RASA YANG BERBEDA


“Hendaklah kalian berdagang karena berdagang merupakan sembilan dari sepuluh pintu rezeki.”

“Gimana kafemu, Nak?” tanya Bu Sari. Sejak tadi anaknya terlihat tak berkedip di depan laptop. Wajahnya terlihat serius dengan dahi yang berkerut. Ia sangat khawatir bila saja anaknya ini mengalami masalah dalam berusaha dan menyebabkan ia tak betah tinggal di Kota Pempek ini. 

Bukan mudah baginya merayu Alif putranya untuk ikut pindah ke Palembang. Karir anaknya di Kanada sedang menanjak dan anak ini pun sudah sangat nyaman dengan lingkungan di sana. Tapi ia bersyukur akhirnya putranya ingin ikut kembali ke Indonesia tepatnya ke kota kelahirannya dimana Jembatan Ampera dengan gagah berdiri di sana. 

“Sejauh ini baik kok, Ma, cuma ya gak tahu nantinya, launchingnya juga kayaknya ditunda kok, masih belum siap,” jelas Alif.

“Kenapa, Nak. Kalau masalah modal, kamu tinggal bilang berapa, nanti mama transfer, gak usah bilang ke papamu, dia memang kaku orangnya. Uang Mama masih banyak kok.” 

Alif tertawa, segera ia memeluk wanita yang sangat ia sayangi ini. Pola pikir mama dan papanya memang jauh bertolak belakang. Papa orangnya cenderung diam, banyak berpikir dan penuh pertimbangan. Dia adalah tipe orang yang tak mau berkomentar bila tidak diminta. Sulit menebak apakah ia sedang sedih atau bahagia, raut wajahnya datar saja. Kalau soal keuangan, laki-laki berkaca mata itu sangat perhitungan, dari A hingga Z harus jelas masuk keluarnya, administrasinya rapi. Tapi, biar terkesan pelit, jangan ditanya sedekahnya, luar biasa dan sistematis. Daftar sumbangan ke panti asuhan dan pembangunan masjid merupakan jadwal rutin yang tiap tahun harus dituntaskan, tak ada toleransi, baginya, boleh tak ganti mobil tahun ini asal dapat sedekah dengan nominal seharga mobil baru tetap jalan. 

Bila mamanya, jangan ditanya, orangnya meledak-ledak, mudah tertawa tapi dalam hitungan menit dapat termehek-mehek karena menonton Drama Korea. Sedih bahagianya bisa ditebak dari raut wajahnya, ia adalah orang terjujur yang Alif kenal. Orangnya royal luar biasa, mudah terharu tapi mudah juga jutek dengan orang yang tak ia suka. 

Terkadang Alif heran, bagaimana bisa berpuluh tahun berumah tangga keduanya sangat harmonis, padahal sifat keduanya bertolak belakang. Hampir tak pernah kedua orang tuanya bertengkar, paling hanya debat kusir yang berakhir permintamaafan papa atau rayuan maut mama, tergantung siapa yang salah. Pernikahan seperti kedua orang tuanya lah yang selalu ia impikan. 

“Bukan soal modal, kok, Ma. Tabungan Alif masih banyak,” jelas Alif.

“Terus ada masalah apa?”

“Soal ide dan kreativitas, Ma.”

“Maksudnya?”

“Mama kan tahu, kalau Alif ini tipe pekerja kejar target, sedangkan berwirausaha kan perlu ide-ide yang fresh biar usahanya maju. Nah di sinilah Alif kebingungan, kok kayak gak ada pembeda antara kafe Alif dengan yang lain. Standar saja.” Alif menjelaskan dengan serius sementara mamanya mendengarkan dengan seksama. 

“Di kafeku ada dua space kosong yang aku bingung mesti dibuat apa, jadi buntu ide gitu, Ma,” sambung Alif. 

“Mama bisa bantu apa, Nak?” tanya mamanya. Terus terang ia tak mengerti apa yang harus ia lakukan, tapi, siapa tahu ia bisa membantu.

