Panggung Sandiwara

Panggung Sandiwara


Atas kesepakatan Eun Sun, Heera dan orang tua keduanya, akhirnya pernikahan  langsungkan di rumah Liana. Pernikahan diselenggarakan dengan sangat sederhana. Pernikahan hanya dihadiri Liana, Myung Jun – ayah Eun Sun, kedua orang tua Heera, Hasana, Young See, dua orang saksi dan selebihnya beberapa orang teman dekat Liana. Eun Sun tidak mengundang satu orang pun dari temannya.

Tidak ada bulan madu, menginap di hotel atau jalan-jalan, Eun Sun dan Heera beralasan ingin fokus kuliah dulu.

Heera sedikit terhibur dengan kehadiran kedua orang tua beserta adiknya, Hasana. Setelah itu, ia juga harus menelan ludah kepahitan karena mereka tak bisa berlama-lama di Korea. Malam itu juga keluarganya harus kembali ke Indonesia.

Ia dan Eun Sun mengantar keluarganya ke Bandara.

“Jaga dirimu baik-baik. Hormati dan taati suamimu, begitu juga mertuamu. Insya Allah, hidupmu akan berkah. Allah akan bersamamu, Nak,” nasihat ibunya.

Tak kuasa Heera menahan deru di dalam hatinya. Segera ia memeluk ibunya dengan tangisan mengiris hati. Andai mereka memahami perasaannya.

“Lho, pengantin baru ko menangis?”

Ia berusaha menahan tangisannya. Sayangnya, makin lama makin deras air matanya.

Ibunya mendekap dan membelai rambutnya. “Ibu minta maaf karena meninggalkanmu secepat ini. Besok ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan oleh Ayah. Kamu mengerti, kan?”

Heera melonggarkan pelukannya. Sekuat tenaga ia menahan tangisnya.

Raihana mengangkat wajah putrinya yang sembab. Putrinya masih sesenggukan. “Sekarang kamu sudah punya suami. Dia akan mengisi hari-harimu. Hari-harimu akan lebih menyenangkan. Tersenyumlah!”

Heera berjuang keras agar bibirnya bisa tersenyum. Getir.

Raihana menarik tangan putrinya lalu menyerahkan kepada Eun Sun. “Jaga dia baik-baik!”

Eun Sun mengangguk, lalu menyambut tangan Heera.

“Dia adalah pakaianmu. Kamu akan bahagia bila kamu memeliharanya dengan baik dan penuh kasih sayang. Sebaliknya, jika kamu mengabaikannya, dia akan membuat hidupmu tidak nyaman. Bahkan bisa akan membuatmu terganggu akibat pakaian yang tidak kamu rawat.”

“Iya Bu. Saya mengerti,” sahut Eun Sun sambil mengangguk.

“Heera, kami pergi dulu, ya,” ucap Raihana kepada putrinya.

Heera mengangguk dan kembali berusaha tersenyum. 

Saat memeluk keluarganya satu persatu, ia merasa seakan-akan melucuti satu persatu kebahagiaannya. Perasaan itu semakin mencekam, seiring hilangnya orang tua dan adiknya dari matanya. Ia merasa sendiri. Eun Sun masih asing baginya. Liana tiba-tiba saja terasa asing baginya. Ia lebih suka Liana menganggapnya seperti dulu, daripada menganggapnya sebagai seorang menantu.

Bukankah ia tidak sendiri di Korea ini? Masih ada Young See dan Izam. Tapi kenapa ia merasa kesepian? Apakah sebenarnya ia mengharapkan kasih sayang Eun Sun, yang memang sepatutnya di dada laki-laki itu melabuhkan segala rasa lelah dan sepi?


***


Udara hampa benar-benar terasa merasuk dalam setiap pori-pori kulitnya. Ingin sekali ia berbuat sesuatu agar bisa keluar dari suasana itu. Sesekali ia menoleh ac di kamar itu untuk memastikan bahwa suhu yang cukup dingin.

“Maafkan, aku.” Eun Sun duduk di sampingnya. Heera mengangkat wajahnya menatap Eun Sun.

“Aku tau perkawinan ini berat bagimu.” Eun Sun menarik napas beratnya. Ia masih merasakan tangisan Heera di bandara tadi. Ia tahu, tangisan Heera bukan sekadar melepas kepergian keluarganya, melainkan karena harus melewati hari-hari yang berat. “Kamu jadi korban atas ketidakberdayaanku. Maafkan, aku.”

“Sudahlah, ini sudah terjadi.” ucap Heera lirih.

“Walaupun aku tak bisa memberikan cintaku padamu, setidaknya aku berjanji akan membuatmu nyaman di sisiku.”

Heera tersenyum ketir. Aku tak bisa memberikan cintaku padamu, kenapa terasa menyakitkan baginya?

“Sebaiknya kita istirahat. Aku lelah sekali.” 

“Kamu mau tidur di mana?” Eun Sun bergerak cepat mencegahnya ketika Heera hendak mengambil bantal.

“Eun Sun, aku ingin tidur di lantai saja.”

“Jangan. Tidurlah di sini. Kita tidur sama-sama.”

Heera memicingkan matanya. 

“Kenapa? Boleh saja, kan? Tuh tidak akan terjadi apa-apa.”

“Bukan begitu. Aku terbiasa tidur sendiri. Aku ….”

