Bab 7

          

        Mataku menatap nanar layar pipih yang berdendang tiba-tiba itu. Dengan perasaan deg-degan mengusapnya untuk menyahuti panggilan. Harusnya aku sudah ada di kafe sejak setengah jam yang lalu. Berhubung Vivian yang rada rewel, aku terpaksa ingkar janji. Semoga saja Pak Andi bisa memaklumi. Meski kemungkinan kecil sih, ia tidak marah.

"Rania, jam berapa ini?"

Nah ... kan?

Teriakan Pak Andi di ujung telepon nyaris memekakkan telinga. Nggak bisa apa lebih pelan dikit. Mentang sendirian di ruangan bebas ngapain aja. Dikata hutan belantara?

"Ini udah di jalan, tau sendiri Jakarta macetnya bagaimana. Parah, Pak," sahutku sedikit berbohong.

Memang jam-jam segini ada beberapa ruas jalan yang macet, tapi yang pasti bukan di lokasiku sekarang.

"Jangan bohong kamu. Saya tau daerah sana jam segini mana ada macet."

Jah! Ketebak.

"Yah, si Bapak nggak percayaan amat. Yang lagi di jalan itu kan saya." Tetap ngeles mode on.

"Sudah, jangan banyak omong kamu. Buruan, kafe lagi rame ini."

"Iy ... iya, Pak."

Sambungan terputus tanpa permisi. Emang namanya atasan itu selalu gitu kali ya? Tak mengerti sopan santun. Biarpun bawahan kan orang juga. Atau lupa didikan bagaimana cara menghargai orang lain.

Aku mendumel panjang pendek.

'Yaelah, Ran. Yang salah ntu elu, napa lu malah yang ngomel?'

'Emang sih janjiku sudah sedikit meleset. Tapi masa iya nggak ada dispensasi. Seenggaknya pengertian dikitlah. Coba ia jadi aku?'

'Tetap aja lu salah. Emang lu bilang bakal terlambat?'

Saat nurani saling mencari pembenaran, bis yang aku tunggu datang. Aku segera berlari mendekat. Karena kutahu itu mobil tidak akan benar-benar berhenti, hanya melambat. Dikira semua penumpang pernah jadi kondektur kali.

Di dalam penuh sesak. Boro-boro bisa duduk. Berdiri pun empet-empetan. Mana di belakang ada lelaki tua yang tak tau diri lagi. Main gresek-gresek seenaknya. Padahal mobil nggak oleng-oleng amat. Nggak nge-rem mendadak juga.

"Maaf ..., maaf," ucapnya saat aku melotot tajam.

"Yang sopan ya, Anda itu sudah tua."

Wajahnya memerah. Malu kali dikata tua, nggak sadar umur memang.

Tiba-tiba mobil benar-benar oleng seiring bunyi suara ledakan. Penumpang berteriak panik. Aku yang berdiri di tengah tanpa pegangan nyaris tersungkur. Kutukan sang manager dah nih, karena aku telah bohongi dia. 

Untung di depan ada cogan, serta merta ia memegang pundakku. Saat tanpa sengaja kami saling tatap, ia tersenyum ramah.

Eelaah, bikin si Rania malu-malu marmut.

"Maaf."

"Nggak papa, Mbak." Kami saling bertukar senyum. 

"Ada apa ya?" tanyaku setelah mobil sama sekali tidak bergerak dengan posisi miring.

Penumpang pada berhamburan, berdesakan mencari jalan keluar.

"Ban pecah," sahut pria itu sambil bergerak mengikuti arus penumpang mencapai pintu.

Alamat kena skak ini mah. Tau sendiri Pak Andi kalau marah. Semua kebaikannya diungkit.

'Nasibmu, Ran.'

Tepat jam tiga aku sampai di depan kafe. Bergegas turun dari ojek online yang telah berhasil mengantar dengan selamat. Tau gini mending dari rumah sekalian aku makai jasa mereka. Tak perlu tersiksa mpet-mpetan di bis yang hanya mau uang tanpa memikirkan keselamatan penumpang.

"Ngapain lagi ke sini? Udah jam pulang," sambut Pak Andi ramah. 

Ramah untuk ukuran seorang atasan yang sebentar lagi akan tumbuh tanduk saking geramnya.

"Yaah, Bapak sih nggak tau seperti apa perjuangan saya untuk sampai di tempat ini."

"Jangan banyak alasan, cepat ganti baju."

"Lha, bukannya barusan Bapak bilang udah jam pulang?"

"Itu bagi mereka yang ada di sini dari pagi. Lha ... kamu?"

"Ini sama aja bodong, Pak. Bukan dikasih ijin setengah hari namanya."

