KADO ULANG TAHUN SISKA
Siang ini Ratna tengah murung, hujan pun turun seolah turut merasakan kesedihan yang tengah di rasakan anak perempuan yang duduk di bangku kelas lima sekolah dasar itu. Di tangannya terlihat sepucuk surat undangan. Hari ini, sahabat terbaiknya Siska tengah ulang tahun. 

Teringat olehnya peristiwa beberapa hari yang lalu. Saat itu, Siska tengah membagikan undangan di dampingi olehnya. “Teman-teman. Nanti datang, ya ke pesta ulang tahunku,” kata Siska ramah sambil membagikan undangan ulang tahunnya kepada teman-teman di kelas. 

Siska memang terkenal sebagai anak yang ramah, tak heran banyak anak yang suka menjadi sahabatnya, tidak seperti Ratna yang cenderung tertutup dan pemalu, Ratna beruntung mendapatkan teman sebaik Siska.

“Wah undangannya bagus,” seloroh Budi si ketua kelas, Siska tersenyum.

“Sis, kalo undangan sebagus ini, nanti kadonya harus yang besar, ya?” tanya Wati si kacamata.

“Ya, jelas dooong,” ujar Siska riang, di ikuti tawa berderai seisi kelas.

Ratna terdiam, dia hanya menunduk dan perlahan kembali ke tempat duduknya. 

Di atas kursi dia terpekur sambil memilin ujung roknya. Teringat olehnya, bahwa dia tengah tak punya uang, mau meminta kepada ibu, tak sampai hati Ratna melakukan itu.

Ia tahu ibunya pasti sangat letih bekerja, sebagai orang tua tunggal membiayai ia dan Anto—adiknya—dengan membuka jahitan di rumah. Ratna tau ibu juga tengah kesulitan saat ini, order jahit tengah sepi, bisa makan dan sekolah saja sudah untung di masa sulit seperti sekarang ini.

“Hhh,” desah Ratna gusar.

“Hei, ada apa?” tanya Siska setelah selesai membagikan semua undangan yang ia punya, dan kini Siska tengah ada di samping Ratna.

“Ah enggak, Sis. Eh, sudah semua dibagikan?” tanya Ratna mengalihkan pembicaraan.

“Masih ada satu lagi,” kata Siska tersenyum misterius.

“Siapa?” tanya Ratna ragu.

“Kamu,” kata Siska sambil menyodorkan undangan berwarna pink bergambar frozen itu, “jangan sampai tidak datang ya, ingat! Aku marah lho.”

Ratna tersenyum, gusar.

Ulang tahun Siska jatuh pada hari ini, dan Ratna tak punya apa-apa, juga malu untuk datang ke pesta sahabatnya tersebut tanpa membawa apapun. Gusar, resah, cemas membawa Ratna ke alam mimpi, dan dia pun tertidur.

* * *

“Ratna, bangun, Nak. Ada Siska di depan mencarimu.” Ibu membangunkan Ratna, hari telah beranjak petang kala itu.

“Siska, Bu?” tanya Ratna seakan tak percaya.

“Iya, temui dulu,” kata Ibu lembut.

Dengan malas Ratna melangkahkan kaki ke ruang depan, di situ telah ada Siska dan Anto adiknya yang tengah makan kue. Melihat Ratna, Anto segera masuk ke dalam, dia sengaja membiarkan kakaknya agar bisa bicara leluasa kepada temannya.

“Hai, Rat. Kenapa kamu tidak datang?” tanya Siska tampak sedih.

Ratna menghela nafas panjang, “Aku … aku gak punya hadiah buat kamu, Sis,” aku Ratna lemah sambil terpekur menatap lantai rumahnya.

“Ooo … kiraian masalah apa, Rat.” Senyum di wajah Siska mengembang.

“Kamu tidak marah, Sis?” tanya Ratna seakan tak percaya.

“Marah, sih. Kamu kan temanku, tapi tidak datang ke pestaku, sejujurnya aku kecewa,” ujar Siska.

“Maaf,” lirih Ratna berucap.

“Sudah gak papa, Rat. Aku maafkan kok, harusnya kamu datang tadi, cuma kamu yang tidak datang,” ujar Siska menjelaskan.

“Habisnya, aku takut kamu marah dan kecewa, kalo aku sampe datang gak bawa hadiah. Karena katamu kemarin kalo datang harus bawa hadiah yang besar.”

“Ratna … aku cuma bercanda.” Siska tertawa geli, “masak kamu percaya sih,” ujarnya lagi, Ratna terpaku.

“Lagian kamu sudah menjadi hadiah istimewa bagiku.”

“Aku?” tanya Ratna ragu.

“Iya, persahabatan kita merupakan hadiah istimewa dari Tuhan,” ujar Siska sambil tersenyum tulus, Ratna terharu mendengar ucapan sahabatnya.

Sore itu pun mereka lalui sambil menyesap teh hangat dan potongan kue ulang tahun Siska. []

Baturaja, 25 November 2019