Musyawarah
"Dek, sampean kok kelihatan sedih banget toh?" tanya Fatimah melihat adiknya yang tampak muram. 

Shofiyah hanya menunduk menahan kata yang nyaris terucap. Namun, seakan tercekat. 

Jamal mendongakkan dagu istrinya, lalu menatapnya dengan tatapan teduh yang menenangngkan. Senyum simpul sang suami membuat Shofiyah sedikit terpompa keberanian untuk mengutarakan maksud hati. 

"Kamu merasa keberatan dengan urunan ini, Dek?" sela Halimah sebelum Shofiyah berucap. 

Si bungsu tak jadi mengucap. Isi hatinya sudah diwakili sang kakak, barusan. Ia hanya mengangguk mengiyakan. 

"Kamu jangan khawatir, Sof! Selametan ini, kan kita niat Shodaqah sesuai tradisi di masyarakat. Mohon maaf mbak bilang begini ... itu 'kan totalnya 15 juta, yang 10 juta uang Halimah. Bon belanja di Pak Dulloh yang 5 juta itu, Mbak yang tanggung. Terus yang 5 juta, ditanggung Fatimah biar mbayar ke Halimah. Nah kan jadi adil! Kepiye ... Kalian setuju, ndak?!" usul Mbak Saidah si sulung. Bergantian melihat wajah ketiga adiknya yang didampingi suami masing-masing. 

Fatimah, dan Halimah tersenyum. Mengangguk pertanda setuju. Toh mereka paham, bagaimana kondisi ekonomi adik bungsunya. 
Fatimah setuju, sebab dia meskipun hanya ibu rumah tangga biasa, tetapi dia juga aktif berdagang lewat online dan dagangannya cukup laku. Lebih-lebih dia pandai memasarkan aneka produk skincare dan obat herbal bersertifikat Halal MUI. 

"Aku setuju, Mbak!" balas Halimah. 

"Aku juga setuju!" Fatimah ikut menimpali. 

Kini, wajah Shofiyah yang tadinya ingin menangis akan kesedihan berlipat itu, berubah menjadi tangis haru akan sikap dewasa, gotong royong, serta tenggang rasa dari ketiga kakaknya. Air matanya tumpah, tak terbendung lagi. Memang pada dasarnya si bungsu Shofiyah adalah wanita yang rapuh, dan cengeng. Namun di sisi lain, ia tegar. Meskipun tak glamor seperti ketiga saudaranya, ia tetap terlihat bahagia menjalani lika-liku kehidupan bersama sang suami. 

"Wes, Dek. Ndak usah nangis!" seru Fatimah yang mengusap bulir bening di sudut mata dengan ujung hijab oranye yang ia kenakan. 

Emak yang duduk di tengah, diantara putri kedua dan ketiganya pun ikut terenyuh, terbawa keadaan. 
Ia bangga sekali dengan kelapangan hati sang kakak yang bersedia mengalah mengayomi adik bungsu. 

"Sampean ndak perlu merasa ndak enak, Dek Jamal. Toh selama ini, kami semua di perantauan. Dek Jamal dan Shofiyah, yang merawat Emak sama Bapak di rumah. Jadi, anggaplah kita sudah urunan sesuatu yang seimbang, dan adil," sambung Hamdan--suami Mbak Halimah-- 

Jamal pun ikut terbawa suasana, kedua matanya mulai berkaca-kaca mendengar apa yang dikatakan kakak iparnya barusan. 

Memang benar, keempat anak Emak dan Bapak berperan sesuai kemampuan masing-masing. Shofiyah yang kurang mampu dari segi finansial, selalu ada di sisi kedua orang tuanya. 
Shofiyah, dengan kelemahlembutannya, berpadu dengan sifat sabar sang suami. Mendampingi orang tuanya di masa senja. Bapak Sunardi yang di usia senjanya mengalami stroke, Shofiyahlah yang memapah, memandikan. Bersama suaminya dia dengan telaten dan sabar membasuh dan mengusap perlahan tubuh Bapak dengan air wudhu. 

Shofiyah sembari menggendong Irham--putra keduanya-- ia tak segan menyuapi Bapak tiga kali sehari. Tak lupa, mengatur jadwal minum obat, serta jadwal check up ke dokter. Jamal dengan sabar, membantu sang istri dalam menunaikan kewajibannya sebagai seorang putri. 

Emak yang sudah senja pun, walau masih bisa berjalan dengan normal. Namun, mata Emak sudah mulai rabun. Emak juga sering mengalami nyeri lutut, dan Shofiyahlah yang memijit kaki emak dengan telaten. 

Beliau bersyukur memiliki putri yang berbakti serta kompak dalam mengurus keperluan hidup di masa senjanya. 

Shofiyah melarang Emak memasak, dan setiap harinya dialah yang mengirim makan. Bangunan kuno, rumah Emak yang luas itu, selalu tampak bersih di tangan Shofiyah. 

Untuk urusan keperluan seperti check up bulanan bapak ke dokter spesialis, uangnya ditanggung oleh ketiga kakak Shofiyah, secara bergantian. 

"Oh iya, Mak. Bapak sebelumnya pernah ngomong ke saya, tentang rencana jual Tambak deket Rawa Lor, apakah sekarang ini, bisa dibahas. Mumpung semua anak dan menantu, pada berkumpul." Rozak memulai topik obrolan lain, yang sontak membuat semua mata mengarah padanya yang masih mengetok putung rokok kreteknya ke asbak.
Rozak adalah suami dari Mbah Saidah, si Sulung. 

Jamal menelan ludah mendengarnya, ia menelaah ke mana arah topik yang dibicarakan kakak ipar, tambak yang dimaksud kakaknya itu, adalah yang selama ini ia garap. Dan dari tambak itulah dia mendapat salah satu dari sumber penghasilan. Meski harus menunggu berbulan-bulan untuk panen ikan nila, serta udang. Sebagian dari uang hasil tambak itu pun, ia berikan kepada ibu mertuanya. 

Selain Tambak, Pak Sunardi juga memiliki sawah yang luas. Namun, sawahnya dikontrakkan pertahun pada orang lain, karena tak ada anak yang bisa menggarapnya. 

Saidah menyenggol bahu suaminya, isyarat bahwa tak setuju dengan wacana barusan. Bapak belum lama meninggal. Mengapa suaminya sibuk membahas harta. Sedangkan sawah Bapak yang dikontrak sepuluh tahun itu, uangnya telah dibagi sama rata kepada semua anak. 

"Kenapa toh, Dek? Ini kan moment yang pas!" bisik Rozak pada istrinya.

"Kalau tambaknya dijual, ndak ada penghasilan mengalir Mas, sedangkan Emak juga masih membutuhkan. 
Kalau dikontrak pertahun seperti sawah sih, ndak papa," sergah Abdul Malik--suami Mbak Fatimah-- 

"Saya lebih setuju kalau dikontrak pertahun, Mas. Itu pun kalau setelah panen besok. Masih 2 bulan ke depan." Jamal yang pendiam, memberanikan diri untuk buka suara. 

"Nggih, Mas. Mas Jamal kemarin nyebar bibit Bandeng, Udang, sama Mujair. Sebentar lagi musim panen. Sayang kalau dikontrak sebelum dipanen," tambah Shofiyah mendukung pendapat suaminya. 

Komentar

Login untuk melihat komentar!