Juber oh Juber
“Bik Mar?”

“Bibi nitip Juber di sini ya, Mas,” ucap Bik Mar yang langsung masuk kamarku tanpa persetujuan dariku, “Bibi mau merawat ibunya dulu.” Sosok wanita berdaster itu menaruh bayi mungil yang wajahnya mirip denganku itu di ranjang. Setelah memastikan bayi itu aman, wanita itu melangkah keluar kamar. 

Sebelum Bik Mar keluar dari kamar, aku menanyakan tentang kondisi ibu bayi itu.

“Begitulah, Mas Yazid.” Bik Mar menunduk.

Loh, apanya yang begitulah? Belum mulai cerita apa-apa kok sudah begitulah? Aku hanya mampu melihat wanita gemuk itu keluar kamarku dan masuk ke kamar sebelah.

Setelah memastikan keadaan bayi ini aman, aku mengendap melihat kamar sebelah. Aku penasaran dengan apa yang akan dilakukan Bik Mar dan ibu bayi itu.

Terlihat Bik Mar menuntun wanita yang hanya mengenakan kemben berjalan menuju sumur. Saat aku hendak mengikuti mereka, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara pria.

“Mas Yazid mau nonton Bik Mar mandiin wanita itu?” Mas Falah tengah menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Di tangannya ada gelas. Sepertinya ia habis minum dari ruang makan yang letaknya bersebelahan dengan kamarku.

“Aurat itu, Mas,” lanjutnya.

“Emang siapa yang mau nonton? Emang dia pertandingan bola?” jawabku asal. “Eh, Mas Falah sudah sehat?” Kualihkan pembicaraan agar Mas Falah tak membahas tindakanku barusan.

“Sudah berangsur pulih, Mas Yazid. Ini mau balik lagi ke kamar untuk istirahat,” ucapnya sambil berbalik menuju kamarnya. Namun, langkahnya terhenti karena mendengar tangisan bayi.

Aku dan Mas Falah berlari bersamaan menuju asal suara. Dengan cekatan, Mas Falah menggendong bayi itu. Aku terkesiap dengan kesigapannya.

“Mas Falah uda nikah?” tanyaku pada pria yang mengenakan jaket tebal itu.

Pria itu diam sambil mengayun-ayun tubuh mungil Juber, eh bener nggak sih namanya Juber? 

“Belum,” jawabnya.

“Yakin? Itu … Mas Falah pinter banget menggendong bayi?” cecarku yang disambut dengan tatapan elangnya.

“Aku lebih senang Mas Yazid pendiam seperti biasanya,” ucap Mas Falah, “kayak ada manis-manisnya gitu. Daripada sekarang!” Mas Falah menekan di akhir kalimat. Membuatku mulutku terbungkam seketika.

Lama kami terdiam dengan pikiran masing-masing. Sementara Juber sudah kembali terlelap di ranjang. Mendadak Mas Falah mengambil ponselnya dan … 

“Permisi, Mas.” Suara Mas Falah diikuti kilatan cahaya dari ponselnya mengenai wajahku. 

“Coba amati ini!” pintanya.

Si*l. Mataku silau. Kukerjapkan mata, agar titik merah, kuning dan hijau yang terlihat di pandangan menghilang.

“Hehehe, maaf, Mas Yazid,” ucapnya sambil menggaruk kepala, “coba lihat ini, Mas. Kalian bagai pinang dibelah dua.”

“Ya, Mas. Tau!” sengitku.

“Lalu?” tanyanya.

“Lalu apa?” Aku mendelik ke arah pria yang menatapku lekat.

“Aku nggak mau su’uzon, Mas. Makanya, aku nanya.” 

“Ya, nanya aja, Mas!” Lama-lama berbicara dengan Mas Falah membuat tensiku naik.

“Mas ada hubungan sama ibu bayi ini? Masa lalu mungkin?” Pertanyaan Mas Falah membuatku kembali berpikir. 

Saat aku hendak menjawab, Bik Mar masuk dan hendak mengambil bayi mungil itu. “Terima kasih banyak ya, Mas. Sudah mau menjaga Juber.”

“Siapa namanya, Bik?” tanya Mas Falah pernasaran. Mungkin di telinganya nama Juber sangat aneh.

“Ju-ber.” Mulut Bik Mar maju lalu meringis mengucapkan nama bayi itu.

“Kok aneh namanya?” selidik Mas Falah. Lama-lama pria ini mirip dengan detektif Conen, banyak sekali pertanyaannya.

“Yaa itu namanya, Mas,” ucap Bik Mar, “sebenarnya namanya sulit. Bibi hanya bisa manggilnya begitu.”

Agak lama berpikir, Bik Mar pun kembali bersuara, “namanya itu ada huruf jet, ada huruf u―b―a―i―terus apalagi yaa .. oh iya, huruf r.”

“Zubair.” Teriakku dan Mas Falah bersamaan.

“Ah iya, itu,” ucap Bik Mar sambil tertawa. Tangannya terlihat hendak mengambil Zubair.

“Bik Mar,” panggil Mas Falah. Wanita itu menghentikan aktivitasnya.

“Ya, Mas Falah?” 

“Sebenarnya bukan ranah saya untuk bertanya tentang indentitas wanita itu secara detail, tapi saya bingung saat ada tetangga yang menanyakan tentang keponakan Bik Mar,” ucap Mas Falah, “maaf, Bik, mereka mengira, wanita itu adalah istri salah satu dari kami.”

Bik Mar terkejut dengan ucapan Mas Falah, sama halnya denganku.

“Maaf, ya, Mas Falah … Mas Yazid … sebenarnya, Alda juga bukan siapa-siapa Bibi,” ucap Bik Mar menunduk.

