2020
Sydney, 02-02-2020.

Akhirnya yang di takutkan terjadi juga. Dunia di ambang batas akhir umurnya, mungkin ini yang disebut akhir zaman.

Marcell menatap resah ke arah langit yang menghitam laksana malam. Padahal, ini baru saja pukul tujuh pagi hari. Setelah pagi tadi matahari terbit dari arah barat, menggetarkan seluruh umat manusia di dunia--salah satu  tanda akan terjadinya kiamat yang merupakan akhir dari kehidupan seluruh alam semesta, seperti yang tertulis di kitab suci.

Ummat panik, mereka berlarian ke sana-kemari, ada juga yang memakai kendaraan, mengungsi ke tempat yang lebih tinggi atau ke tempat yang lebih aman menurut mereka, untuk menghindari  bencana yang sebentar lagi akan berlangsung.

Marcell berjalan melihat keadaan sekeliling, suasana gelap membuat mata kesulitan untuk memandang sekeliling. Di arahkannya senter yang kini menjadi satu-satunya penerangan—setelah listrik ikut menjadi padam—bagi dirinya saat ini. Menyusuri setapak demi setapak jalan yang biasa di laluinya.

Tak hanya mengungsi, banyak juga manusia yang sepertinya pasrah menghadapi bencana, sibuk merapal doa yang bisa di ingat, sementara di sisi lain banyak yang frustasi menjerit-jerit dan menangis bagai orang gila.

Suara menggelegar berasal dari dalam tanah mengejutkan Marcell, tak lama berselang tanah retak dan terbelah. Menelan apa saja yang ada di atasnya, beruntung dia masih sempat menghindar mencari tanah yang tetap utuh, berpegangan pada sebuah tiang listrik yang masih bisa berdiri tegap.

“He—Help. Anybody,” lirih suara itu berucap, Marcell mencari asal sumber suara.

Melompat dari satu tempat pijakan ke tempat yang lain. Akhirnya, ia sampai ke sumber suara. 

Dilihatnya seorang bapak tengah bergelantungan di sisi—yang tadinya tanah datar, sekarang menjadi jurang yang menganga dalam. Seperti lukisan tiga dimensi yang selama ini sering dilukis Marcell di jalan-jalan kota Sydney seperti Pitt Street, dan jalan lainnya, menjadi tempat favorit orang untuk berselfie, kala itu.

Tapi sekali ini nyata, It’s real … ada seseorang yang tengah menanti uluran tangannya kali ini. Sigap Marcell mendekat dan segera mengulurkan tangan, mencoba menjangkau tangan lelaki tersebut. Dapat, dan dengan sekuat tenaga ia menarik lelaki itu.

“Thanks a lot, my Boy, kalau tidak kau tolong entah sudah jadi apa aku tadi,” kata lelaki paruh baya itu dengan napas tersengal-sengal.

“Your welcome, Sir. Kebetulan aku lewat dan mendengar teriakanmu. Apakah anda sendirian?” tanya Marcell juga masih dengan napas memburu. 

“Tadi berdua dengan seorang teman, tapi dia terperosok masuk ke dalam tanah yang terbelah,” sesal lelaki itu terlihat sedih.

“Oke, Sir. Terpenting sekarang adalah kita harus secepatnya mencari tempat yang aman, karena bahaya bisa mengancam kita setiap saat bila di tempat terbuka seperti ini,” saran Marcell. Lelaki tua itu mengangguk, setelah mengucapkan kata terima kasih sekali lagi, akhirnya mereka berpisah.

Langit yang gelap mendadak terang, sontak Marcell menengadahkan kepala. Terlihat olehnya lapisan langit yang terkoyak dihantam benda-benda langit besar yang segera turun menghantam tanah. Satu-dua benda itu berjatuhan, menimbulkan suara yang menggelegar dan semakin membuat kacau keadaan.

“Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi,” bisik hati Marcell bimbang, berlari ia mencoba menjauhi area yang menjadi ladang hujan meteor sekarang.

Namun malang, sebuah meteor kecil jatuh tepat di samping tempatnya berlari. Kau tau bagaimana rasanya saat seperti menerima serpihan granat? mungkin seperti itulah yang di rasakan oleh Marcell saat ini. 

Tubuh atletisnya terdorong hingga ratusan meter, darah segar mengalir dari luka yang terkoyak akibat terkena serpihan meteor. Marcell jatuh berdebam ke tanah dengan diselimuti debu dan tanah. Sejenak dia tak bergerak, pandangannya kabur, telinganya berdenging nyaris tak bisa mendengar apa-apa.

