Bab 2


     Jadi asisten pribadi seorang CEO tampan. Mungkin posisi yang terdengar cukup menggiurkan bagi banyak wanita. Tentu saja selain mengharapkan pundi-pundi, ada kebanggaan tersendiri. Kali aja bisa mendapatkan perhatian lebih. Dijadiin pacar misalnya. 

Sayang dengan kondisiku saat ini, semua angan itu sudah lama aku kubur. Apa yang jadi prioritas saat ini bagaimana perut kami terisi. Yang penting halal. 

Yang jadi masalah sekarang, bagaimana aku menjalani hukuman ini tanpa menyia-nyiakan Vivian? 

"Ayo pulang!" Ucapan laki-laki itu memutus lamunan. 

"Pulang? Ke mana?" Aku seperti orang ambigu.

"Ya ke rumah gue lah!" Tatapan itu begitu datar, "Jalani hukuman lo."

"Tapi ...."

"Sekarang, Rania!"

Allahu. Ini orang apa bukan sih?

"Gue masih kerja."

"Lo lupa tengah berhadapan ama siapa?" Sebelah alisnya terangkat.

Nah, begini nih. Mentang-mentang bos, bebas. Tapi nggak gitu juga kali. Biar bagaimanapun aku punya tanggung jawab yang harus dikerjakan.

"Malah ngelamun. Lo mau dipecat tanpa pesangon?"

Aku menatapnya kesal. Bukan. Tapi benci yang mulai menjalari seluruh urat nadi. Andai saja aku punya pilihan, nggak bakalan sudi bekerja dengan orang sepertinya.

"Lo keluar. Gue mau ganti baju." Akhirnya aku berucap, mengalah. Terpaksa mengalah tepatnya.

Dia menatap dari atas sampai bawah. Refleks aku menarik rok yang terbilang pendek menurutku. Sejengkal di atas lutut. Sejujurnya aku kurang nyaman dengan pakaian ini. Namun bagaimana lagi? Sudah suatu keharusan. Dipikir-pikir gimana mungkin nggak terjadi pelecehan.

Dia terkekeh pelan melihat wajahku yang mungkin telah memerah.

"Paan sih?" Aku mendelik.

"Lo tenang aja. Gue nggak bakalan nafsu," ujarnya. Lalu segera melangkah keluar ruangan.

Anjriit!

***

   
       Mobil pria itu berhenti tepat di pelataran parkir sebuah butik yang menjual pakaian pria dan wanita. Aku tau dari logo dan merk yang terpampang besar di bagian depan.

"Turun!" Ia memerintah begitu melihatku yang masih anteng duduk di jok belakang.

"Saya?" Menunjuk diri sendiri.

"Ya iyalah! Emang ada orang lain di sini," sahutnya jutek.

Aku cemberut. Mendadak merasa jadi orang tolol. Dan itu sama sekali nggak enak.

"Oh ya, gak usah terlalu formal," ujarnya lagi. Tatapan itu tetap sama. Datar.

Maksudnya apa?

Namun aku tak akan bertanya. Karena yakin ia juga tidak akan menjelaskan apa pun. Setelah mengucapkan kalimat itu ia melangkah turun.

Apa karena aku menyebut diri 'saya' tadi? Ah sudahlah! Bagus kalau gitu mah. Jadi nggak perlu merasa sungkan.

Aku terseok mengikuti langkah panjangnya masuk ke toko. Menyebalkan! Seumur hidup baru kali ini aku dianggap kacung. Gini-gini kan gengsi bagiku di atas segalanya.

"Jalan lo kek keong, lelet amat sih?"

Ia berhenti tepat di depan pintu.

"Ya udah, kalo lo gak sabaran masuk aja ndiri. Gue tunggu di sini," sahutku kesal.

Siapa yang nggak kepancing coba. Udah tau kakinya panjang, jelas aja langkahnya lebar. Nah ... aku?

"Terus siapa yang bawain belanjaan?"

"Ya elo lah. Yang belanja kan lo," sahutku santai.

Pemuda kurang ajar itu berkacak pinggang. "Apa perlu gue ingetin lagi?"

Kalau saja tidak malu, ingin rasanya aku menangis di tempat ini. Menyesal, kenapa tadi aku terima tawaran Pak Andi. Apalagi kemungkinan besar malam ini aku tidak akan bertemu Vivian.