Alif tersenyum, memang sejak tadi saat inilah yang ia tunggu. Ia butuh bantuan mamanya.

“Gini, kira-kira Mama bisa gak hubungi Allya untuk bantu aku?”tanya Alif penuh harap.

“Allya? Allya anak teman mama itu?” Mamanya bertanya heran. Ini suatu kemajuan yang tak terduga, ia sangat senang bila putranya ini mau mengenal lebih dekat putri almarhum sahabatnya itu, tapi apa hubungannya usaha anaknya dengan Allya. 

“Allya itu Ma, ternyata orangnya kreatif, dia lagi join sama dua temannya buat kafe juga, lokasinya juga dekat dengan kafeku, cuma konsepnya beda. Memang kafe sederhana gitu, tapi kok ya konsepnya unik, nyaman, kemasan dan idenya sih biasa tapi itu dia yang bisa jadi nilai jual kafe mereka,” jelas Alif panjang lebar.

“Sudah mama bilang, anak itu keliatannya aja gak modern, tapi otaknya brilliant,” sahut mamanya bangga. “Terus, Mama bisa bantu apa, Nak?”

“Kan kafenya Allya sudah jalan tuh, jadi mungkin dia kan gak sibuk lagi di sana. Bisa gak mama hubungi Allya suruh main ke kafeku, aku mau minta saran dia, Ma. Tu anak kayaknya enak buat diajak sharing.” 

Bu Sari tersenyum, bukankah inilah yang selalu ia inginkan. Tak susah payah ia harus mengatur pertemuan antara putranya dan Allya ternyata anak ini sendiri yang meminta. 

“Gampang itu, besok pagi mama chat dia, mama jamin, pulang kuliah Allya pasti sudah di kafe kamu.” Bu Sari berjanji, akan ia rayu Allya agar bisa bertemu dengan putranya.

“Benar, ma?”

“Iya, lah. Kalau soal begini, gampanglah.”
Alif memeluk mamanya lagi, selalu saja ia bisa mengandalkan mamanya kapan saja.

***

“Assalamualaikum.” Allya mengucapkan salam, samar sebuah suara membalas salamnya. Ia sempat ragu haruskah melepas sepatu atau tidak untuk masuk ke kafe ini, tapi niat menanggalkan sepatunya di teras ruko itu diurungkan ketika melihat beberapa orang yang sepertinya pegawai lalu lalang memakai sepatu. 

Sejak awal menatap bangunan ruko dimana kafe Alif berdiri, ia sudah berkali berdecak kagum. Berbeda dengan bangunan ruko lain yang berjejer dengan bentuk dan warna seragam, bangunan ruko dua lantai miliknya memiliki bentuk berbeda, bagian muka ruko diprofil dengan batu alam dan dominasi warna hitam dan putih. Luasnya pun dua kali dari ruko lainnya. Di sisi kanan ruko terdapat lahan yang cukup luas dan sepertinya sedang disiapkan untuk menjadi taman. 

Begitu masuk ruangan, hawa dingin AC langsung menyerbu mengusir rasa gerah yang sedari tadi mengusik Allya. Matanya bergrilya, lagi-lagi dominasi warna catur bertaburan, dimulai dari meja, kursi, cat dinding hingga pernak-pernik macam lukisan dan guci pun memiliki warna seragam. Agak segan Allya masuk, karena jelas ini bukanlah tipe kafe tempat ia biasa nongkrong. 

“Mbak Allya, ya?” tanya seorang pegawai laki-laki muda berseragam hitam dengan papan nama bertuliskan AZKA di dadanya.

Allya mengangguk. 

“Pak Alif tadi sudah nunggu, tapi buru-buru pergi ada urusan mendadak, Mbak Allya disuruh tunggu,” jelas pegawai itu. 

“Aku menunggu di luar saja ya,” sahut Allya. 

