Bab 4

     Aku membalikkan tubuh berkali-kali. Sudah lewat jam 12 malam, tapi mata belum juga bisa terpejam. Ranjang yang nyaman pun sama sekali tak menggoda mata ini agar terlelap.

Pikiranku tak bisa lepas dari Vivian. Ini kali pertama tidur malamnya tanpaku. Bocah 3 tahun itu pasti takkan bisa tidur dengan nyenyak. Karena kebiasaannya setiap kali tersentak ia akan menyelipkan kepala di bawah ketiakku.

"Mami, iyum n*n*n." Kata itu selalu terngiang. Padahal yang ia cium itu hanya baju. Yang penting asal nempel ke maminya.

"Maafkan Mami, Nak." Aku menggumam. Lirih.

Puas bolak-balik kiri kanan, duduk tidur, duduk lagi sambil memangku lutut, akhirnya aku beranjak. Beralih ke kursi meja rias. Makin terasa menyiksa saat cacing di perut ikut berkoar. Baru ingat, dari siang aku belum makan apa pun. Kesal dengan ulah Math aku menolak saat ia mengajak makan malam.

Mau nyari makanan ke dapur, malu. Secara aku orang baru di tempat ini. Menahan sampai pagi? Pasti sangat tersiksa.

Aku menyambar tas tangan yang ada di nakas. Biasanya selalu ada roti atau biskuit untuk cemilan tersimpan di sana sebagai cadangan.

Sial!

Ternyata tak ada apa pun lagi yang tersisa.

Bagaimana ini?

Pernah dengar istilah lebih baik ribut dengan orang daripada harus berantem dengan cacing di perut? Kayaknya kali ini aku sepakat.

Dengan menepikan rasa malu kaki ini melangkah ke dapur. Kulkas. Siapa tahu ada makanan siap saji atau buah-buahan yang nyempil di sana. 

Namun saat membuka pintu kamar, aku kembali berbalik. Sayang keberadaanku telah terlihat olehnya. Baru tahu kalau ternyata kamar kami bersebelahan. Belum sempat pintu itu kembali tertutup Math lebih dulu menahan dengan telapak tangan.

Aku gugup ... dan juga takut. Pikiran buruk terlintas begitu saja. Bayangan peristiwa empat tahun yang lalu kembali berkelebat. Jangan sampai peristiwa yang sama kembali berulang dengan pria yang berbeda. 

Jika di masa lalu terjadi atas nama cinta, bisa saja kali ini karena adanya kesempatan.

***

          Rio datang ke rumah dalam keadaan sempoyongan. Ia meracau. Bau alkohol menguar ketika ia berbicara. Dari ocehannya aku tau ia baru saja bertengkar hebat dengan sang bunda. Apalagi kalau bukan masalah restu yang tak kunjung diperoleh. 

Kami baru saja selesai UN, jangankan bekerja ijazah SMA pun belum diperoleh. Orang tua Rio ingin pemuda yang telah dipersiapkan untuk mengelola salah satu perusahaan keluarga itu menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu. 

Namun baik Rio maupun aku sangat tau, alasan sebenarnya karena perbedaan status sosial yang sangat mencolok. Beribu alasan yang dikemukakan oleh mamanya sama sekali tidak membuat pemuda itu berhenti mengejarku.

Bahkan ancaman segala fasilitasnya dicabut pun tidak diindahkan. 

Pada pemikiran pemuda 18 tahun itu, menikah bukanlah penghalang sebuah cita-cita. Bukankah adanya tanggungan akan membuat ia makin semangat? Terlebih menikah atas dasar cinta. Sesuai pemikiran remaja seusianya yang tengah dimabuk asmara.

"Mungkin orang tua lo benar. Kita masih terlalu muda, Rio."

"Lalu kenapa?" Ia menatap dengan mata memerah.

"Matang itu bukan karena usia, tapi pemikiran."

"Tapi kita tak mungkin melangkah tanpa restu. Gue gak mau," tegasku.