Aku mengomel sambil berlalu. Dan tak bisa menahan senyum saat lelaki yang walau sedikit bawel tapi baik hati itu berucap, "kok jadi galakan dia?"

Baru selesai ganti pakaian, sebuah pesan masuk di WA. Aku buru-buru meraih android kesayangan, takut ada kabar penting dari Mbak Indah. Dan menarik napas lega saat melihat chat teratas tertera 'si bos songong.'

[Lo di mana?]

Pertanyaan apa ini. Jelas-jelas ia ngantar aku tadi pagi ke kafe. Walau setelah itu aku kabur sih. Tapi kan ia nggak tau. Mana tanpa salam lagi.

[Ya di kafe lah.] 

Balasku diikuti emot mendelik. Masih terpengaruh suasana yang terbawa dari luar. Aku bisa bayangkan seperti apa mukanya saat ini. Tapi ... bodo amatlah!

[Yang sopan, ini bos lo.] Nah, kan?

[Bomat.] Aku membalas seenaknya.

[Mau pilih mana? Potong gaji atau hukuman nambah jadi tiga bulan?]

Ini nih yang paling menyebalkan. Mentang-mentang ....

[Jangaaaan! Ampun bos ganteng. Masa gitu doang ngambek cih?] Jurus jitu seorang Rania. Rayuan kelas teri, seolah memohon padahal di sini mencebikkan bibir tanda tak rela.

Ia keluar dari aplikasi. Aku terkikik geli saat tak ada jawaban lagi. Membayangkan kesalnya wajah menyebalkan itu, yang pasti jadi makin tak sedap dipandang.

'Hei ... Rania? Jangan terlalu membenci, asal lo tau, beda cinta dan benci itu setipis kulit ari. Jangan sampai pesona bos sok ketampanan itu malah berhasil menyita perhatian lo.'

'Gak akan, karena gue bukan keledai. Jadi takkan pernah jatuh dua kali di lobang yang sama.'

Tapi benarkah? Sementara aku sangat sadar ada debar aneh yang menyusup ke relung hati saat dua netra ini saling menyatu tanpa sengaja. Perasaan yang senantiasa kutepis sejak lama agar tak berlabuh pada siapa pun.

Aku menarik napas panjang. Berharap ini hanya pesona sesaat. Yang apabila nanti kontrak kerja berakhir, keadaan akan kembali seperti semula.

***

     Aku melirik jam tangan. 19.00 WIB. Tumben si bos kacrut belum kelihatan batang hidungnya. Apa ia lupa kalau aku shif pagi? Tapi syukurlah! Setidaknya ia tidak tau kalau tadi aku bolos. Dan kerjaku pun masih dihitung lembur. Kurang enak apa, coba.

Baru juga ingat nama pria itu, ia langsung muncul bersama teman-temannya anak RM indie Band. Ternyata sekarang akhir pekan, pantas kafe dari tadi ramai.

Beginilah nasib para jomblo, hari aja bisa sampai lupa. Ngenes.

Ia hanya melirik sekilas. Lalu duduk di pojokan sambil mengawasi rekan-rekannya yang tengah menata alat musik di panggung. Cuek. 

'Ya iyalah. Emang lo siapanya, Rania. Cuma kacung.'

Kok perih ya?

Aku kembali fokus dengan mesin penghitung uang di depan. Menyapa dan tersenyum ramah pada mereka yang tengah bertransaksi. Di kafe ini memang berlaku aturan 3S. Salam, sapa dan senyum. 

Saat tak ada lagi yang dilayani, sebuah notifikasi masuk di WA.

Astaga!

Mataku membulat sempurna. Lalu melotot pada Math yang melirik sambil mengulum senyum di pojok ruangan.

Pria itu mengirimkan fotoku yang lagi tidur dengan mulut sedikit ternganga. Pasti diambil tadi pagi.

Ya Allah malunya.

[Maaattth ...!] Send.

Diikuti emot marah, mendelik dan tumbuh tanduk.

[Wkwkwk ... hahaha ....] balasnya.

[Hapuuuuus!]

[Ogah!]

[Maaattthhh!]

Aku menutup aplikasi kesal. Kebetulan ada pelanggan yang mau bayar. Sayangnya pikiranku tak lagi benar-benar fokus ke komputer. Bagaimana kalau ada lagi foto yang lain. Saat aku setengah basah, misalnya.

Dih! Aku bergidik.

Kenapa harus nyuri fotoku saat dalam kondisi terjelek coba. Ganggu mood aja.

Aku kembali melirik. Ia masih senyum-senyum sendiri sambil menatap layar ponsel. Jadi pengen gigit itu bibir, eh ... keenakan dianya.