Keadaan menjadi semakin kacau, tanah terbelah menjadi-jadi melahap apa saja yang berada di atasnya, gedung, pohon, mobil bahkan manusia. Jerit tangis tak terbendung mengoyak langit, udara kotor bercampur debu dan tanah yang beterbangan, manusia bagai anai-anai yang beterbangan disapu gelombang kemarahan bumi.

Marcell mencoba bangkit, seluruh tubuhnya terasa remuk redam, namun tetap di paksakannya untuk berdiri. Tidak, dia tidak ingin mati di tempat ini. Tidak untuk sekarang. Dengan terseok-seok dia melangkah, kedua tangannya meraba-raba ke arah depan, karena jarak pandang yang terbatas. Sesekali dia tersandung pecahan bangunan, terjatuh dan coba bangkit.

Suara deru terdengar memekakkan telinga, Marcell terkejut setangah mati, dan langsung menatap ke sumber suara yang datang menghampiri.

Dinding air setinggi puluhan meter tiba-tiba datang meluluh lantakkan semua yang menjadi penghalang di jalannya, tak perduli tanaman, gedung pencakar langit yang begitu dipuja manusia keindahannya—dulu, serta manusia yang panik. Semua habis tertelan keganasannya.

“Tuhan, apalagi ini? Tak ada tempat untuk berlari, Tuhan maafkan angkuh dan sombongku sebagai kerdil ummat-Mu,” lirih doa itu di ucapkan Marcell, sebelum akhirnya tubuhnya hilang tertelan tembok air yang datang.
Tubuh lemah Marcell hanyut terbawa arus, ini seperti diving yang sering dilihatnya dalam acara tv. Rumah-rumah yang berada di dalam air, tubuh-tubuh tak bernyawa yang mengambang bersama arus dan kotoran. Berusaha melawan, saat keasadarannya bangkit, Marcell mencoba bertahan dan mencari permukaan air yang saat ini tengah menelannya.

Perih, matanya perih. Luka yang di dapat sebelum ini, tersiram air. Sekujur tubuh remuk redam itu bersusaha bertahan, dengan susah payah akhirnya ia sampai ke permukaan, tangannya menggapai-gapai apa saja yang bisa di jadikan pegangan. Tapi tak ada apapun saat ini, semua hilang tak berbekas.

Napas terakhir, Marcell pasrah, ia sampai di titik nadir. Tak ada lagi harapan hidup, “Tuhan, sampai di sini sajakah?” tanyanya putus asa.

Pandangannya kabur, tubuhnya terasa sudah benar-benar lemah tak bertenaga, ditatapnya sekali lagi cahaya mentari yang mencoba menerobos pekatnya awan hitam di langit, mungkin ini terakhir kalinya ia bisa menatap pemandangan seperti itu.

Secercah sinar tiba-tiba saja menghampiri netranya, deru suara baling-baling helikopter datang mendekat, samar-samar di tengah kasadaran yang hampir habis, dia melihat sosok lelaki yang pernah dia tolong sebelumnya.

Dengan lembut dia berbisik di telinga Marcell, “You’re save now, my Boy.”

Marcell tak ingat apa-apa lagi, yang ia rasakan tubuhnya seperti terangkat, tinggi dan tinggi.

* * *

Kututup gawai, dan kuletakkan di samping tubuhku. Aku sangat suka sekali menonton film dengan genre science fiction  yang mengangkat tema bencana,seperti 2012, The Day After Tomorrow, dan lain sebagainya. Menonton film yang seru nyaris dua jam membuatku haus.

Ah baiknya ambil air minum dulu.

Bangkit dari pembaringan,  namun tak jadi melangkah keluar kamar. Kamarku sekarang penuh dengan air, aku bagai tengah naik perahu saat ini.

“Alamak …!” jeritku.

“Tong, bantuin Enyak, nape. Maen hape mulu perasaan kerjanye,” gerutuan ibuku dari arah dapur mengagetkan.

“Tolongin apaan, Nyak?” jeritku tak kalah sengit dari dalam kamar, “ngangkatin barang-barang, ye?” sambungku lagi.

“Tolong siramin kembang di teras depan, Tong!” perintah Ibuku.

“Aelah, Nyak. Pan ujan, mana banjir lagi ni …,” protesku.

“Kan bisa pake payung, Tong!”

“Etdah, Nyaaak. Kagak nyambungnya kelewatan dah.” []

Baturaja, 19 Januari 2020.