“Jangan, Mbak, nanti saya kena marah Pak Alif. Kata bapak, Mbak disuruh tunggu di sini, dilayani kayak tamu biar betah.” Azka menjelaskan. Ia mempersilahkan Allya untuk duduk di sebuah sofa.

“Mau minum apa nih, Mbak?” tanya Azka lagi.

“Enggak usah repot,” jawab Allya. 

“Gak repot kok, aku ambilkan jus saja ya, Mbak. Plizzz mau ya, nanti kalau Pak Alif datang dikira aku gak melayani tamu lagi,” jelas Azka.

Allya tersenyum dan mengangguk. Sedikit kikuk sebenarnya ketika seorang pelayan malah dilayani. Ia sudah terbiasa menyapa pelanggan di tempat bekerjanya dulu dan kini dilayani, ada rasa singkuh. 

“Allya?” Sebuah suara yang sangat Allya kenal memanggil. Ia menoleh, mencari asal suara. Sebuah senyum terukir ketika mengetahui seorang yang sangat ia kenal tengah berdiri di sampingnya. 

“Shinta, apa kabar?” sapa Allya. Kebetulan sekali sepupunya itu di sini, apa mungkin Alif sengaja mengundang mereka sama seperti dulu untuk makan bersama. 

“Baik, kamu ngapain ke sini?” tanya Shinta. 

“Gak apa, mampir saja,” jawab Allya. Ia ingin menjelaskan sebenarnya bila Tante Sari, Mama Alif memaksanya untuk menemui putranya untuk diskusi masalah kafe, tapi ia urungkan karena rasanya terlalu berlebihan, ia tak punya ilmu apa-apa untuk membantu Alif mengembangkan kafenya. 

Shinta duduk di sofa tepat di hadapan Allya, satu sudut bibirnya ditarik, membentuk senyum aneh. 

“Gak nyangka ya aku Al, kok kamu lancang banget.” Shinta berkata, kedua matanya sinis memandang Allya.

“Lancang, kenapa?” tanya Allya tak mengerti. Wait, apa ada kesalahpahaman di sini?

“Awalnya kukira kamu wanita lugu ala-ala kampung gitu, tahunya begitu liat cowok kaya langsung kegatelan.” Shinta menyibakkan rambut ikal pirangnya.

“Kamu salah paham kali, maksudnya apa? Aku gak ngerti,” jawab Allya.

“Pura-pura lugu lagi. Kamu kan sudah jelas tahu kalau Alif itu tunangan aku, terus nekad banget kamu kegatelan datangin Alif sampai ke kafenya. Gak ngaca kamu ya, tampang ngepas kayak kamu mah mana ditoleh sama Alif.” Emosi Shinta sudah mencapai ubun-ubunnya, ia tak menyangka bila Allya berani menikungnya.

“Kayaknya kamu salah paham deh, Shin,” jelas Allya. Siapa juga yang mau ke kafe Alif kalau mamanya gak nyuruh. 

Shinta mengedarkan pandangannya dari ujung kaki hingga kepala Allya. Ia masih tak percaya bila Allya bisa licik juga. “Lagian, udah untung si Rayhan anak supir itu mau sama kamu, eh ini malah nyari yang lebih kaya.”

“Shin, aku sama Rayhan cuma teman gak lebih, dengan Alif juga sama,” jelas Allya. Agak lucu sebenarnya bila sepupunya ini cemburu akan kehadirannya. Bukankah ia tak sebanding dengan kecantikan sepupunya itu, lalu, kenapa ia harus khawatir?

“Munafik kamu ya Al, itu namanya kamu makan saudara. Tapi lebih baik kamu mundur, seperti yang aku bilang tadi, kamu itu bukan tipe Alif, dia gak bakal suka sama kamu.” 

Allya tersenyum, sepertinya kesalahpahaman ini akan berakibat fatal. Ia baru saja ingin menjelaskan ketika seseorang masuk dan memberi salam. Alif. 

