Sebuah Harapan


Jangan lupa follow dan subscribe dulu ya. 🙏


Seorang gadis memakai dress biru berlengan lengan panjang dilengkapi  celana panjang berwarna senada memasuki kantin kampus. Sambil menarik napas ia menghampiri kantin yang menyediakan menu makanan siang yang beragam.


Ia mengamati ruangan kantin setelah bakinya terisi dengan makanan. Ia tersenyum lega ketika melihat meja ketiga dari tempatnya berdiri masih kosong. Tanpa ragu ia menghampiri meja tersebut.


Prangg …

Tanpa sempat ia cerna, tiba-tiba badannya tersungkur. Makanannya berhamburan. Meledak tawa beberapa mahasiswa di meja yang tak jauh dengannya. Semua mata yang ada di ruangan kantin itu tertuju padanya. Ada yang menatap kasihan dan tidak sedikit menatap sinis.


Ia menatap tajam mahasiswa-mahasiswa yang tertawa di dekatnya. Ia yakin, ada yang mencegat kakinya, dan mahasiswi yang tak jauh darinya adalah pelakunya.  Mahasiswi itu tertawa puas.


“Hei, apa yang kalian tertawakan?” tiba-tiba sahabatnya, Young See sudah ada di dekatnya. Young See menghampiri mahasiswi penyebab keonaran. “Kamu keterlaluan, Hwan Yeong! Apa salah dia?”


Mahasiswi yang disebut Hwan Yeong tertawa sinis lalu mengerdikkan kedua bahunya. Acuh tak acuh.


“Kamu …!” Young See semakin berang. Hampir saja ia menjambak Hwan Yeong kalau saja gadis yang tersungkur itu tidak mencegahnya.


“Sudahlah, Young See. Jangan permalukan dirimu di sini!”

“Dia keterlaluan, Hee!”


“Sudahlah.” Gadis itu menoleh ke arah seorang mahasiswa di samping Hwan Yeong yang juga tertawa. Melihat tawa ejekan pemuda itu, tiba-tiba saja cairan bening mengambang di kelopak matanya. Tatapan ejek pemuda itu lebih menyakitkan baginya. Ia mengerjap, menghalau bendungan itu supaya tidak tumpah. “Young See, maukan kamu mengambilkan makanan untukku? Aku ingin membersihkan makanan yang berserakan ini.”


Setelah Young See sahabatnya mengangguk, ia berjongkok. Entah datang dari mana, tiba-tiba ada tangan yang menyentuh benda sama.


Ia mengangkat kepalanya untuk melihat pemilik tangan itu. Seketika napasnya tertahan. Pemilik tangan berwajah ganteng khas India itu telah menawan matanya.


***


Seperti biasa, pulang dari kampus, Heera sering mengunjungi sahabat ibunya yang tinggal di Korea dan sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri, Liana. Apalagi ia hidup sendiri di Korea, keberadaan Liana sangat berarti baginya.


Sebelum masuk ke rumah, terlebih dahulu ia mendekati bunga-bunga mulai bermekaran di taman halaman rumah.


Di musim semi, ia sangat suka menatap kelembutan bunga Cherri blossom, menyentuh si cantik Forsythia dan Azalea. Kadang ia tidak sadar berapa lama berada di halaman itu.


Hanya menatap dan menyentuh. Ia tak suka memetik. Menurutnya sayang sekali kalau bunga secantik itu harus layu lebih cepat dari waktunya.


“Sudah lama, Nak?”

Ia terperanjat, lalu menoleh ke arah suara. Seorang wanita paruh baya telah berdiri di tengah pintu. “Eh, Omma. Assalamualaikum, Omma,” ucapnya seraya mendekat.


“Wa alaikum salam,” sahut wanita paruh baya itu, Liana. Seperti biasa ia akan menyalami tangan Liana dan menciumnya. Dan Liana akan menyambutnya dengan pelukan.


“Masuk, Nak!” Liana membimbing Heera ke sofa, lalu mendudukkan di sampingnya.

“Kelihatannya Omma cerah sekali. Secerah Forsythia di halaman itu. Saya boleh tau?” tanya Heera.


Wajah semringah Liana memang lain daripada biasanya.


“Iya, omma memang bahagia sekali. Tapi, sebentar dulu.” Liana beralih ke arah Bibi Chan yang tak jauh dari mereka. “Bi, tolong ambilkan minuman buat Heera, ya.”


“Baik, Nyonya,” sahut Bibi Chan lalu melangkah menuju dapur.

“Eh, Omma. Saya bisa ambil sendiri.”

“Sekali-kali, tak apa, Nak.”

“Terima kasih, Omma.” Heera merapatkan duduknya dengan Liana. “Ada apa sih, Omma? Bikin penasaran.”


“Tunggu sebentar. Minumlah dulu!” kata Liana, seakan ingin menenangkannya lebih dulu.

Tak lama datang Bibi Chan dengan segelas teh.


“Terima kasih, Bi,” ucapnya sambil mengambil gelas yang diletakkan Bibi Chan di hadapannya, lalu meminumnya.

“Nah, sekarang katakan, Omma!” Heera sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui apa yang membuat perempuan yang dipanggilnya Omma kelihatan begitu bahagia.


“Malam tadi, Omma ngobrol banyak sama ibu kamu di Indonesia.”

Heera semakin antusias ketika ibunya disebut.


“Omma ingin melamar kamu.”

Heera terhenyak. Ia tidak mempercayai pendengarannya. Bagaimana mungkin Liana yang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri ingin menjadikannya sebagai menantu. 


“Omma memahami, Ini terlalu mengejutkan buat kamu. Namun, besok atau lusa, sama saja, omma ingin kau menjadi bagian keluarga kami.”


“Omma, bukankah saya sudah merasa menjadi bagian dari keluarga ini?! Omma sudah menjadi ibu bagi saya di sini.”


“Iya, Omma pun sudah menganggap kau sebagai anak omma sendiri. Hanya saja, Omma menginginkan lebih dari itu. Omma ingin kau mendampingi putra omma,  Eun Sun.”


Tiba-tiba tubuhnya bagai tersengat listrik. Ia merasakan pori-pori kulitnya mulai basah. Kejadian di kantin, dipermalukan Hwan Yeong kembali memutar. Hwan Yeong dan teman-temannya tertawa mengejek dan di situ ada Eun Sun. Ia masih ingat bagaimana perasaannya ketika melihat tawa Eun Sun. Sakit sekali. 


Ia tak mengerti kenapa Eun Sun begitu terhadapnya, padahal ia sangat akrab dengan ibu Eun Sun?  Kenapa Eun Sun tak pernah menunjukkan muka bersahabat jika berpapasan dengannya?


“Lalu, apa kata ibu di Indonesia?” tanyanya bergetar.

“Asalnya ia tidak menyetujui kamu menikah secepat ini. Namun, setelah bicara panjang lebar, akhirnya ibumu menyetujuinya.”


Heera membuka mulutnya, lalu menutup kembali. Ini tidak mungkin.

“Ibumu bilang semuanya dikembalikan ke kamu. Bagaimana, Hee? Kamu mau kan menjadi menantu Omma?”


***



Terima kasih telah menemukan cerita ini. Semoga suka dan tetap setia dengan ceria Heera sampai ending.


Ikuti juga kisah lainnya:

Detak Cinta Shafura

Setelah Kau Pergi (Rumah Singgah Rumah Bahagia)

Ketika Rindu Bertasbih

Hakikat Cinta