Bab 6
MATHEO PoV

      Aku melangkah cepat meninggalkan ruang meeting. Siang ini ada janji dengan anak-anak di studio. Biasalah. Apalagi kalau bukan menyalurkan bakat terpendam. Dua apa tiga kali gebukan cukuplah. Lumayan buat menghilangkan kejenuhan. Sudah seminggu ini aku tidak mampir ke sana. Dan kebetulan hari ini anak-anak akan kembali manggung di kafe. Sesuai jatahnya seminggu sekali.

Ingat kafe ingatan pun melayang pada si rese Rania. Karyawan terberani sepanjang sejarah hidup seorang Matheo. Bagaimana tidak? Disiram jus strawberry. Bisa hancur reputasiku jika orang-orang kantor sampai tau.

Beruntung cuma anak-anak RM Band yang ngeliat, meskipun geli tapi mereka tidak terlalu mempermasalahkan.

Ingat gadis itu seulas senyum terbersit di bibir. Sebenarnya ia gadis yang baik. Selama diperlakukan dengan baik. Sepertinya. Hanya saja perkenalan yang berawal dari sesuatu yang kurang berkenan terkadang membuat aku ingin balas mengerjai.

Bukan dendam. Hanya saja melihat wajah cantik yang ditekuk itu mendatangkan kesenangan tersendiri.

What Matheo? Lo bilang apa barusan? Wajah cantik ...? Emang cantik sih, sayangnya terlalu pendek. Semekot. Dan ia selalu mendelik saat dipanggil dengan istilah itu.

"Hei ... napa lo, Bro? Senyum-senyum nggak jelas."

Niko menepuk pundakku keras. Entah sejak kapan cecunguk satu ini masuk. Emang kebiasaan nih anak masuk nggak pernah ketuk pintu.

"Gue mau ke studio," ujarku langsung bangkit dari kursi putar itu.

"Lo senyum-senyum hanya karena mau ke studio? Emang ada apa di sana? Lo nyimpen cewek ya?"

"Cewek apaan? Jan gila lo."

"Terus ada apa?"

Aku menjawab tanya Niko dengan senyum, lantas menepuk pundaknya. 

"Selamat penasaran."

"Anjiir." Sahabat sekaligus orang kepercayaanku di kantor ini garuk-garuk kepala.

Saat menunggu lift ponsel di kantong celana berbunyi. Aku merogoh dan menatap layar pipih itu. 

Aldo.

"Bro, kita udah di studio nih!" teriaknya cempreng di sela suara berbagai alat musik yang dimainkan asal.

"Ya udah, lanjut dulu. Gue menuju ke sana."

"Lo udah sampai mana?"

"Masih di kantor. Baru mau turun."

"Eetdah! Kirain udah mau nyampe."

"Lha, yang mau latihan kan lo pada, ngapain juga nungguin gue."

"Nih, si bos kebanyakan gawai oleng ya? Lo kan ada janji ama produser rekaman itu," teriak Aldo lagi.

Aku menepuk jidat sendiri. Bagaimana bisa aku lupa? Surat perjanjian kontrak dengan produser rekaman tertinggal di rumah. 

Ini gara-gara si cebol Rania yang kesiangan. Jadinya kerjaanku juga ikutan berantakan.

Sejak kapan lo mengandalkan orang lain, Math? Biasa juga semua lo lakuin sendiri? Aku membatin, menyadari kalau aku mulai bergantung pada seseorang. Seorang Rania si gadis galak.

"Dia sudah di sana?"

"Sudah dari tadi!" teriak Aldo.

Sial nih anak! Sama bos kok nggak ada sopannya. Mentang-mentang teman sendiri. Bakal kena SP juga nih.

"Suara lo bikin kuping gue budeg, bege."

"Bodo!!"

Aku memelototi ponsel sekalipun tau tak ada muka Aldo yang menyebalkan di sana.