Yang lebih bikin kesal lagi ia seolah tak terpengaruh dengan sikapku. Benar-benar menyebalkan!

***

     "Mana HP nya?"

"Mo ngapain?"

"Nggak, cuma mo liat."

"Males."

"Math ...."

"Dih maksa."

Ia tertawa-tawa menyebalkan. Kesal aku langsung merampas benda persegi yang tergeletak di dasboard depan setir itu.

Namun aku kalah cepat. Ia telah lebih dulu meraih lalu menyelipkan ke kantong celana.

"Ambil kalau berani."

Aku langsung masang tampang jutek. Memulai aksi tutup mulut. Manyun dengan bibir maju lima senti sambil membuang muka ke jalan raya. Sialnya ia sama sekali tak peduli. Malah dengan santainya bersiul-siul kecil sambil pandangan tetap fokus ke jalan raya.

Lelah ngambek tapi tak dianggap, aku memilih tidur. Tepatnya tertidur. Mungkin juga karena kelelahan. Baru terbangun kembali ketika mobil Math memasuki pekarangan.

"Hei, Cebol. Bangun! Ini sudah sampai. Lo mau tidur di mobil?"

Nih orang. Gak ada manis-manisnya. Masih kesal dengan perlakuannya tadi aku memilih tetap pura-pura tidur. Sekalian aja aku kerjain. Paling nggak gendong aku kek. Seperti yang di film-film, kalau sang wanita tertidur di mobil prianya akan dengan senang hati menggendong tubuh si wanita. Ah pasti sangat romantis. 

'Emangnya lo siapanya, Ran? Sadar diri woiyy.'

Mukaku menghangat sendiri memikirkan ini. Ada apa denganku? Lo masih waras kan, Ran? batinku. Tak ingin ia melihat wajah ini yang mungkin sudah semerah tomat, aku memutar tubuh ke samping.  Merapatkan dan melipat kedua kaki ke jok. Membuat posisi ueeenak. Lantas pura-pura ngorok. 

Sesaat tak mendengar apa pun. Apa mungkin dia telah turun? Lalu membiarkan aku tetap di mobil? Sampai pagi gitu?
   
Astogeh! 

Ini mah namanya ... ke-ter-la-lu-an.

Masih dengan posisi memunggungi, aku membuka mata perlahan. Hening. Dengan rasa penasaran yang memuncak aku memutar tubuh kembali ke posisi semula. Lalu menoleh ke kanan.

"Aauuow."

Jeritan tertahan keluar dari sela bibir. Lalu buru-buru menutup dengan telapak tangan. Bagaimana tidak? Mataku membulat sempurna, menatap wajah tengil menyebalkan yang hanya berjarak beberapa inci.

"Udah pura-pura tidurnya? Berharap gue gendong ala-ala bridal style keluar dari mobil?"

Pemilik alis tebal yang tertata rapi dengan sorot setajam mata elang itu menatap tak berkedip. Jangan tanya seperti apa rasaku. Terlebih saat melihat sudut bibir tipis merah alaminya sedikit terangkat membentuk segaris senyum. Yang pasti penuh dengan ejekan.

Wtf!

Kesal bercampur malu, merasa dikuliti aku memilih keluar mobil. Mengempaskan pintunya keras. Dengan mulut monyong komat-kamit nggak jelas aku melangkah cepat meninggalkan Math. Suara high heels yang dihentakkan ke lantai menggema, memecah heningnya malam.

Ya, kami meninggalkan kafe lewat dari jam 12 malam. Sementara jarak rumah dengan kafe tersebut menghabiskan waktu kurang lebih 45 menit. Itu dihitung tanpa macet. Kebayang 'kan seperti apa bunyi tumit sepatu yang lancip saat beradu dengan marmer di tengah malam buta?

Aku mempercepat langkah menaiki anak tangga saat tau Math menyusul di belakang. Rasanya tak sanggup menatap wajah pria itu. Malu. Seumur-umur baru kali ini aku tidak tahu harus berbuat apa saat berhadapan dengan seorang makhluk yang bernama laki-laki.

'Selamat! Lo bakal berada dalam masalah besar Rania.'

Apa yang selama ini berusaha kujaga sepertinya mulai ternoda. Hati. Saat debar tak biasa mulai menyapa. Dan aku tau ia jatuh di tempat yang tidak tepat. Lalu aku harus bagaimana?

Tepat di ujung anak tangga atas, Math meraih pergelangan tanganku. Hampir saja aku terjatuh saat ia menyentaknya. Beruntung pria itu segera menahan.

"Lo kenapa?"

Next ....