Mencari Harap
Assalamualaikum. Semoga berkenan subscribe dulu sebelum lanjut membaca. Karena satu tekan jarimu utk subscribe, itu sgt berarti untuk penulis.

Lelaki dengan Seribu Tahajud (2)
 
-Mencari Harap-

Semuanya jadi terasa membingungkan bagi Alqi. Benarkah apa yang di katakan Bapak ini? Kenapa bisa rumahnya terjual? Tergadai? Jadi benar kecurigaannya selama ini.
 
Sekali lagi matanya melirik ke dalam. Ada seorang Ibu datang menghampiri lelaki itu.
 
“Ono opo, to, Pak?” (Ada apa, sih, Pak?)
 
“Mboh iki. Anak’e wong sing ndue umah mbiyen palen, mbalek mrantau ora eroh nek wong tuone wes ngedol umah iki.”  (Entah ini. Anaknya orang yang dulu punya rumah ini mungkin, pulang dari merantau nggak tahu kalau orang tuanya sudah menjual rumah ini.)
 
Seorang anak kecil berusia sekitar enam tahun ikut keluar menghampiri, menatap Alqi dengan seksama.
 
Alqi mulai mengerti situasianya. Ia menghela napas panjang beberapa saat. Lalu bangkit mengucapkan permisi.
 
“Wongalah, Le, Ibukmu ki uwes sakwulan pindah. Po ra ngabari utowo nelepon kowe, to? Rene-rene, mlebu sek, Bude gaekno teh anget.”
(Ohalah, Nak. Ibumu itu sudah satu bulan pindah. Apa tidak mengabarimu? Sini-sini, masuk rumah dulu, Bude bikinkan teh hangat.)
Tangan wanita paruh baya dengan rambut tergelung itu menarik lengan Alqi ke dalam.
 
Alqi mengikuti kemudian duduk. Setelah sedikit berbasa-basi. Mendapat informasi, dimana keluarganya sekarang tinggal. Yang konon katanya hidup mengontrak. Alqi memutuskan untuk pergi mencari.
 
“Terima kasih, Bude. Kalau begitu Alqi mau langsung permisi. Takut kemalaman. Alqi mau langsung saja mencari Ibu.”
 
Raut wanita itu berubah sedih. Tetangganya satu ini memang sangat menyayangi Alqi sejak kecil. Sayangnya ia tak bisa membantu banyak keluarga Alqi. Ia hanya mengangguk kecil setelah berusaha membujuk pemuda berusia dua puluh satu tahun itu, untuk menginap, namun tak berhasil.
 
“Hati-hati kamu, Le.”
 
Alqi melangkah, melewati rintik hujan yang mulai menderas. Mencari alamat kedua orang tuanya.
 
***Aj
 
Sebuah rumah papan berukuran sedang. Alqi mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Seorang wanita bertubuh ringkih. Sedang menjahit pakaian. Aktivitas yang ia lakukan sehari-hari. Menerima jahitan, atau sekedar membantu menambal pakaian.
Mencari penghasilan, membantu suaminya yang hanya seorang pedagang kain di pasar. Di sebelah mesin jahit itu, ada pintu yang didalamnya terlihat seseorang bersarung dan berkopiah sedang berdiri shalat.
 
“Ayah, Ibu,” bisiknya. 
 
Tak tahan dengan dalamnya rindu, Ia menghambur masuk, lalu memeluk sang Ibu dari belakang. Wanita yang sedang serius menekuri kain di hadapannya itu sedikit tersentak, menoleh sesaat kemudian terpekik bahagia.
 
“Ya Allah, Nak. Kamu sudah pulang …?” Ia segera membalik posisi tubuh. Memeluk erat lagi putranya. Dibingkainya wajah anaknya  itu dengan kedua tangan tuanya.
 
“Nak, kok kamu nggak bilang-bilang kalau mau pulang?” tanyanya sembari mengusap-usap wajah putranya itu meluapkan rindu.
 
“Bu, gimana Alqi mau bilang kalau semua nomor nggak bisa dihubungi? Bahkan Alqi harus mencari-cari dimana Ibu sekarang tinggal …?” Ada yang bergemuruh dalam dada pemuda itu. Tapi demi menjaga perasaan ibunya, ia berusaha bersikap tenang.
 
Bibir wanita dengan wajah yang mulai menampakkan kerutan itu bergetar menahan sesuatu.
 
“Maafkan Ibu, Nak.” Tes! Sebulir air menerobos begitu saja. Rahang Alqi seketika mengeras.
 
