Jangan sampai Jatuh Cinta
Kejadian di meja makan tadi membuatku benar-benar takut dengan sosok Alda. Ia kembali menyerangku semalam sebelumnya.

Beruntung, Mas Falah mampu mengalihkannya dengan membuat lelucon menggunakan Zubair. Dengan cepat, aku kembali masuk ke dalam kamar.

Sarapan pagiku diantar Bik Mar ke kamar. Ia berpesan padaku agar tetap berada di dalam kamar.

Ya, seperti saat ini, hari libur kuhabiskan dalam kamar. Karena bosan aku pun menelepon Mama. Tak menunggu waktu lama, wanita yang melahirkanku itu langsung mengangkat telponya.

“Assalamu’alaikum, Anakku Sayang. 

Gimana kabarmu, Nak? 

Mama kangen banget sama kamu. 

Sudah tiga bulan kamu di desa terpencil gitu, apa nggak bosan? 

Kapan kamu pulang? 

Aduh Nak, sebaiknya kamu keluar dari tempat kerjamu dan menjadi direktur di perusahaan Papa.”

Biasa, Mama kalau kutelepon selalu begitu. Panjang seperti kereta tangki yang mengangkut minyak. Aku sampai menahan napas mendengar pertanyaan yang itu-itu saja. 

“Wa’alaikumsalah, baik, Ma.”

“Eh, jawabnya pendek amat. Perasaan tadi Mama nanya banyak deh.” Suara Mama terdengar kesal.

Aku tertawa lirih mendengar respon Mama. 

“Ma, sudah beberapa kali aku bilang bahwa aku ingin mencari pengalaman dulu di tempat lain. Nggak mungkin jika anak kemarin sore langsung memimpin perusahaan Papa yang begitu besar?” dalihku. Padahal sebenarnya memang aku tak berniat meneruskan usaha Papa. Aku hanya ingin berdiri di kakiku sendiri.

“Iyaaaa … Mama paham, puas?” ucapnya berat. Ya, memang mungkin ini berat untuk Mama karena ia tak ingin perusahaan Papa jatuh ke tangan yang salah. Dua adik kandung Papa mengincar jabatan itu. Ini juga salah satu alasan aku tak mau ikut campur di dalamnya.

“Maaf, Ma. Sudah membuat Mama kecewa,” ucapku lembut.

“Nggak apa-apa, asalkan suatu saat kamu kembali dan menjalankan usaha papa yang ia bangun dari nol. Mama mohon, jangan membuat kerja kerasnya sia-sia, Nak,” lanjutnya mulai melunak. “Kamu sehat, ‘kan, Nak?”

“Alhamdulillah sehat, Ma. Semoga Mama juga sehat. Setiap pagi masih senam poco-poco, Ma?” tanyaku.

“Alhamdullah, ya karena senam inilah Mama dan Papa selalu diberi kesahatan oleh Allah. Pokoknya sebelum ke kantor, Mama memaksa Papa untuk ikut senam ini.” Terdengar suara Mama tertawa.

“Alhamdulillah kalau begitu. Oh ya, ada sesuatu yang ingin kutanyakan tentang kehidupanku setelah kuliah. Kenapa aku bisa lupa ya, Ma?”

Hening. Mama tak menjawab pertanyaanku.

“Ma?”

“Eh, ya. Apa, Nak?” tanyanya.

“Aku mau tahu kehidupanku setelah kuliah seperti apa? Apa aku bekerja atau mungkin menikah? Ingatanku hanya terbatas pada saat aku menganggur dan melamar kerja di tempat ini beberapa bulan yang lalu.”

“Mmm … itu … anu … gini aja, Nak,” ucap Mama, “kamu penasaran aja atau penasaran banget?” Aduh, kenapa Mama jadi belibet gini, sih? Namanya penasaran yaa pasti ‘banget’.

“Kalau kamu penasaran aja, ya kamu temui Mama di rumah,” imbuhnya.

“Lah kalau penasaran banget?” tanyaku.

“Sama,” jawabnya enteng.

“Ya nggak usah kasih pilihan kalau begitu, Ma!” ucapku sedikit sebal.

“Kamu bentak Mama? Marah?” tanya Mama yang membuatku gugup. Bagaimana bisa aku marah pada Mama, aku hanya gemas. Titik.

“Ya, enggaklah, Ma. Mana bisa aku jadi anak durjana eh durhaka begitu?” Kulembut-lembutkan jawabanku.

“Pokoknya kamu pulang baru Mama cerita!” tegasnya.

Obrolan di telpon pun berakhir setelah kami saling mengucap salam. Agak rumit ini. Ada sesuatu yang disembunyikan Mama. Tapi apa?

Terkurung di kamar membuatku jenuh. Kubulatkan tekad untuk keluar kamar atau keluar rumah sekalian untuk mencari udara luar. Meskipun nanti Alda menganiayaku lagi, tak apa, yang penting aku sudah berhasil kabur dari rumah. 

Kuambil masker dan memakaikan di wajahku. Sekali lagi, dengan mengendap, aku keluar kamar. Namun kondisi rumah sepi. Di mana orang-orang?

Aku melenggang bebas berjalan ke ruang tengah. Saat melewati kamar Bik Mar, terdengar samar-samar orang berbicara. Sepertinya Bik Mar sedang menasehati Alda. Aku pun melihat dari pintu kamar Bik Mar yang sedikit terbuka.

Terlihat Alda yang memakai daster merah jambu duduk di depan cermin, sedangkan posisi Bik Mar berada di belakangnya. Kali ini tak kulihat rambut yang kusut yang menjuntai ke depan di wajah Alda, melainkan rambut hitam legam yang telah dikepang. Siapa lagi kalau bukan Bik Mar yang mengepang rambutnya. Wajah ibu dari Zubair itu juga lebih tenang, bersih, putih, merona, dan … cantik.

