Empat
Oranye kemerahan mulai menghiasi langit yang menggelap. Lampu bundar kekuningan yang terpacak di pinggir jalan mulai menyala remang. 

Di perempatan, berbagai kendaraan saling mengklakson tak sabar. Polisi lalu lintas sesekali meniup peluit, tangannya melambai-lambai pada kendaraan di sampingnya, yang langsung merayap pelan. Kendaraan dari arah kiri terus mengklakson.

Di pinggir jalan, belasan gerobak warna-warni tengah di kerubuti pembeli. Ada yang bertulis 'gulai kambing, Chicken, gerobak kecil dengan wadah dari kaca berisi kerang hijau, sop buah, dan banyak lagi. Beberapa pejalan kaki tampak menyebrangi jalan, salah satu tangannya mengipas-ngipas, membuat mobil di depannya terus membunyikan klakson. Asap hitam bergumul di sekitar. Lampu kendaraan berpendar-pendar. Merah berkilauan dan kekuningan seperti berlian. Dari sini, nampak begitu indah.

"Ayo dipilih." Ian berkata tanpa menoleh.

"Apanya?"

"Bajunya, ayo pilih. Mau yang mana?" Ian menoleh. Lalu kembali memilah kaos yang berjajar di depannya. Aku mendekat, mengamati dalam diam. 

"Umi selalu ngajak aku beli di toko. Pasti, itu bahannya panas." Lirihku, menatap malas pada puluhan pakaian yang dipajang di manekin. Sebagian, hanya digantung di tiang setinggi dada. Ada gamis, setelan, kaos, androk, juga celana panjang tipis bergambar warna-warni. Beberapa orang, tampak sibuk memilih.

"Belum tentu panas. Ada yang adem juga." Ian terus memilah. Hanya melirik sekilas.

"Kamu suka beli baju murahan, ya? Lagi berhemat, ya?"

Ian tertawa. Bahunya berguncang pelan. Ia memutar tubuh menghadapku, menatap dengan alis terangkat.

"Aku doakan, bukan Aswin jodohmu. Semoga dapet suami yang kaya, ya, kamu." 

"Iiii-aan!" Tangan refleks terangkat hendak memukulnya, ia langsung berkelit menjauh.

"Beginilah aku hidup. Bebas aja. Beli di mall oke, di pinggir jalan pun tak masalah. Kadang beda tempat, beda harga, tapi bahannya sama. Lumayan, kan, bisa hemat?" Ian tersenyum, tangan meraih satu kaos panjang merah tua dengan gambar setengah bulan. Setengahnya lagi, terukir di kaos di depannya. Ian mendekatkan kaos itu ke tubuhku.

"Bagus buatmu. Pantas."

Aku menatap kaos satunya. Aku pernah membeli kaos semacam ini bersama Mas Aswin. Wajar. Kan, kami pasangan. Aku memandang Ian lekat, mencari gejolak emosi di wajahnya. Jangan-jangan ....

"Nggak mau."

"Pegang dulu, bahannya adem, kok."

Aku meraihnya. Iya, sih, adem.Tapi, bukan itu juga maksudku. Bukan hanya murahan, tapi, ini kaos pasangan. Masa mau membelinya. Yang benar saja. Ian bukan Mas Aswin.

"Kenapa? Kurang lembut bahannya?"

Aku membuang napas. "Karena kamu bukan Mas Aswin, masa iya, membelinya. Aku nggak mau punya kaos pasangan sama ka--"

"Ini buatmu sama Aswin." Potongnya cepat.

Langsung saja kutatap Ian tak percaya. "Yang bener?"

Ian tak menjawab. Segera diberikannya baju itu ke sang penjual yang langsung memasukkan ke dalam plastik transparan warna pink.

Aku memandang Ian sekilas. Baik juga, membelikanku dan Mas Aswin kaos. Kami segera melangkah di tepi jalan yang ramai. Tepat di pertigaan, mulai agak kesulitan berjalan karena kendaraan begitu padat--mobil, sepeda motor, bajai. Bau kenalpot terus menerjang indra penciuman, membuat sesak napas. Langit kian kelam. Pasti sebentar lagi adzan berkumandang.

"Makan dulu, yuk, sebelum azan."

"Emang, sehat, makanan di pinggir jalan? Kena debu, kena asap knalpot. Kata Umi, aku nggak boleh makan sembarangan."

"Manusia, kan, punya pertahanan tubuh. Sesekali, nggak papa."

Aku bersungut-sungut. Nggak papa gimana? Kalau nanti sakit perut gimana?

"Manja." Ian menggerutu.