“Kamu harus coba,” potong Eun Sun

Heera menatap lekat wajah Eun Sun. Baru saja, Eun Sun menjelma laki-laki tak berdaya, kini sifat lamanya muncul lagi.

Eun Sun berdiri, meraih bahu Heera dan mendudukkannya di atas ranjang. “Kamu harus coba. Oke.”

Eun Sun hanya tersenyum lebar melihat wajah Heera yang merengut. Ia berputar, berbaring di samping Heera, lalu mematikan lampu. “Tidurlah.”


***


Liana menatap menantunya yang kelihatan rapi pagi ini. Sementara Heera sendiri, ia asik menikmati sarapan bahkan cenderung-cenderung tergesak-gesak.

“Kamu ada kelas pagi ini, Hee?”

Eun Sun berhenti sejenak mengunyah, menatap Heera, lalu kembali sibuk dengan kunyahannya.

“Tidak, Omma,” sahut Heera pelan setelah mulutnya benar-benar kosong. “Hari ini, saya sudah harus kerja. Saya cuma diberi cuti tiga hari,” sahut Heera tanpa berani menatap. Tepatnya, ia cuma meminta cuti tiga hari. Dua hari persiapan dan satu hari pernikahan. Sudah cukup. Bukankah tidak ada acara bulan madu?

Heera bekerja paruh waktu di sebuah toko serba ada milik keluarga Young See. Ia beruntung sekali karena keluarga Young See membebaskan memilih waktu kapan saja. Sepanjang ia datang dan bekerja dengan giat. 

Ia bekerja pagi hari jika tidak kelas hari itu. Setelah pulang dari kampus dan sampai jam sembilan malam. Biasanya ia pulang bersama Young See karena memang mereka bertetangga.

“Hee, apa tidak sebaiknya kamu berhenti bekerja. Kelihatannya kamu lelah sekali.”

“Omma, saya tidak apa-apa. Saya sudah terbiasa seperti ini.” Heera berdiri, mendekati Liana, lalu mencium tangan mertuanya itu. “Saya pergi dulu, Omma.”

“Iya, hati-hati,” ucap Liana dengan senyuman, lalu beralih Eun Sun. “Eun Sun, kamu antar dia.”

Heera menyadari kekagetan Eun Sun.

“Tidak usah, Omma. Saya pergi naik bus saja. Dah, Omma,” ucapnya sambil mempercepat langkahnya. 

Ia sengaja melakukan untuk menghindari pembicaraan yang lebih lanjut dengan Liana. Ia masih belum terbiasa berdusta.  Ia menghembuskan napas dengan keras setelah ke luar dari halaman rumah Liana. Seakan-akan ia baru bisa bernapas.

Sepeninggalan Heera, Liana menatap putranya penuh selidik. Eun Sun jadi salah tingkah ketika menyadari hal itu.

“Kenapa Ibu menatapku seperti itu?” tanya Eun Sun khawatir.

“Kenapa Heera tidak pamitan padamu? Kalian seperti bukan suami istri.”

Eun Sun menelan ludahnya. “Emm ... mungkin ia lupa. Aku duluan, Bu. Mau mandi dulu,” ucap Eun Sun bergegas tanpa menunggu jawaban ibunya.


***


Baru saja Heera keluar dari toko tempat dia bekerja, tiba-tiba ia mengenali sebuah mobil yang memasuki halaman toko tersebut. Ia mendekat setelah mobil terhenti sempurna.

“Eun Sun, kenapa ke sini?”

“Menjemputmu. Kita ke kampus sama-sama.”

“Kamu pergilah. Aku akan pergi bersama Young See.”

“Ada yang ingin kubicarakan.”

Heera terdiam. Ia memalingkan wajah ke arah pintu. Kebetulan Young See baru saja keluar dengan membawa tas.

“Kamu pergilah. Jangan khawatirkan aku!” ucap Young See seraya melambaikan tangannya.

“Tapi ….”

“Pergilah. Aku tak apa kok.”

Heera tersenyum tidak nyaman. “Baiklah, aku duluan ya.” Ia memasuki mobil setelah mendapatkan jawaban Young See dengan anggukan.

“Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanyanya setelah lama sama-sama terdiam.

“Tadi kamu pergi tanpa pamit padaku. Ibu mulai mencurigai kita.”

Heera berpikir sejenak sambil mengangguk. Ia memang tergesak-gesak karena menghindari banyaknya pertanyaan dari Liana. Ia tak menyangka, ternyata telah melakukan kesalahan lain.

“Sepertinya kita harus menunjukkan kemesraan di depannya.”

Heera menatap Eun Sun sambil menelan ludah. Sampai kapan ia akan terus melakukan kebohongan seperti itu? Sedangkan hari ini saja, telah membuatnya tidak nyaman. Kemesraan seperti apakah yang harus dilakukannya? Membayangkan saja membuatnya merinding.

Heera menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi di kantin kampus. Ia memejamkan mata. Badan terasa lelah sekali. Sendi-sendi tubuhnya terasa remuk. Tadi malam ia tak bisa tidur. Ia belum terbiasa tidur dengan orang lain, terlebih lagi Eun Sun, laki-laki yang sangat asing baginya.

Pembicaraan di mobil Eun Sun membuat tubuhnya semakin lelah. Seakan-akan ada sebuah beban yang menindih tubuhnya. Ia terhimpit dan tak bisa bergerak.

“Bagaimana malam pertamanya?”