Astaga, apa yang kupikirkan tentang wanita stress itu? Jangan sampai aku menaruh hati pada wanita yang telah menganiaya diriku.

Gegas aku keluar rumah dan berjalan tanpa arah. Ya, tujuan utamaku hanya keluar rumah. Saat sampai di depan masjid, aku bertemu dengan salah satu tetangga Bik Mar.

“Mas ganteng!” sapa wanita gemuk yang kutaksir usianya sama dengan Bik Mar.

Aku hanya menoleh dan mengagguk menanggapinya, seperti biasa.

“Eh, siapa wanita yang melahirkan di rumah Jeng Marsinah?” tanyanya berapi-api.

“Keponakannya,” jawabku singkat. Aku hanya ingin melanjutkan jalan-jalanku.

“Keponakannya yang mana?” cecarnya lagi.

“Ya, keponakan yang itu. Mau yang mana lagi?” jawabku enteng tanpa tersenyum.

“Eh Jeng, Jangan tanya sama Mas ini, kaku orangnya,” bisik wanita lain yang baru datang, sepertinya ia menyaksikan obrolanku dengan tetangga Bik Mar yang gemuk ini, “mending tanya sama Mas yang satunya aja. Dia ramah banget. Itu dia.”

Dua wanita yang tadinya berada di hadapanku itu kini berlari mejauh. Mereka berhenti di depan pria yang sedang menggendong bayi di tempat yang teduh, Mas Falah.

Dengan tersenyum, Mas Falah menanggapi kedua wanita itu. Sepertinya mereka bertiga terlibat obrolan yang hangat. Tak segan Mas Falah mengoper Zubair ke tangan wanita gemuk yang berbicara denganku tadi. Sementara wanita lainnya menowel pipi sambil menciumi bayi mungil itu.

Ih, jorok! Mereka sudah cuci tangan dan gosok gigi belum? Duh, melihatnya aku jadi mual. Kuputuskan untuk melanjutkan perjalananku. Namun, belum sampai kakiku beranjak, Mas Falah memanggilku.

“Woi … Mas Yazid, mau kemana?” Tangannya melambai padaku.

Aku menunjuk arahku berjalan tanpa bersuara.

“Mau pakai motorku?” teriaknya. “Sini! Ini kuncinya.”

Eh, aku jawab apa. Mas Falah belum tahu kalau sebenarnya aku tidak bisa mengendarai motor. Terpaksa, aku mendekati pria itu, sementara dua wanita tadi sedang sibuk dengan Zubair. Akan kucari alasan untuk menolak tawarannya.

“Makasi, Mas. Nggak usah, deh. Aku udah lama nggak jalan kaki. Nah ini kesempatan untuk memperkuat otot kaki,” kilahku sambil membuka masker di wajah.

“Panas-panas gini?” selidiknya.

“Aku cuman―”

“Eh, wajah Mas ini kok mirip sama dedek bayinya. Apa jangan-jangan―” Tiba-tiba salah satu dari wanita itu memotong ucapanku. Sedangkan wanita yang menggendong Zubair langsung menoleh ke arahku.

“Lho iyaya, mirip banget!” tegas wanita itu.

Tanpa banyak kata, aku pun berlari meninggalkan mereka. Bingung bagaimana harus menjawabnya. Kuabaikan suara Mas Falah yang memanggilku.

Lelah rasanya berlari tanpa tujuan. Biasanya kalau berniat jogging, nggak akan secapek ini rasanya. Aku pun berhenti di salah satu swalayan “IndoMei”.

Gegas aku masuk dan membeli kebutuhanku. Tak lupa aku membelikan pula cemilan untuk Bik Mar dan Mas Falah, juga … Alda. Tiba-tiba dadaku berdetak kencang mengingat wajah wanita stress itu.

Kukembalikan cemilan yang kuambil untuk Alda dan hanya mengambil untuk Bik Mar dan Mas Falah. Aku tak mau menaruh hati pada wanita stress. Apalagi dia bekas istri orang. Nehi!

Setelah membayar di kasir, aku pun melangkah pulang ke rumah. Karena kakiku pegal, aku pun berhenti dan menelepon pegawai produksi yang kemarin mengantarku pulang, namanya Tono. 

Beruntung, Tono sedang tidak sibuk dan ia bisa mengantarku. Namun, sebelum sampai di rumah kuajak ia makan di warung lesehan. Tak lupa kuberikan tip. Pria ini senang sekali dan bersedia mengantarkan kemana aku pergi. Bagus!

Sebelum pulang dari warung lesehan, tak lupa aku membungkuskan nasi bebek goreng untuk Mas Falah dan Bik Mar. Sementara untuk Alda, kupilihkan menu tempe penyet dan terong.

“Itu kok beda, Pak?” tanya Tono saat tak sengaja ia melihat penjual membungkuskan lauk tempe.

“Nggak apa-apa, mengurangi kolesterol,” jawabku asal. Sementara Tono di belakangku hanya ber’oh’ ria mendengar jawabanku.

Usai membayar, motor melaju ke rumah Bik Mar. Setelah mengantarku, Tono pun berpamitan. 

Masih dengan sikap siaga, aku mengendap masuk ke dalam rumah. Berjaga barangkali Alda sedang berkeliaran.

Benar saja, Alda sedang duduk di kursi tengah. Ia tak melakukan apa-apa selain menggoyangkan kaki dan mengamatinya. 

‘Canti-cantik kok stress,’ gumamku.

Saat tengah memandangnya, tiba-tiba wanita itu menoleh. Dengan gerakan cepat wanita berkulit bersih itu menghampiriku. Sekali lagi matanya menatap nyalang ke arahku.

Si*l!