"Oke, gini aja. Kalau ia deal, nanti urusan selanjutnya di kantor. Yang penting mereka berkenan dulu."

Aku langsung menutup panggilan sambil melangkah masuk lift. Turun ke basemen. Baru keluar dari tempat parkir benda pipih persegi panjang itu berdenting, sebuah pesan masuk di WA.

[Bos, gue dah liat penampilan anak-anak. Untuk langkah selanjutnya gimana kalau kita bahas di kafe aja. Mumpung udah jam makan siang nih.]

Aku melirik jam tangan. Dari kantor jika harus mengambil berkas dulu ke rumah, balik lagi ke kantor lumayan menyita waktu. Sarannya boleh juga. Walau harus merubah agenda.

[Kafe mana?] 

Dia menyebutkan salah satu kafe di pinggiran selatan kota Jakarta. Tempat yang tidak jauh dari studio. Dari kediamanku juga masih bisa dicapai tepat waktu dengan melewati jalan alternatif. Semoga tidak macet.

[Sip. Satu jam lagi gue sampai.]

***

       Aku memacu kendaraan dengan kecepatan sedang melewati jalan utama setelah keluar dari jalur alternatif. Saat tengah berkonsentrasi pada jalanan, mataku menangkap sosok seseorang keluar dari sebuah gang kecil. Sudut sebuah kompleks perumahan.

Rania.

Apa yang dilakukan gadis itu di sini? Bukankah seharusnya ia ada di kafe? Atau mungkin orang lain yang mirip? Tapi mana ada orang yang mirip 99%. Wajah, postur yang semekot, baju yang ia kenakan tadi pagi. Semua sama.

Kalau saja aku punya banyak waktu.

Setelah selesai makan siang dan urusan dengan sang produser selesai, aku meluncur ke kafe. Rasa penasaran yang menuntunku ke sana.

"Bos, tumben mampir nggak bilang-bilang?" sambut Pak Andi.

Aku menatap orang kepercayaan itu dengan mata menyipit. Ia terlihat gugup. Aku yakin ia tengah berusaha menyembunyikan sesuatu.

"Ada perlu dengan Rania," sahutku to the point.

"Mana dia?" Aku melanjutkan sambil mengedar pandangan. Bersikap seolah tidak mengetahui apa pun.

"Anu, Bos. Rania ...."

"Kenapa? Ia baik-baik saja, kan?"

"Baik, Bos. Hanya saja gadis itu tidak ada di sini. Dia ijin setengah hari. Harusnya saat ini ia sudah kembali. Tapi nggak tau kenapa ...."

"Memangnya dia ke mana?" potongku tak sabar.

Pak Andi terlihat ragu. 

"Apa Pak Andi selalu mengijinkan karyawan kelayapan pada saat jam kerja?" tudingku sengaja memancing demi melihat wajahnya yang gugup.

"Tidak, Bos. Baru kali ini," sahutnya cepat.

Aku percaya.

Hanya saja apa alasannya. Seorang manager sekelas Pak Andi tidak akan sembarangan memberi izin bolos di jam kerja tanpa alasan yang kuat.

"Kita ke ruangan saya?" Ia menawarkan.

"Oke."

Aku melangkah mendahului pria paruh baya itu. Begitu sampai di dalam, ia langsung bercerita panjang lebar. Aku mendengarkan dengan seksama.

"Sebenarnya di sini tidak ada yang tau kecuali saya, Mas," ujar Pak Andi menutup cerita.

"Jadi Rania itu single parents?" Aku mengulang. Sekedar untuk meyakinkan diri. Entah kenapa ada sesuatu yang hilang di sini. Kecewakah? Entah!

Pak Andi mengangguk. Tak ada keraguan sedikitpun terlihat dari wajahnya.

"Suaminya ke mana?"

"Saya tidak tau, Mas," sahut pria itu lagi.

