduga beliau dengan santainya mengatakan jika Hani ternyata sudah pulang sedari tadi.

Dalam perjalanan pulang aku tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa kesal pada sosok wanita yang sudah melahirkanku itu. Bisa-bisanya tidak mengatakan padaku yang sedang dalam keadaan panik mencari Hani.

Tiba di rumah, kuparkir mobil sembarangan lalu bergegas masuk ke rumah.

Ibu menoleh saat aku masuk. Di tangannya ada piring besar berikut nasi bungkus rendang yang mungkin barusan di beli Hani.

Sementara di samping beliau, Hani yang sedang dalam keadaan berpuasa, duduk bersimpuh di lantai sembari memijit kaki Ibu.

"Mas, kamu sudah pulang?" sapa Hani sembari menghentikan gerakannya memijat mertuanya lalu meraih punggung tanganku dan menciumnya.

Aku mengangguk dan tersenyum lega. Melihat Hani ternyata baik-baik saja, hatiku merasa lega bukan main. Kuputuskan untuk menunda protes pada ibu yang sudah membuatku panik tadi, demi melihat Hani tak kenapa-kenapa.

"Han, kamu ke mana aja, kok mas hubungi hpnya dari tadi nggak aktiv?" tanyaku sembari duduk di depannya.

"Iya, Mas. Aku minta maaf ya. Tadi hp nya jatuh waktu naik ojek."

"Oh, rusak? Mana? Siapa tahu bisa diperbaiki," sahutku lagi sembari menatap haru istriku. 

Tetapi tanpa diduga, Hani malah menunduk. Ia masih memijat ibu, tapi gerakan tangannya terlihat lemah. Wanita yang masih belum membuka cadarnya itu terlihat mengerjapkan mata.

"Maaf, Mas. Dicari nggak ketemu lagi," sahutnya lirih.

Mendengar jawaban Hani, aku menghela nafas. Menatap penuh istriku lalu terkejut saat melihat pergelangan tangan wanita itu.

"Lho, Han ... itu tangan kamu kenapa? Kok merah dan baret-baret begitu?" tanyaku kaget dan cemas.

Namun, Hani hanya menggelengkan kepalanya. 

"Aku nggak kenapa-kenapa, Mas. Cuma jatuh aja di jalan tadi," sahutnya lirih seolah menyembunyikan sesuatu.

💗💗💗💗💗

Next nggak guys?