"Pilih mana pacaran dengan grepe sana sini atau menikah dan hubungan menjadi halal?"

Jleb!

"Apaan sih?" Wajahku memerah. Mungkin karena setengah mabuk maka ia dengan gampang berbicara seperti itu. 

"Gue serius Rania. Dengan hubungan kita yang sedekat ini siapa yang bisa jamin kita tidak bakal salah langkah?"

Rio menatap tepat di manik mataku. Tatapan itu luruh. Ia terlihat sangat menderita. Siapa yang tega melihat kekasihnya seperti itu?

Entah siapa yang memulai kami saling memeluk. Menangis bersama, meratapi cinta yang telah begitu kokoh tapi tak mendapat restu. Ini tidak adil. Haruskah rasa yang tulus ini kandas hanya karena perbedaan status sosial yang dianggap begitu penting oleh mereka yang gila kehormatan.

Pelukan yang diawali rasa simpati itu perlahan berubah menjadi rasa saling memiliki, menuntut untuk berbuat lebih hingga akhirnya mencicipi. Menikmati debar yang bukan lagi dirasakan oleh hati, tapi didominasi tubuh itu sendiri. 

Ini bukan lagi semata karena cinta, tapi nafsu telah ikut serta. Hingga sore yang redup itu menjadi hari terlaknat dalam hidupku maupun Rio. Dimana menjadi awal penderitaan tak berujung. Terjadi hanya sekali. Tapi membekas hingga saat ini. 

Bahkan mungkin sampai mati.

Teori yang ia ucapkan jadi kenyataan. Menyesal? Sangat! Tapi takkan mengembalikan keadaan. Bukan untuk mencari pembenaran. 

Namun jika keadaannya demikian pantaskah hanya anak-anak yang dipersalahkan?

***

         Keringat dingin mengucur di pori-pori. Ketakutan akan peristiwa buruk itu kembali terulang, refleks membuatku mundur beberapa langkah. Mungkin wajahku telah pias.

"Lo mo ngapain?" tanyaku gugup.

"Eelaaah, gak usah segitu paniknya kali. Gue gak akan perkosa lo kok, kan tadi udah bilang, 'gak se-le-ra'," sahutnya santai.

Kuraj emang!

Dia pikir aku selera apa ama dia. Sok ketampanan. Eh ... tampan sih. Sayangnya bukan tipeku juga. 

Impas 'kan?

"Terus ngapain lo nahan itu pintu?" Aku mendelik.

"Jan ge-er. Gue cuma mau bicara." 

"Paan?" sahutku ketus.

Biarpun aku nggak suka dia, bahkan benci malah, saat kita disebut kege-eran tetap aja rasanya nyesak.

Terbukti! Wanita itu suka dipuji. Tak peduli pujian itu datang dari musuh atau kah orang tersayang.

Etdah!

Aku menghela napas panjang. Lega. Ternyata aku yang terlalu 'parno'. Atau mungkin trauma. Entahlah!

Math menatap menyelidik. Mata elang itu sedikit menyipit.

"Lo kenapa?"

"Nggak. Udah sana, gue mau ...."

"Lo bisa masak? Gue lapar."

"Bukannya tadi lo makan?" Aku menatapnya heran.

"Lapar lagi."

"Lapar lagi? Lo taruh di mana itu makanan?" lanjutku asal.

Berlagak seolah aku yang bos dan dia karyawan. Bukan tak tau diri. Tapi itu bagian dari caraku menyalurkan kesal. 

"Bukan urusan lo. Perut, perut gue ...."

Fix! 

Ia mulai menekankan tentang kapasitas masing-masing.

"Sekalian aja bilang, uang, uang gue, rumah, rumah gue."

"Nah, itu lo tau."

Aku terdiam. Benar-benar diam. Dulu saat mama Rio datang ke rumah dengan tujuan hanya untuk menegaskan di mana posisi kami, saat itu aku bersumpah. Takkan pernah lagi ada yang menghina keluargaku hanya karena tak sebanding dengannya. 