"Hanya waktu pertama kali kerja di sini sempat dengar kalau gadis itu telah menjalani kesendiriannya sejak hamil," lanjutnya.

Aku menatap Pak Andi antusias.

"Oh ya?"

"Sepertinya Mas Math begitu tertarik?"

Aku membuang muka. Terlalu kentara kah? Atau benar aku tertarik dengan gadis galak itu? Ah ... mana mungkin!

"Nggak. Cuma kagum aja. Dia gadis yang kuat kalau gitu."

"Sangat Mas. Makanya ia tidak pernah melewatkan kesempatan kalau ada lembur. Demi anak semata wayangnya."

Aku mengangguk menanggapi. Sesaat tercenung di ruangan Pak Andi. Sementara laki-laki itu telah berlalu. Pantas saja beberapa kali tanpa sengaja aku mendengar gadis itu menangis di kamarnya. Aku pikir cuma karena kesal. Gak taunya ...

Rasa bersalah tiba-tiba menyelinap. Disadari atau tidak aku menambah penderitaannya. 

Apa ada yang lebih sakit daripada ketika seseorang anak dipaksa berpisah dengan ibunya? Walau demi alasan mencari nafkah sekalipun. Apalagi ini cuma terjadi karena keisenganku.

'Math, sejak kapan lo mellow gini?'

'Aaahhh!'

***

      Sepanjang perjalanan aku tidak bisa fokus. Kata-kata Pak Andi selalu terngiang. Bisa bertahan hidup di tengah hiruk pikuknya kota metropolitan dengan tetap menjunjung tinggi harga diri adalah suatu hal yang tidak mudah. Dan Rania mampu melakukannya. Apalagi ia berjuang bukan untuk diri sendiri, tapi ada nyawa lain yang bergantung padanya. Sedikit saja ia rapuh maka semua akan berantakan.

Sampai aku meninggalkan kafe, gadis itu belum juga kembali. Tak apa. Malah lebih bagus. Ia nggak perlu tau kalau aku baru saja dari sana. Tepatnya ia tidak boleh tau kalau aku mengetahui tentang kehidupan pribadinya. Pasti gadis sok gengsi itu akan merasa tidak enak. Dan aku telah mewanti-wanti itu pada Pak Andi.

"Ingat! Jangan katakan apa pun padanya. Biar saja ia menganggap rahasianya masih aman di tangan Pak Andi."

"Baik, Mas."

"Bukannya apa, nanti ia malu."

Pak Andi menatap menyelidik. 

"Kenapa?"

"Saya rasa Anda ...."

"Sudahlah! Aku cuma merasa kasihan. Nggak usah berpikir macam-macam."

"Ya, Mas." Pria paruh baya itu tertawa kecil.

Namun masalahnya benarkah aku cuma merasa kasihan? Bukannya selama ini aku jarang sekali peduli masalah orang lain?

Aku menghela napas berat.

Tiba-tiba terlintas di pikiran untuk menyelidiki gadis itu lebih jauh. Aku masih mengingat dengan sangat detail gang yang dilewatinya tadi. Mumpung ia telah kembali ke kafe.

Atau baiknya di cek dulu di mana keberadaannya.

Aku segera meraih ponsel. Mencari kontak atas nama 'cebol' di aplikasi WhatsApp.

[Lo di mana?]

Menunggu sedetik, dua detik, tiga ..., contreng dua langsung berubah biru.

Terlihat di bagian nama pengguna tulisan 'cebol sedang mengetik. Dua detik kemudian ....

[Ya di kafe lah.] Ditambah emot mendelik.

Gadis ini.

[Yang sopan, ini bos lo.]

[Bomat.]

Astaga nih orang.

Baru kali ini ketemu karyawan, cewek, janda pula, tapi songongnya melebihi Miss Universe.

[Mau pilih mana? Potong gaji atau hukuman nambah jadi tiga bulan?]