“Jadi, Bu? Ini yang Ibu dan Ayah sebut punya uang untuk menguliahkanku? Jadi ini kenapa Ibu bilang di telpon terakhir kali kemarin untuk jangan pernah pulang sebelum wisuda? Ini yang Ibu bilang kalian di kampung baik-baik saja? Kenapa, Bu,kenapa Yah, harus menyembunyikan semuanya dari Alqi? Katakan Ibu sama Ayah pinjam uang dimana? Rentenir mana yang sudah mengambil rumah kita?” tanyanya penuh emosi.
 
Lelaki yang usai shalat itu hanya mematung berdiri di depan pintu kamar.
Sementara sang istri sudah tak mampu menahan isak dipeluk dua anak gadisnya yang sudah menghambur padanya barusan.
 
“Kenapa rumah yang sudah bertahun-tahun Ayah bangun dengan peluh keringat Ayah, dengan susah payah, digadaikan begitu saja? Kenapa ayah biarkan dirampas paksa oleh mereka? Kalau tahu biaya kuliahku dari uang rentenir, kalau Ayah Ibu jujur dari awal, Alqi nggak akan mau kuliah, sudah Alqi katakan berkali-kali bukan, Yah, Bu?”
 
Pemuda ini meradang. Ia teramat menyesal, kecewa, kenapa orang tuanya harus berbohong dan memaksakan diri menguliahkannya kalau uang itu dari uang haram.
Ia teramat menyayangi kedua orang tuanya. Ia pernah menolak untuk kuliah, tapi sayangnya orang tuanya membujuknya sedemikian rupa, mengatakan akan mampu membiayai.
 
Rosmina, Ibu Alqi, memang teramat menyayangkan seandainya Alqi tak kuliah, melihat putranya itu adalah lulusan terbaik di sekolahnya. Terlebih setelah mengetahui putranya itu lolos test Teknik Elektro ITB. Ia membesarkan hati Alqi bahwa untuk menguliahkannya, ia dan suaminya masih mampu. Tapi ternyata, di kemudian hari, Rosmina baru menyadari biaya kuliah anaknya itu terlalu berat untuk ditanggung. Ia dan suaminya sudah tak mampu membiayai, tapi ia juga tak ingin putranya itu tak tenang jika biaya kuliahnya menunggak, uang makanan bulanannya tak dikirim. sehingga godaan untuk menggadaikan surat rumah kepada rentenir menjadi jalan keluar yang ia ambil tanpa sepengetahuan suaminya. Achmad percaya saja ketika Rosmina berbohong memiliki tabungan yang sudah disimpannya sejak lama. Terlebih sudah dua bulan ia tak mampu memberi nafkah maksimal akibat ditipu orang kepercayaannya.
 
Seumur hidup, Alqi tak pernah menangis, tapi kali ini, ia menangis. Terlebih ketika melihat saat ini, ketiga adiknya Annisa, Annida, dan Altaf  dan kedua orang tuanya yang nampak kurus. Mungkin mereka terlalu sering berhemat atau malah sering menahan lapar, bahkan adik-adiknya mungkin berangkat sekolah tak pernah jajan demi orang tuanya bisa melunasi cicilan kepada rentenir itu. Hingga akhirnya, rumah yang selama ini menjadi tempat bernaung, harus lepas diambil paksa oleh centeng-centeng bertubuh kekar, bayaran si nyonya rentenir.
 
Alqi menyesalkan yang sudah terjadi. Menyayayangkan kenapa demi sayang ibunya kepadanya justru tergelincir pada perbuatan dosa. Tapi ia pun menyadari tak akan bisa membantu apa-apa. Karena jangankan untuk menebus kembali rumah itu. Kuliahnya sendiri pun belum sepenuhnya tuntas. Ia sedang mengerjakan banyak praktek sembari menyusun tugas akhir saat ini. Tapi setelah mengetahui keadaan orang tuanya saat ini. Ia putuskan untuk tak melanjutkan kuliah, yang entah akan sampai kapan. Ia berjanji, akan bekerja sekuat tenaga, demi bisa melunasi hutang-hutang ibunya, wanita yang teramat ia sayangi itu.
 
Alqi  berjanji, esok, akan menemui rentenir itu, menegosiasikan barangkali bisa mengambil kembali rumah orang tuanya. Meski entah dengan cara bagaimana, ia belum tahu.
----
Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi).
_______

200 koin emas untuk komentar terbaik di cerita ini.