Aku kembali menutup pintu. Jengkel. Sekalian dibanting kalau bisa. Tapi lagi-lagi ditahan.

"Gue bisa makan orang kalau lagi lapar. Lo bersedia jadi santapan gue, emang?" Matanya menatap lekat.

"Dan jangan lupakan apa yang menjadi alasan lo berada di sini," lanjutnya dingin.

Bolehkan aku nangis? Tidak! Seorang Rania tidak secengeng itu.

'Angkat dagumu, Ran. Jangan biarkan siapapun yang coba menekanmu. Apa karena ia bos? Lalu kenapa emangnya?'

Spirit yang datang dari dalam itu cukup mengembalikan seorang Rania yang hampir saja kehilangan jati diri.

Membalas tatapan yang memancarkan ketegasan, bahwa ucapannya adalah titah yang harus dijalankan? Mungkin! Tapi itu tidak berlaku untukku. Walau sedikit bergidik sebenarnya.

Kalian tau arti kata 'memakan' yang keluar dari mulut seorang laki-laki. Gak mungkin memasukkan cewek ke mulutnya 'kan?

Mengingat hal itu aku mempersiapkan diri. Berancang-ancang kalau sekiranya tiba-tiba ia menerkam. 

'Ayo, Rania. Siapkan kakimu! Kalau ia macam-macam tinggal tendang saja selangkangannya'.

Mana main perintah seenaknya lagi. Dan itu membuatku jengkel. Makin ia bersikap bossy makin besar rasa benci ini. Intinya aku alergi dengan orang yang bersikap arogan. 

Tapi apa aku layak membantah? Sementara aku memang membutuhkan uluran tangannya? 

Faktanya semakin banyak harta seseorang, semakin tinggi harga diri yang ia punya. Semakin seenaknya ia memperlakukan orang lain. Aku sangat menyadari itu.

Akhirnya tanpa mengucapkan apapun aku berjalan melewati pemuda itu. Ada perih yang menghujam. Mengingatkan arti perbedaan sebuah status. Miris memang.

'Lo harus tau diri, Rania'.

***

    Jujur, berduaan dengannya di malam buta seperti ini jelas membuat risi. Terlebih tatapan itu sama sekali tak mau lepas dari semua gerak-gerikku. Entah apa yang dipikirkannya.

Yang kulakukan hanya berpura-pura tidak menyadari. 

Selesai memasak spaghetti saus bolognese yang serba instan aku menyendok pada sebuah piring. Lalu menyodorkan pada si boss.

"Buat lo?" Ia bertanya.

Aku menggeleng. "Gue nggak lapar."

Pria itu meletakkan sendok dan garpu dengan kasar. Lalu menatap lekat.

"Jika lo mau protes, lakukan dengan cara yang elegan. Gue nggak akan ngurusin mayat orang yang bekerja dengan gue jika matinya bunuh diri."

Astagfirullah, nih orang. Bukan saja sikapnya yang arogan, tapi omongannya juga tajam dan pedas.

Entah kenapa sensitivitasku mendadak tinggi. Rasa rindu akan Vivian membuat pikiran jadi semrawut. Ditambah lagi ucapan lelaki itu yang kasar, serasa mengiris hingga ke tulang sumsum. Perih. Tanpa sadar air mata merembes begitu saja. 

"Gue tau lo keluar kamar karena lapar 'kan? Lantas kenapa harus gengsi?"

Suaranya melunak begitu menyadari ada bening yang menyeruak.

"Sekarang lo makan! Setelah itu tidur, besok pagi-pagi sekali lo harus sudah bangun. Siapin segala keperluan gue."

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Math bangkit. Tanpa menoleh lagi ia melangkah cepat meninggalkan dapur.

Aku menatap punggung lebar itu menaiki anak tangga, melongo.

Ada apa dengannya?

Next ....