Aku menoleh, menatap Ian sebal. "Kamu bilang aku manja? Kamu, kan, dokter. Masa nggak tau, kalau makan sembarangan itu berbahaya? Kalau kena penyakit, gimana? Sakit perut, muntah-muntah, keracunan, lalu tubuh kej--"

Ian menepuk jidat. "Ampuuun, deh. Kamu tenang aja, nanti ... kalau sakit ... kuobati." Ia nampak gemas. Tatapan apa itu? Apa ia sedang mengejekku?

Aku mendengus tak terima. "Kamu terlalu menyepelekan sesuatu. Kalau tiba-tiba aku keracunan kaya ... siapa itu, yang mati di kafe? Yang minum kopi sianida?"

Ian menepuk jidat. "Astagaa. Pikiranmu terlalu jauh. Tadi kamu makan kripik kentang, gak mati, kaan?"

Aku nyengir. "Iya, tapi kaaan ..."

Tatapan Ian jatuh pada penjual yang sedang sibuk melayani pembeli. Ada dua meja panjang dan beberapa bangku plastik di dekatnya, di mana lima gadis remaja nampak makan dengan lahap. Ian langsung menarikku mendekat. Aroma gurih daging yang dimasak dengan santan dan rempah-rempah langsung menyergap hidung. Sungguh menggiurkan. Harum sekali.

Ian memandangku. 

"Aku makan di rumah aja." Sebenarnya sih, pengen. Tapi kalau beneran sakit perut ... aku menggeleng. Sudi amat. Hanya gara-gara makanan jadi sakit.

"Oke," sahut Ian pelan. Tak lama kemudian, ia menerima piring berisi nasi dan gulai yang disodorkan si penjual. Irisan daging yang nampak begitu menggiurkan itu seolah tengah melambai-lambai padaku. Aku terdiam memerhatikan Ian makan. Kok, kayaknya enak, siih.

"Beneran nggak mau makan dulu? Takutnya, nanti macet."

Makan nggak, yaa. Lapeer. Tapi kalau sakit perut gimana? Melihat cara makan Ian yang begitu menikmati, selera makanku menggeliat. 

"Tenang aja, kalau beneran sakit, nanti kuobati. Mau apa? Gulai atau kerang? Sop buah, mau?"

Ian menatapku. Aku menimbang-nimbang. Gulai, atau kerang, ya? Gulai, kerang. Ah, lebih baik kerang. Sepertinya lebih sehat karena ditutup rapat dengan kaca transparan. Cangkangnya juga harus dibuka dulu, kan? Berbeda dengan panci besar berisi gulai yang terus dibiarkan menganga karena sejak tadi ramai pembeli.

"Pak, keraang!" Ian berteriak begitu aku memutuskan. "Mas, sop buah, yaa?! Duaa!"

"Emang enak sop buah?"

Ian menoleh. Alisnya mengernyit. Beberapa gadis di sampingku menatap heran. Aku bertingkah cuek.

"Masaknya gimana itu? Apa buahnya diblender lalu direbus sampai matang?" tanyaku sambil memerhatikan penjual soap buah, tampak sedang memotong apel. 

Gadis paling dekat denganku nampak menahan tawa. Ada apa sih dengannya?

Ian tertawa kecil. "Lihat aja nanti." Lalu, kembali tangannya bergerak cepat menyuap makanan ke mulut. Tak lama, sop buah dan kerang diantarkan. Aku diam memerhatikan. Ini, sih, namanya es buah. Ada-ada saja sebutannya.

"Dimakan." Ian menoleh. Digesernya satu mangkuk sop buah ke hadapannya. 

Aku segera mencicipi punyaku. Iya, ini sih namanya es buah. Setelah sop buah tandas, segera tangan meraih satu kerang, memperlebar cangkangnya, lalu mengeluarkan isinya. Enaak. Semoga gak sakit perut.

"Wajahmu kenapa kayak sedang ketakutan gitu? Tenang aja, gak bakal kenapa-napa. Semua orang pasti punya daya tahan tubuh. Hitung-hitung, buat latihan juga, biar kamu bisa adaptasi dengan kemungkinan terburuk. Belum tentu kamu akan hidup enak terus, kan?" Ian memandangku lekat. Lalu tersenyum lebar.

"Ayo, habiskan. Kita shalat lalu pulang."

"Oke."

Tepat saat azan berkumandang, kami selesai makan. Segera menuju masjid, shalat, lalu menghentikan metromini. Yang dikhawatirkan Ian menjadi kenyataan. Jalanan macet total. Metromini sama sekali tak bisa bergerak. Penumpang penuh berdesakan. Kami tak mendapat kursi, jadi terpaksa berdiri. Pegal sekali tangan rasanya, terus berpegangan pada besi panjang  di atas kepala. 