[Jangaaaan! Ampun bos ganteng. Masa gitu doang ngambek cih?] 

Aku menutup aplikasi. Makin diladeni makin ngelunjak dia. 

Setelah memastikan gadis itu tidak di rumahnya, aku segera menuju ke sana. Apa yang dikatakan Pak Andi harus ada pembuktian. Bisa saja kan ia menyuap lelaki paruh baya itu? Hari gini tak ada yang tak mungkin.

Setelah bermacet ria selama satu jam, aku sampai di depan gang yang tadi Rania lewati. Masalahnya sekarang aku kebingungan mencari lahan parkir. Celinguk kiri kanan, ada minimarket yang tidak jauh dari gang. Aku memutuskan untuk memarkirkan mobil di sana.

Lalu dengan berjalan kaki menelusuri gang sempit yang kalau ada motor lewat terpaksa memepeti tubuh ke tembok. Kecuali rela tubuh kena senggol stang motor.

Berjalan sekitar 200 meter, aku menemukan kontrakan yang ukuran depannya kurang lebih 3 meter pada masing-masing petakan. Cat dinding sudah terlihat memudar dan bahkan terkelupas dimakan pergantian cuaca.

Ada 4 pintu.

Aku tidak tau yang mana kontrakan Rania. Beberapa meter di sebelah kiri makin ke dalam pun ada beberapa rumah dan kontrakan yang nyaris sama.

Saat celingak-celinguk di halaman yang hanya berukuran 1,5 meter kali panjang kontrakan, seorang wanita berusia kitaran 30 tahunan keluar dari salah satu kontrakan tersebut. Ia menatap curiga.

'Eelaah! Emang gue ada tampang penjahat gitu?'

Sebelum pikirannya melanglang buana aku segera bertindak.

"Maaf, Mba. Saya mau bertemu Rania. Dia tinggal di salah satu kontrakan ini, 'kan?" tanyaku ramah.

Tatapan yang tadi menyelidik perlahan meredup. Ia menyambut uluran tanganku ramah. 

"Benar, Mas. Saya saudaranya. Dengan siapa ya?"

"Oh saya ... Theo, Mbak. Temannya Rania."

Meski asal comot, tetap itu namaku, walau tak seorang pun yang memanggil demikian.

"Teman?"

"Satu tempat kerja."

"Lha, Rania sudah berangkat dari tadi Mas. Harusnya sudah sampai."

"Udah berangkat? Kok dia nggak nunggu saya ya, padahal udah janji." Jelas-jelas aku berbohong. Demi apa?

Entah!

Wanita itu menatap bingung. Antara percaya dan tidak sepertinya. Beruntung sosok bocah perempuan usia kurang lebih 3 tahun muncul dan langsung ngelendot di kakinya. Sepertinya bocah itu baru bangun tidur.

"Nda, Mami ...?"

"Mami kerja, Sayang."

"Mamiiii ...."

Bocah itu mulai menangis. Membenamkan kepalanya ke pangkuan wanita yang berusaha membujuknya.

Aku menatap wajah putih bersih itu dengan cermat. Alis tebal tertata rapi dan sorot mata terasa begitu familiar. 

"Anaknya Rania?" Aku menebak.

"Benar, Mas. Kasihan anak ini. Ia harus ditinggal berhari-hari karena bos maminya yang kurang ajar itu memaksa untuk menjadi asisten pribadi."

Jleb!

Haruskah aku katakan si kurang ajar yang ia maksud tengah ada di depannya?

'Kenapa emang Math? Lo nggak terima?'

Jika ingin tahu seperti apa penilaian orang terhadap dirimu maka menyamar lah menjadi orang lain. Kata-kata ustad pada saat mengikuti shalat Jum'at tempo hari terngiang.

Karena saat itu mereka akan mengatakan hal yang paling jujur tentangmu.

Oke!

'Lo dengar kan, Math. Bos kurang ajar.'

Next ....