Duh! Gini amat ya nasib gue.

Setelah mengucapkan kata itu ia menggamit tanganku. Lebih tepatnya setengah menyeret. Dengan sebelah tangan yang bebas ia mendorong pintu kaca.

Beberapa wanita cantik berseragam menyambutnya dengan wajah berbinar. Nyata sekali mereka saling cari perhatian pada pemuda yang hingga saat ini aku tidak tau siapa namanya.

"Waah, tumben nih, Boss?" Salah seorang dari mereka menyapa. Lalu mendekat.

"Ada angin apa nih?" lanjutnya sok akrab setelah sekilas melirikku dengan tatapan jutek. Eelaah, songong banget nih anak. SPG doang juga.

Lantas melirik tangan yang tengah menggenggam telapak tanganku. Ia terlihat tidak senang. Berbeda ketika menatap wajah pria yang ia panggil 'boss', senyum-senyum nggak jelas langsung ia umbar. Bahkan tanpa malu-malu menggandeng sebelah tangannya yang bebas.

Dih! Ganjen. Mau-maunya menjatuhkan harga diri di hadapan ... siapa ya? Ah, bodo amatlah. Bukan urusanku.

Aku menarik tangan yang masih dalam genggamannya. Bukan karena gak enak dengan SPG itu. Tapi memang aku sendiri yang merasa risi. Bukannya melepas ia malah makin menggenggam erat.

"Tolong bantu gadis ini mencari beberapa pasang pakaian yang cocok," pintanya pada SPG yang masih kecentilan itu.

Aku menatap si boss songong, "Gue? Bukannya yang mau ...."

"Buruan lo pilih, gue nggak punya banyak waktu," potongnya.

"Gue nggak mau."

Jika ia boleh galak kenapa aku nggak? Peduli amat ia siapa. Eh, tapi aku peduli sih. Gimana nasib Vivian jika aku harus kehilangan pekerjaan.

Ia menatap lekat. Harus kuakui tatapan itu tak terbantahkan. Pantas di usia yang relatif muda, ia sudah bisa memposisikan diri menjadi salah seorang pemegang saham. Mana perusahaannya cukup diperhitungkan di kota ini.

"Emang siapa dia, Math?"

Entah kapan datangnya tiba-tiba di tengah kami telah berada seorang perempuan tinggi semampai, berkulit putih pucat menurutku. Wajahnya? Ya jelas cantikan aku lah. Cuma dia menang tinggi doang.

Sepertinya ia manager butik ini. Sementara perempuan tadi masih berdiri di sebelahnya. Tapi tak lagi menggandeng. Malah wajah sang SPG terlihat sedikit memucat. Aku tahu sekarang. Ada persaingan terselubung di antara keduanya. Heeleeh!

"Yang pasti saat ini ia calon customer kalian," sahut sosok yang dipanggil 'Math' itu.

"Tunggu apalagi? Bantu dia," ujar sang wanita kepada Mbak SPG sembari menunjukku dengan isyarat gerakan kepalanya.

"Baik, Bu." SPG itu mengangguk patuh.

"Mari, Mbak."

Aku menatap Math. Entah Math siapa namanya. Matheus kah, Mathew kah atau siapalah. Ia mengangguk. Setelah itu berjalan beriringan bersama wanita tadi. Entah ke mana. Lagi apa peduliku?

"Silakan, Mbak." Ucapan sang SPG  membuyarkan lamunan.

Aku melangkah mendahuluinya dengan dagu sedikit terangkat. Songong. Kapan lagi coba bergaya ala-ala orang kaya.

Dalam hati berucap, "Akhirnya lo layani juga kan gue?"

Ragu aku memilih satu stel pakaian yang paling sederhana. Dan yang pasti lebih murah, menurutku. Karena aku tidak menemukan harganya. Lagi pula aku tak ingin hasil kerja keras selama satu bulan ke depan hanya habis buat bayar hutang.

"Cukup satu, Mbak?"

Aku mengangguk.

"Tapi tadi ...."

"Saya hanya butuh satu stel. Kalau ada sekalian ama dalaman," potongku tegas.

Lagi pula buat apa coba. Nanti juga aku bisa pulang mengambil pakaian jika seandainya laki-laki itu memaksa tinggal di rumahnya selama jadi asisten pribadi.

"Baik, Mbak."