Suhu terasa panas. Jendela yang terbuka sama sekali tak membantu. Bau badan, ketiak, juga parfum menguar kuat di udara. Membuat perutku melilit-lilit. Tangan yang diperban berusaha membekap mulut, tapi malah tersenggol penumpang saat metromini melaju pelan dan sedikit berguncang. Tangan sakit. Cengkrang-cengkring.

"Kenapa?" Ian yang berdiri agak jauh di belakangku segera mendekat, menatap dengan wajah khawatir.

"Nggak papa." Aku meringis.

"Tanganmu sakit? Nanti, kuganti perbannya."

Tak kusahut. Perut melilit, rasanya ingin muntah. Ian menyentuh wajahku. Aku sigap menepis.

"Wajahmu merah sekali. Kamu gak papa? Merasa sakit, nggak?"

Tangan yang sakit kupaksa membekap mulut. Jangan muntah di sini. Jangan. Perut bergejolak. Ingin sekali meludah. Kepala pening.

"Hueek!"

Ian terlihat panik. Ia langsung berteriak-teriak menyuruh berhenti, melingkarkan tangan ke bahuku, lalu membimbing menuju pintu. Aku langsung muntah-muntah. Kepala pening, seakan berputar. Lalu, pandangan menjadi gelap.

***

Di mana ini? Menatap sekitar, membuatku segera sadar ini kamar yang tadi siang kutiduri. Aku terlonjak dan refleks bangun saat secara tak sengaja menyentuh tangan Ian. Mata spontan membelalak. Apa-apaan, ini? Bisa-bisanya, ia terlelap di sebelahku. Meringkuk membelakangi. Ian hanya mengenakan kaos dalam. Jangan-jangan ....

Aku mengintip tubuh di balik selimut. Dada langsung bergemuruh. Jantung berdetak kencang. Aku juga hanya mengenakan kaos dan celana pendek sebatas lutut. Kuambil bantal, lalu memukul-mukulkannya ke tubuh Ian sambil berteriak histeris.

"Apa yang kamu lakukan padaku?! Apa yang kamu lakukan padaku?!"

Ian terlonjak bangun, menatap dengan satu mata terpicing. Terlihat sekali sangat mengantuk.

"Apa? Ada apa?" Ia memegangi kepala. Rambut nya acak-acakan.

"Apa yang kamu lakukan padaku?! Apaa?!" Aku berteriak histeris. Air mata membanjir tak tertahankan. Tangan terus menerjang, memberi serangan bertubi-tubi.

Ian berusaha melindungi kepalanya dengan kedua tangan disilangkan di depan wajah.

"Apa? Aku gak melakukan apa-apa," sahutnya sambil bangkit dari ranjang, berdiri di lantai dengan mata sedikit terpejam. Tangannya mengurut-urut kepala.

"Kenapa aku nggak pakai baju? Apa yang kamu lakukan?!" Emosiku meletup.

"Nggak melakukan apa-apa. Kamu nggak ingat kamu muntah-muntah di metromini? Bajumu terkena muntahan. Bajuku juga. Jadi, aku ... emmp ...."

"Apa? Apa?!"

"Membantu melepasnya."

Mataku membelalak. "Membantu melepasnya?" Ulangku dengan mata membeliak tak percaya. Ian duduk pelan di pinggir ranjang. Terlihat sangat mengantuk. Tangan terus memijit kepala.

Aku terisak. Lancang. 

Ian menoleh, mulai menatapku. "Aku nggak mungkin membiarkan kamu masuk angin, kaan? Kamu muntah banyak banget. Aku nggak macam-macam. Sungguh. Berani sumpah. Kamu bukan tipeku." 

Perlahan, tatapan sungguh-sungguh Ian  berganti penuh ejekan.

"Lalu kenapa tidur di sebelahku?!"

Ian mengusap-usap mata. "Aku sangat mengantuk. Masa kamu nggak ingat kamu terus muntah? Tubuhmu menggigil. Wajah, tangan, juga tubuhmu merah, agak bengkak juga. Kamu sepertinya alergi kerang. Aku ... bantu kompres dengan air es."

"Iii-aaan! Kamu ... kamu ...."

"Aku dokter, nggak mungkin biarkan orang sakit di depan mata. Dan ingat baik-baik, kamu bukan tipeku. Saat membuka bajumu, aku gak buka mata. Serius gak bohong!" serunya, tangannya sigap menyilang di depan wajah saat aku hendak memukulnya lagi.

Ian menurunkan tangan, menyipitkan mata, menatap penuh ejekan lalu ngeloyor pergi. Dasar manusia menyebalkaaan!