“Alif, kamu sudah pulang.” Shinta langsung beranjak dan menghampiri Alif.Segera ia langsung menggelayut manja di pundak Alif seolah menegaskan bahwa laki-laki ini adalah miliknya.

Alif tersenyum kecil dan perlahan melepas kedua tangan Shinta yang telah melingkar di pundaknya. Agresif sekali anak ini. 

“Alhamdulilah kamu datang Al, kupikir kamu gak mau datang,” ujar Alif, ia langsung menghampir Allya dan duduk di sisinya. 

“Alhamdulilah, kebetulan baru pulang kuliah,” jelas Allya.

“Alif, kok aku dicuekin sih.” Shinta menghentakkan kakinya, manja. 

“Oh iya, Shin, apa kabar? Mau apa ya ke sini?” tanya Alif datar.

“Ya rindu kamulah,” jelas Shinta. Wajahnya ditekuk dan dibuat seimut mungkin. Hampir saja Allya terbahak sekilas melihat ekspresi dibuat-buat sepupunya itu, persis mamanya.

Alif tersenyum, ia lagi malas menanggapi rengekan Shinta. 
“Kamu ada waktu kan, Al, aku ini sebenarnya sudah ada janji dengan profesional untuk konsultasi tentang konsep kafe ini, cuma istrinya lahiran, jadi dia kasih pengganti, tapi aku gak cocok sama tu orang,” jelas Alif.

“Konsep apa lagi? Ini sudah wah semua gini, emang mau diapain lagi nih kafe?” tanya Allya jujur.

“Kalau wah mah semua juga bisa, Al, asal ada dana, tapi untuk buat sesuatu yang beda, yang orang suka kan gak gampang. Soal kayak gini aku nyerah, aku agak buntu ide.” Alif menggaruk-garuk kepalanya. Ternyata modal yang berlebih saja tak cukup untuk memuluskan jalannya berwirausaha.

“Ihhh, Alif, aku beneran ngambek nih. Sudahlah, kita jalan saja yuk, kan urusan kayak gini gampang, tinggal bayar orang beres. Ngapain juga minta bantuan Allya, diakan cuma calon guru TK.” Shinta kembali merengek. Sungguh ia tak suka melihat antusiasme Alif berbicara dengan Allya. 

“Maaf ya Shin, kalau kamu terus merengek dan membuat pusing aku saja. Kamu pulang saja sana! Aku lagi banyak urusan, lagian ngapain juga kamu ke sini kayak kurang kerjaan.” Alif berkata ketus. Lama-lama telinga dan otaknya bisa rusak diracuni rengekan Shinta.
 
Allya berusaha mengalihkan pandangannya. Ia tak sanggup melihat wajah putih Shinta yang berubah merah dan masam. Pastilah sepupunya itu menahan marah dan kesal yang amat besar. Seumur hidup mana ada yang berani mempermalukannya. 

“Aku gak mau pergi, aku mau tunggu di sini!” teriak Shinta. Ia menghempaskan tubuh di sofa dan melipat kedua tangannya. 

“Terserah,” jawab Alif ketus. 

Ruko Alif terdiri dari dua ruko dua lantai yang digabung menjadi satu. Luas keseluruhan ruko lantai satu saja berkisar seratus empat puluh empat meter persegi, ruangan inilah yang akan menjadi ruang utama kafe. Selain sebagai tempat makan, di ruangan ini juga tersedia counter pengisian pulsa dan jasa pelayanan printer dan jilid tugas. 
Lantai dua memiliki dua tangga ke atas, satu menuju ruangan yang difokuskan sebagai dapur dan gudang penyimpanan dan tangga lain menuju sebuah ruangan yang merupakan ruang kerja Alif dan tempat ia menerima tamu.

Untuk perkarangan, di bagian depan terdapat lahan parkir yang cukup luas dengan daya tampung sekitar sepuluh kendaraan roda empat dan belasan kendaraan roda dua. Di sisi kanan gedung terdapat halaman dengan luas sekitar enam puluh meter persegi. 