Tidak berapa lama Math keluar dari ruangan sang manager. Ia telah berganti pakaian. Aku tertegun. Tidak bisa dinafikan, laki-laki ini punya pesona yang kuat. T'shirt yang tadi belepotan jus strawberry telah berganti dengan kemeja warna ungu. Kedua lengannya digulung hingga ke siku agar tetap terlihat santai.

"Eheemm."

Aku membuang wajah yang mungkin sudah semerah tomat.

"Sudah?" Ia bertanya pada sang SPG.

"Sudah, Boss."

Ia melangkah ke kasir. Merogoh kantong celana dan mengeluarkan dompetnya. Petugas kasir mengambil pakaian yang tadi kupilih. Saat akan menghitung ....

"Apa ini? Kok cuma satu?" Ia menatapku gusar.

"Cukuplah buat sekali ganti," sahutku asal.

Ia menatap SPG yang tadi membantu.

"Kamu udah tau ukurannya, 'kan? Tolong pilihkan beberapa."

"Iya, Boss." SPG itu melirikku sekilas dengan tatapan sengit. Entah iri, entah merasa direpotkan. Lagian bukannya melayani tamu adalah pekerjaannya. Kenapa harus merasa direpotkan coba.

"Lo buang waktu gue," desis Math berbisik. Geram.

"Bodo." Aku membuang muka.

"Lagian gue nggak mau ya jika nanti gaji gue cuma habis buat bayar hutang," sahutku juga berbisik.

"Dasar bodoh! Siapa yang minta lo bayar hutang. Sebulan gaji lo belum tentu cukup buat bayar satu baju ini."

"Whatt?!"

Laki-laki itu tanpa sadar membekap mulutku.

"Pelanin suara lo. Bikin malu aja," sungutnya.

"Emang berapa harganya? Gaji gue jutaan lho. Pokoknya gue nggak mau ya hutang budi ama lo." Aku terus nyerocos meski masih tetap bisik-bisik.

"Udah diam!"

Senyum Mbak kasir yang melihat tingkah kami langsung terhenti saat mendapat tatapan tajam Math. Ia lantas pura-pura merapikan baju yang tadi belum sempat dibayar.

"Lo tunggu di sana!" perintahnya. Menunjuk sofa yang ada di ruangan dengan dagu.

"Ogah."

"Lo mau makin kuntet berdiri lama."

Sial! Mana ada orang menjadi kuntet karena kelamaan berdiri. Kalau ada mereka yang kerjanya berdiri setiap hari makin hari makin pendek dong.

"Lo ...." Aku mendelik.

Namun tetap mengikuti apa yang ia mau. Dengan kaki yang dientakkan dan bibir manyun, aku berjalan ke arah yang ia tunjuk. Tapi masih sempat melirik wajah tengil itu tersenyum kecil. Benar-benar menyebalkan!

Tak berapa lama sang SPG datang membawa beberapa stel pakaian yang tadi diminta Math. Bagus. Seleranya lumayan ternyata. Tapi berapa harganya?

Setelah selesai transaksi ia menoleh ke arahku. Memberi isyarat untuk mengikuti langkahnya keluar. Kedua tangannya penuh dengan tentengan paper bag. Kenapa jadi banyak sekali.

Aku mengikuti dari belakang dengan senyum-senyum. Yang bos itu dia apa aku sih? Kenapa malah aku yang dilayani? Dan langsung pura-pura cuek saat ia menoleh ke belakang.

"Buruan, Keong. Gue ada acara lagi setelah dari sini."

Kamp ....

'Ya Tuhan, beri hamba kesabaran'.

"Duduk di depan! Emang gue sopir lo," ujarnya ketus saat aku membuka pintu belakang.

"Tapi tadi ...?"

"Tadi itu banyak karyawan yang liat. Udah buruan, jangan banyak tanya!"

Jadi ia gengsi ketahuan jalan ama karyawan? Maksudnya apa coba? Lagian yang mau ikut ama dia siapa? Ge-er amat! Makin gedeg aja liat mukanya.

"Ogah!" sahutku membuang muka.

Belum tau dia siapa Rania.

"Oke. Terserah lo. Tapi jangan salahin gue jika hukuman lo jadi nambah dua bulan."

"Whatt!"

Secepatnya aku membuka pintu depan dan buru-buru masuk ke mobil. Sekilas aku melihat senyum licik terukir di bibir itu.

Awas lo.

Next ....