Penyesalan

Namaku, Hafiza. Usiaku 25 tahun. Usai mengantar kedua anakku ke sekolah, aku segera meneruskan perjalanan ke toko pakaian tempatku bekerja. Dalam perjalanan, aku memikirkan kembali masa 7 tahun yang kujalani bersama mantan suamiku. 



Menikah di usia 18 tahun saat baru lulus SMA dan langsung dikaruniai anak membuatku kehilangan kebebasan. Aku menyesal karena terlalu cepat menerima ajakan Aldi untuk menikah.



Nafkah yang diberikan Aldi sebagai karyawan bengkel, sangat pas-pasan. Belum lagi Aldi mengajakku mengontrak rumah di dekat rumah kontrakan orangtuanya yang tak pernah menyukaiku. Setiap hari yang kudengar hanya hinaan dan cacian. 



"Kamu sih Di, nyari istri yang nggak bisa apa-apa. Masih ingusan. Cuma bisa nyusahin." Begitu selalu tuding mantan mertuaku yang sudah menjanda sejak lama. 



Dia bergantung hidup pada suamiku, sehingga merasa terganggu karena gaji suamiku yang tak seberapa itu harus dibagi dua denganku. Aku sudah terbiasa makan hanya dengan nasi dan garam. Selama 5 tahun menikah pun, aku tak pernah membeli baju baru. 



Ketika anak keduaku sudah lepas ASI, aku memutuskan untuk mencari pekerjaan. Aku tak ingin lagi disebut sebagai benalu oleh mertuaku itu, karena tak membantu suami mencari nafkah. Tentu saja mertuaku senang. Dengan begitu, dia bisa mendapatkan uang lebih banyak dari kami. Anak-anakku diasuh olehnya saat aku bekerja. 



Untunglah aku bisa mendapatkan pekerjaan dengan cepat, karena usia dan penampilanku masih muda. Aku bekerja di toko pakaian. Sayangnya, tetap saja kondisi ekonomiku sulit karena mertua meminta jatah lebih banyak. 



"Kan kamu udah punya uang sendiri. Tambahin uang belanja Mami dong. Mami ada kredit karpet kemarin." Mantan mertuaku menadahkan tangan lagi, meskipun sudah sering kuberi. 



Terpaksa kuberikan uang yang sengaja kutabung untuk biaya sekolah anak-anak. Kalau kuceritakan hal itu kepada suamiku, dia malah memarahiku.



"Ya nggak apa-apalah! Toh, Mami sudah mengasuh Ara dan Daffa saat kamu kerja. Uang bisa dicari. Nanti juga dapat lagi," jawab suamiku, ketus. 



Begini rupanya menikah dengan anak tunggal anak Mami. 



"Masalahnya, uangnya dipake buat belanja barang-barang yang nggak penting," tukasku. 



"Belanja barang yang nggak penting itu apa?" Suamiku memandangku dengan mata berkilat. 



"Kemarin minta uang buat beli karpet." 



"Lho, itu barang penting. Kan bisa buat duduk di bawah." 



 "Kan udah ada sofa juga." 



"Ya Mami lebih enak duduk di bawah, apalagi sambil nemenin anak-anak. Udah ah, segitu aja kamu protes." Aldi tak mau diganggu lagi.



Aku menghela napas panjang. Sudah biasa kalau ucapanku tak didengar. Aku mencoba bersabar, sampai kemudian Aldi berselingkuh dengan Diana, seorang sales mobil dan mantan ibu mertuaku merestuinya! 



Perselingkuhan itu terbongkar saat ponsel Aldi tertinggal di rumah. Aku tak pernah membuka ponselnya, karena dia melarang. Rupanya memang ada yang disembunyikan. 



"Jelaslah kalau Aldi tertarik dengan Diana. Lihat aja penampilannya, lebih cantik Dania. Putih, tinggi, langsing," katanya. 



"Bu, inget Bu, Aldi sudah punya dua anak. Masak Ibu merestui perselingkuhan mereka?" Aku tak habis pikir. 



"Kenapa enggak? Kalo istrinya bisa diganti, Ibu malah senang. Gaji Diana lebih besar daripada gaji kamu." Ibu mertua mengatakannya dengan enteng, seolah itu tak akan menyakiti hatiku.



"Astaghfirullah…." Aku hanya beristighfar.



"Heh, memangnya aku hantu? Sok-sokan kamu istighfar terus!" Ibu melotot. Aku memilih meninggalkannya daripada berdebat tiada guna.

 


Keputusan cerai pun dibuat Aldi seolah tanpa pertimbangan matang dan mengingat anak-anaknya. Aku masih mencoba bertahan demi anak-anak, ternyata dia yang ingin bercerai. 