“Yang aku bingung sekarang Al, coba kamu lihat space kosong di dekat counter itu, luasnya kan lumayan sekitar tiga kali empat. Kalau di taruh kursi kok kayaknya kurang pas, sempat kepikiran untuk dijadiin distro baju anak muda, tapi kok kayak melenceng dari konsep,” jelas Alif. 

Allya mengamati bagian kosong yang memang terlihat janggal dan cukup menganggu. 

“Kayaknya tuh ruangan mesti didisi dengan sesuatu yang bisa menyatukan kafe, counter dan printer deh Lif, terus ada hubungannya dengan mahasiswa gitu.” Allya mengungkapkan pendapatnya. 

“Bener Al, terus coba kamu lihat diluar, di taman itu. Rencananya kan itu tempat makan outdoor-nya, jadi untuk yang merokok atau suka suasana luar bisa makan di sana. Suasana di situ kan udah rindang banget, tapi pas bagian dinding pagar yang lumayan panjang itu aku gak mau ditambahi dengan tanaman, kesannya malah kayak belukar. ” Alif menjelaskan lagi. 

Allya mengintip dari balik jendela besar lokasi taman yang dijelaskan Alif tadi, memang ada lahan kosong selebar satu meter sepanjang dinding pagar pembatas. 
Sebenarnya sih kalau bagian ide kayak gini, Rayhan adalah jagonya. Temannya itu punya daya imajinasi yang tinggi melebihi orang biasa. Bayangkan coba, tujuh puluh persen dekorasi kafe mereka adalah hasil desain sahabatnya. Jemarinya sangat lentur mengubah dinding kosong menjadi lukisan menarik atau menyulap barang bekas menjadi pernak pernik cantik dan rupawan. 

“Aku sih ada ide, Lif, cuma gak tahu kamu suka apa enggak.” Allya mengungkapkan pendapat. Begitu mengingat Rayhan tadi ia teringat akan ide ini, sebenarnya ini idenya untuk kafe mereka, tapi karena kekurangan modal jadi diurungkan. 

“Apa, Al?” tanya Alif antusias.

“Kamu gak masalah di modal kan?” tanya Allya memastikan.

Alif mengangguk, kalau soal uang, seumur hidup ia memang tak pernah kesulitan.
Apalagi soal membuka usaha, papa dan yang pasti mamanya selalu siap mendukung. 

“Gini, kalau bagian dalam ruangan itu kita buat food corner yang jual cake ulang tahun, terima pesanan terus sekalian pernak perniknya gimana? Terus bagian luar didekor terutama bagian dindingnya untuk spot foto selfi anak muda. Kan sekarang anak muda lagi suka nih ngerayaain ulang tahun di kafe, nah sekalian aja cake nya kamu yang sediain dan pastinya mereka akan foto kan, jadi kamu sediain juga lokasi foto yang bagus,” jelas Allya. 

Alif mendengarkan dengan seksama, “kayaknya ini bukan ide yang orisinil ya Al, udah ada yang pake, tapi kok aku gak kepikiran,” jawab Alif.

“Bener Lif, emang sudah ada beberapa yang pakai ide ini, tapi sejauh ini ide ini masih cocok banget sama pasar kafe yang menitikberatkan pada anak muda yang punya uang lebih. Mereka kan suka tuh ngadain perayaan kayak gitu. Jangankan ulang tahun, ulang bulan tanggal jadian pacaran pun dirayaain, apa gak pasar yang menggiurkan tuh?” jelas Allya lagi. 

“Ya Allah Al, aku beneran gak kepikiran soal itu. Aku contek idenya ya,” sahut Alif. Akhirnya ia bisa bernapas lega. 

“Iya ambil saja idenya, tapi kayaknya PR kamu panjang nih Lif, harus cari koki yang handal untuk cake dan pelukis untuk dinding itu,” jelas Allya dengan senyum semringah, senang, ketika idenya bisa dipakai dan bermanfaat. 