“Lalu dia?” tanyaku terkejut.

“Dia wanita yang ditinggal suaminya sejak usia kandungannya empat minggu. Menurut cerita, suaminya pergi setelah mereka bertengkar. Sejak saat itu suaminya tidak pernah kembali,” terang Bik Mar.

“Lalu kenapa Bik Mar mau merawatnya kalau dia bukan siapa-siapanya Bibi?” tanya Mas Falah.

“Namanya Alda. Ibunya adalah sahabat Bibi yang beberapa hari yang lalu meninggal. Kondisinya memprihatinkan, Mas. Sejak ditinggal suaminya, ia bergantung pada ibunya. Setelah ibunya meninggal, ia tak memiliki siapa-siapa lagi. Akhirnya, Bibi berinisiatif untuk merawatnya, juga bayinya.” Buliran bening meluncur bebas dari mata Bik Mar.

Tak kusangka, begitu mulia hati Bik Mar. Ia mau merawat Alda dengan baik. Meskipun ia tahu bahwa anak dari sahabatnya itu memiliki gangguan mental.

“Bik Mar, jangan sungkan untuk memanggil saya saat butuh bantuan untuk menjaga bayi ini.” Dengan lembut, Mas Falah menawarkan dirinya.

“Terima kasih banyak, Mas Falah. Mohon maaf, Bibi merepotkan.”

“Saya juga, Bik,” ucapku.

“Juga apa, Mas Yazid?” tanya Mas Falah sedikit meledek.

“Hmmmm … saya bantu secara finansial. Kalau butuh popok atau susu buat Zubair, bilang saya, Bik.”

“Catet! Nih, Mas sudah kurekam di sini janjimu,” ucap Mas Falah sambil menunjukkan ponselnya.

“Ck!”

“Sudah … sudah … Bibi senang sekali Mas berdua mau meringankan beban Bibi,” ucap Bik Mar senang, “untuk makan dan mencuci pakaian, serahkan semua pada Bibi. Gratis untuk Mas berdua.”

“Alhamdulillah,” jawab Mas Falah keras.

Bukannya aku tak senang, tapi memang aku nge-kos di sini juga sudah sekalian dengan paket makan lengkap dan mencuci pakaian. Jadi hal ini biasa untukku.

Berbeda dengan Mas Falah, ia biasanya melakukan semuanya sendiri. Jadi cuci pakaian dan makan gratis merupakan angin segar untuknya. 

Tiba-tiba wanita dengan kemben yang masih melilit tubuhnya berada di pintu kamarku. Tubuh dan rambutnya basah. Ia menggigil kedinginan.

Sekejap Mas Falah memalingkan wajahnya ke arah lain. Sementara aku, tak melewatkan kesempatan ini. Dengan tangannya, Mas Falah menutup mataku.

“Dosa, Mas!” sengitnya.

“Ya Allah, Bibi lupa merendam Alda terlalu lama.” Gegas wanita itu menarik Alda keluar kamar.
***

Malam hari, sesuai janjinya, Mas Falah menggendong Zubair saat Bik Mar berangkat pengajian. 

“Mas Yazid, tolong ambilkan susunya,” ucap Mas Falah saat mendapati Zubair sedikit gelisah.

“Kamu aja deh, Mas. Tanggung nih!” Aku menawab tanpa menoleh padanya. Fokusku masih pada ponsel di di tangan.

“Kalau gitu kamu yang gendong, biar aku yang buat susu,” tukasnya sambil menaruh Zubair di pangkuanku.

“Stop … stop! Oke aku yang ke sana.” Kukembalikan lagi Zubair pada gendongan pria tegap di hadapanku. Terlihat senyum mengembang dari wajahnya.
 
Tanpa banyak bicara, aku melangkah menuju kamar ibu Zubair. Dengan pelan, kuketuk pintunya. 

Tok tok tok. 

Tok tok tok.
 
Tok tok tok.

Oke, sudah tiga kali aku mengetuk pintunya tetapi tidak kunjung dibuka. Aku kembali ke ruang tengah di mana Mas Falah dan Zubair berada.

“Mana susu botolnya, Mas?”

“Ibunya sedang tidur,” jawabku asal. Kuraih lagi ponselku yang tergeletak di kursi.

“Kamu masuk kamarnya tanpa izin?” cecar Mas Falah.

“Ya nggaklah, Mas!”

“Lha itu kok itu tahu?” selidiknya.

Eh, benar juga Mas Falah. Bagaimana aku bisa tahu ibunya Zubair tidur tanpa melihat dalam kamarnya. Pintar sekali ia beranalogi.

“Ya … ngira-ngira aja,” kilahku, “tadi sudah kuketuk pintunya tiga kali tapi nggak dibuka. Pasti ia tidur. Lagipula kalau tiga kali ketukan pintu kita nggak direspon, haram hukumnya mengetuk pintu lagi.” Aku kembali mengamati ponselku.

“Kutipan dari mana itu, Mas?” selidiknya.

“Kutipan dari―”

“Ini.” Ucapanku terpotong oleh suara kaku dan datar seorang wanita.

Serentak, aku dan Mas Falah menoleh. Merinding. Di salah satu sudut ruangan ada wanita berdiri dengan rambutnya yang kusut. Sekali lagi, rambut itu menutupi wajahnya. Di tangan wanita itu ada sebotol susu. Ia mengangkat botol itu seolah ingin agar salah satu dari kami menerimanya.

Namun, saat wajahnya memandang ke arah kami, tiba-tiba suaranya melunak dan bergertar, “Mas Romi.”