"Aku sudah nggak mencintaimu lagi," katanya, ringan.



"Gimana dengan anak-anak kita?" 



"Ya kamu uruslah. Kan kamu ibunya dan mereka masih kecil." 



"Kamu lepas tangan gitu aja?" 



"Nggak masalah kalo kamu mau aku yang urus anak-anak." 



"Enggak!" Aku tersadar tak ada lagi tawar menawar. Jika aku tak mau mengurus anak-anak, Aldi akan mengambilnya. Tak terbayang bila anak-anak tinggal bersama ibu tiri dan nenek yang jahat. 



Aldi tahu betul kelemahanku yang tak sanggup meninggalkan anak-anak. Pernikahan 7 tahun bubar begitu saja gara-gara mertua dan orang ketiga. Lalu, sekarang aku harus meninggalkan rumah kontrakanku? 



"Hei, melamun aja sih dari tadi. Baru sampe udah bengong gitu," tegur Siska, teman kerjaku. 



"Iya, aku pusing." Aku memijit kepala. 



"Pasti mantan mertua yang rese itu ya." Siska sudah tahu masalahku, karena aku sering cerita. Kami sudah seperti keluarga.



"Siapa lagi? Aku disuruh pindah kontrakan, karena dia nggak mau calon menantunya terganggu." 



"Gila! Udah nggak waras emang tuh keluarga! Apa nggak mikirin cucu-cucunya?" Siska geleng kepala. "Tapi emang bener sih, nggak enak tinggal dekat mantan. Apalagi cerainya nggak baik-baik." 



"Aku belum nemu kontrakan yang murah. Uangku nggak cukup. Kalau yang sekarang kan karena udah bertahun-tahun di sana, aku bisa bayar setengah tahun dulu. Kontrakan yang bulanan juga belum dapat yang dekat sini." Aku menceritakan masalahku.



"Berat banget masalahmu. Aku mau bantu, tapi aku juga nggak punya." Siska prihatin. 



"Nggak apa. Udah didengerin aja aku udah senang. Rasanya sebagian masalahku udah terangkat," kataku. 



Hari masih pagi. Belum ada seorang pun pembeli yang datang, sehingga kami masih asyik mengobrol. Urusan membersihkan toko, sudah ada yang melakukan. Tugas kami hanya menunggu dan melayani pembeli. 



"Oh iya… aku baru ingat…." Tiba-tiba Siska berbicara lagi.



"Ingat apa?" tanyaku.



"Kemarin tuh aku ditawarin kerjaan sama bibikku, tapi aku nggak mau. Kamu mau nggak?" 



"Pindah kerja?" 



"Iya, tapi kamu harus tinggal di sana. Jadi pembantu 24 jam." 



"Wah, wah… mana bisa? Aku kan ada dua anak. Mana ada majikan yang mau pembantunya membawa dua anak?" Aku menggeleng. Dari awal saja, aku pasti sudah tertolak. Walaupun begitu, menjadi pembantu yang tinggal di rumah majikan itu akan meringankan bebanku dalam hal mencari rumah kontrakan. Aku tak perlu lagi membayar biaya sewanya. 



"Yah dicoba dulu kalau kamu mau." 



"Dicoba gimana?" 



"Ya, kamu datangi dulu rumahnya dan tanyakan apakah bisa menerimamu dengan dua anak?" Siska menerangkan. "Bibikku kerja di situ sebagai tukang masaknya. Kesempatan bagus nih. Kamu kan nggak perlu mikirin biaya kontrak rumah lagi. Bahkan, kamu nggak perlu keluar uang makan!" 



"Iya, sih. Tapi kenapa kamu nolak?" tanyaku. Siska bisa juga mengambil kesempatan itu.



"Aku nggak mau kerja 24 jam. Lagipula, statusnya juga masih mending penjaga toko daripada pembantu," jawab Siska, tanpa bermaksud merendahkan. "Tapi, kalau kamu kan butuh pekerjaan semacam itu. Tinggal tanya dulu orangnya, boleh nggak kamu bawa dua anakmu itu." 



Aku mengangguk-angguk. Keadaanku memaksa untuk mencari pekerjaan yang bisa lebih meringankan bebanku. Tak peduli dengan status sosial, asalkan pekerjaan itu halal. 



"Bibikmu nginap juga di situ?" tanyaku lagi.



"Enggak. Bibikku masak aja. Udah masak makan malam, ya pulang. Dia nggak mau menginap. Makanya cari lagi pembantu yang mau menginap." Siska menjelaskan.



"Omong-omong… majikan bibikmu itu orangnya bagaimana?" tanyaku, menanyakan pertanyaan paling penting sebelum memutuskan melamar pekerjaan di sana.