“Kalau itu beres, aku banyak link buat ngedapetin itu semua, yang penting idenya dulu.” Alif berkata riang. Fix, besok ia akan mewujudkan konsep yang disampaikan Allya. 

“ Sudah sore Lif, aku pamit dulu ya, gak enak juga sama Rayhan dan Tomi, mereka pasti lagi sibuk, kebetulan kafe minimalis kami besok sudah mulai buka.” Allya mengambil tas nya di sofa, bersiap untuk pulang. 

“Udah selesai nih, bagus lah, aku sama Alif mau jalan.” Shinta beranjak dan segera menggelayut manja pada Alif. Lagi.

“Maaf, Shin, sudah lama aku pengen ngomong sama kamu.” Alif perlahan melepaskan kedua tangan Shinta, memutar badan dan menghadap gadis cantik itu. Ia ingin Shinta mendengar ucapannya dengan jelas. 

“Apa?” Shinta berkata manja. Bisa saja kan Alif ingin mengungkapakan rasa cintanya sekarang. Pipi mulus Shinta langsung merona, ia belum siap sebenarnya, tapi bukankah lebih cepat lebih baik. Ada rasa tak menentu ketika Alif menatapnya lekat. 

“Jangan tersinggung ya, tapi terus terang aku keberatan kalau kamu merangkulku di tempat umum begini.” Alif berkata serius. 

Shinta menarik napas panjang, sedikit kecewa tapi ia tak menyerah. “Ya sudah kalau kamu malu, yang penting kamu tetap mau kan kalau kurangkul di tempat pribadi kita.” Shinta berkata yakin. Wajahnya mempersembahkan senyum termanis. 

“Maaf mungkin perkataanku sebelumnya kurang jelas, kuulangi ya, aku keberatan kalau kamu merangkulku di tempat umum, pribadi atau manapun juga, karena diantara kita gak ada hubungan apa-apa,” jelas Alif.

Allya langsung menutup mulutnya menahan tawa dan keterkejutan tentunya. Perlahan ia melirik Shinta sepupunya, nano-nano semua rasa tergambar di wajah cantiknya, kombinasi dari rasa malu, pucat, marah dan tentu kesal. Allya tak tahu harus tertawa atau merasa kasihan sekarang. Rayhan harus tahu cerita ini.

“Kamu jahat!” Shinta berteriak, berlari keluar kafe dengan bantingan pintu sebagai pamungkas kemarahannya. 

Allya dan Alif terdiam, saling pandang sejenak, kemudian menghela napas bersamaan. 

“Aku pamit ya Lif,” ujar Allya memecah keheningan. 

“Aku antar ya, sekalian kita makan dulu,” tawar Alif. 

“Enggak usahlah, aku naik motor kok.”

“Terus gimana soal biaya konsultasinya nih,” ujar Alif, bukankah harga sebuah ide itu sangat mahal, ia sangat menghargainya. 

Allya tertawa. “Gak gitu juga kali Lif, bayarannya undang saja aku ke acara pembukaan kafe kamu, oke?” 

“Itu pasti, Al, tapi seenggaknya aku traktir kamu makan atau kita belanja apa gitu biar aku yang bayar,” tawar Alif lagi.

Allya kembali tertawa. “Sudah ya, aku pulang, gak usah dipikirkan lagi soal bayaran, jangan buat aku merasa jadi orang yang pelit berbagi ilmu gini,” sambung Allya lagi.

Alif mengangguk pasrah, tak ada yang dapat ia lakukan selain tersenyum dan menyaksikan Allya pamit meninggalkannya. Ia suka Allya, cara berpikir, bicara dan tentunya ide-idenya, ia cocok menjadi partner kerjanya. 

“Pak,” Azka yang sedari tadi hanya menguping pembicaraan menyapa.

“Iya,” Alif menoleh, mengajak Azka yang sudah ia anggap sebagai adik itu untuk duduk di sisinya. “Ada apa?”

“Yang bernama Shinta itu pacar Bapak ya?” tanya Azka. 

“Bukan,” jawab Alif pasti. 

“Tapi waktu saya di belakang buat minuman tadi saya dengar dia bilang ke Mbak Allya kalau dia itu tunangan Pak Alif, dia juga sempat ngajak Mbak Allya ribut tapi untung gak ditanggepin sama Mbak Allya,” jelas Azka. 

“Ohhh.” Alif berguman. Untung saja ia belum terlalu dekat dengan Shinta, bahaya juga anak itu, belum apa-apa sudah buat masalah. 

“Sebenarnya sih kalau saya pikir, Mbak Shinta itu cocok secara penampilan dengan Bapak, kan sama-sama kekinian, yang satunya ganteng yang satunya cantik,” jelas Azka. 

“Terus, kalau tuh cewek jadi sama saya, berarti nanti dia jadi Bos kamu, mau enggak?” tanya Alif.

“Iya juga ya Pak, wah gak mau ah, habis orangnya judes. Kalau Allya sih baik, pintar, tapi gak cocok sama Bapak,” jelas Azka lagi.

“Kenapa?” 

“Dia cocoknya sama saya, Pak, sama-sama sederhana, he he” Azka tertawa. 

Alif tahu Azka cuma bercanda, tapi entah kenapa ia tak suka. 

“Sudah jangan bahas itu lagi, jangan juga coba-coba deketin Allya, kamu kan masih kecil, baru tamat SMK kan?” bentak Alif.

“Iya, Pak,” jawab Azka. Padahal dia cuma bercanda, kenapa bosnya itu jadi jutek. Bukannya dia suka dengan Allya tapi beberapa kali ia pernah melihat Allya dengan laki-laki lain berbicara serius dan akrab, bisa saja kan itu pacarnya. Kebetulan tempat tinggalnya dan Allya berdekatan sama-sama di daerah Plaju. 

***

Allya mempercepat laju kendaraanya ketika dari jauh ia melihat keramaian di sekitar kafe miliknya. Bukan satu atau dua orang saja tapi puluhan orang berkerumun di teras kafenya. Ada apa? Bukankah baru besok kafenya dibuka? Lalu untuk apa orang-orang berkumpul?

Terburu-buru Allya memarkirkan sepeda motornya dan berlari menembus keramaian, ia penasaran akan apa yang terjadi.

“Mbak Allya, untung cepat pulang, coba lihat ini.” Bu Ira yang rumahnya tepat di sebelah kafe mereka langsung menghampiri. 
Allya baru akan bertanya ketika tiba-tiba lidahnya kelu tak dapat berkata menyaksikan apa yang ada dihadapannya. 

Tubuhnya gemetar dengan mata menyisir setiap sudut kafe itu. Ia menggelengkan kepalanya berkali, ada apa ini, ada apa?

Allya menutup kedua matanya, membukanya kembali, berharap bahwa ini cuma mimpi. Apa-apaan ini, seluruh kafe tampak hancur berantakan. Bangku dan mejah patah dan berhamburan, beberapa dinding-dinding papan patah, kaca etalase pecah tak berbentuk, belum lagi segala pernak-pernik kafe yang berhamburan tak tentu arah. Ada apa ini?

“Mas Rayhan dibawa ke rumah sakit, Mbak dengan Mas Tomi, lukanya cukup parah, kami tadi sudah lapor polisi,” jelas Bu Ira. 

Allya menatap tak percaya, perlahan kepalanya terasa berat, pandangannya kabur dan akhirnya gelap. Bruk! Tubuhnya jatuh, samar Allya masih dapat mendengar Bu Ira memanggil namanya dengan panik, namun keriuhan itu lambat laun hilang bersama dengan kesadarannya.

Bersambung...

Teman-teman bantu subscribe cerita ini ya, terima kasih 🙏