Jangan Menangis Annida
Mohon klik subscribe n follow dulu sebelum membaca untuk membantu akun penulis bertumbuh.

Lelaki dengan Seribu Tahajud
Bab 4

“Alqi minta tolong, Bu. Dalam keadaan sebagaimanapun kepepetnya, jangan pernah lagi minjam uang sama rentenir. Ibu sudah tahu hukumnya.  Alqi minta maaf, kalau Alqi sudah jadi anak yang nggak penurut sama Ibu. Mulai saat ini, Alqi putuskan untuk berhenti kuliah. Alqi mau merantau cari kerja saja.”

Wajah sang Ibu langsung merebak merah.

“Nak, mau kemana kamu? Kuliah kamu sedikit lagi selesai, Nak.” Rosmina berpindah duduk di sebelah putranya dan mulai terisak memeluk bahu itu. Ini yang ia takutkan. Sejak semalam ia sudah tak tenang mendengar keinginan anak lelaki dengan IQ 133-nya itu yang sudah ingin berhenti dari kuliahnya. Rosmina semakin merasa berdosa karena sudah satu bulan ini memang kiriman biaya hidup untuk Alqi tak dikirim, juga termasuk biaya semester yang belum dibayar, walau sebenarnya Rosmina sudah berjanji akan segera mentransfer. Mungkin itu yang menyebabkan Alqi memutuskan pulang.

“Kamu anak yang cerdas, Nak. Ibu sangat membanggakanmu. Terlalu besar harapan Ibu sama kamu. Seandainya saja saat itu Ayah nggak di tipu. Mungkin Ibu nggak akan berani pinjam ke rentenir. Ayah dibohongi oleh orang yang sangat Ayah percaya tak mungkin menipu. Maafkan akhirnya Ibu harus jujur. Nak.” Bahu wanita yang rambutnya sudah mulai ditumbuhi uban itu berguncang-guncang menahan tangis.

Akhirnya diceritakannya beban hidup Rosmina dan suaminya itu, yang selama ini tak pernah ia ceritakan bahkan kepada adik-adik Alqi. Berderai-derai air mata wanita yang sedang pilu itu membayangkan kesedihan anaknya harus berhenti kuliah. Sementara meminta anaknya melanjutkan kuliah, bukan saja karena Alqi tak menginginkan lagi. Tetapi ia sendiri sudah tak punya uang lagi, bahkan untuk membayar pinjaman rentenir yang semakin bergulung itupun akhirnya ia bingung. 

Tadinya Rosmina sempat optimis bisa mengembalikan semuanya. Sayangnya usaha suaminya justru semakin bangkrut pasca ditipu uang belanja kain belasan juta yang raib di bawa kabur orang yang sudah menjadi kepercayaannya sejak lama itu.  Selain menjahit baju, Rosmina berjualan camilan yang ia titip-titipkan ke warung-warung kecil. Sayangnya itu hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan makan mereka sehari-hari dan biaya sekolah ketiga adiknya Alqi. Semakin berderai Rosmina membayangkan nasib anak-anaknya kelak akan seperti apa. Ia merasa sebagai orang tua yang gagal.

Sementara di dalam kamar. Terlihat Achmad duduk termenung juga dengan air mata yang menetes diam-diam.

“Abang, mau pergi kemana? Abang jangan pergi …?” Annisa, adik perempuan pas di bawah Alqi itu mendekat ke hadapan Alqi yang sedang memasang sepatu.

“Doakan Abang saja, Nisa. Abang titip adik-adik sama kamu. Tolong jaga mereka, jaga juga Ayah Ibu, ya. Abang akan kirimin kalian uang bulanan begitu sudah dapat kerja. Kamu bikin rekening tabungan nanti, ya,” ucapnya sembari mengelus rambut wanita kelas dua SMA itu.

Annisa semakin tertunduk dengan derai air mata tak tertahan. Ia tak punya kata larangan walau sebenarnya ingin. Besar harapannya kepada abangnya itu agar kelak menjadi orang yang sukses dan bisa mengangkat derajat keluarga. Ia teramat mengagumi lelaki kokoh pendirian ini sedari kecil yang selalu membanggakan keluarga juga sekolah. Sering menjadi wakil sekolah mengikuti olimpiade tingkat kabupaten atau provinsi. Hafalan Qur’an yang nyaris tiga puluh juz. Teramat disayangkan jika masa depan abangnya itu suram. Ia tak ingin abangnya gagal. Tapi apa boleh buat, bahkan ia hanya mampu meratapi keadaan tak mampu membantu apa-apa.

Nida menghambur memeluk tubuh Alqi sesenggukan. Sementara di sudut ruangan Altaf, adik bungsunya itu diam mematung dengan tatapan kosong.

“Adik-adik Abang. Kalian jangan terlalu bersedih. Tetap lakukan yang terbaik. Belajar sungguh-sungguh, jaga shalatnya. Bantu Ayah Ibu. Semoga Abang bisa bantu kuliah kalian nanti, jangna pernah putus harapan dan pesimis, ya,” pesannya kepada ketiga adiknya itu.

Mendengar itu Rosmina semakin tergugu memeluk erat putranya. Bahkan ia sendiri tak mampu menuntaskan kuliah anak kebanggaannya itu sendiri sampai lulus. Paceklik di desanya yang apa-apa serba susah membuat Rosmina dan Achmad memang tak bisa berbuat banyak.

Teringat pertama kali ia menginjakkan kaki di bumi Lampung ini. Mengikuti ibunya yang janda dan sudah renta. Demi tak ingin berpisah dengan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Ia meminta suaminya untuk ikut berpindah pulau, di sini, di sebuah desa yang jauh dari keramaian, demi bisa menjaga ibunya yang sudahtua renta. Achmad hanya menurut, menyadari ia bukan suami yang bisa memenuhi kebutuhan istri dan anaknya secara berlimpah. Ddesa Galanghani, sebuah desa yang tak maju, bahkan terkadang tak ada kendaraan umum yang melintas. 

Achmad memulai peruntungan. Membuka toko pakaian dan kain di pasarnya. Karena hanya itu kemampuannya sebagai orang Padang. Ia tak mahir bercocok tanam seperti rata-rata penduduk kampung sini yang bersuku jawa. Sementara Mintarsih, Ibunya Rosmina, Nenek Alqi, hidup dari hasil kebun tak luas di belakang rumahnya.

Bertahun kemudian Mintarsih meninggal. Rosmina tetap melanjutkan hidup sederhana sembari menyekolahkan anak-anaknya. Karena tak mungkin kembali ke Jakarta membesarkan ke empat anaknya dengan biaya hidup yang pastinya mahal.

“Alqi pamit, Bu, Yah. Ia bangkit, mencium tangan kedua orang tuanya.”

“Kamu mau pergi ke kota mana, Nak? Hu hu hu hu.” Berderai-derai air mata Rosmina tak ingin melepas pelukannnya.

“Ibu tenang saja. Alqi sudah terbiasa hidup mandiri ‘kan? Alqi pasti akan cepat dapat kerjaan. Alqi akan pergi ke Jakarta, Bu.”

Achmad bangkit, menepuk-nepuk bahu istrinya. Menguatkan.

“Ikhlaskan saja, bu. Kita tak bisa membantu apa-apa. Doakan yang terbaik untuk anak kita saja,” ucap Achmad dengan bijak. Meskipun sebenarnya ada gemuruh dalam dadanya. Menyadari dirinya sebagai lelaki yang gagal dan tak berguna. Tapi ia harus terlihat tenang dan tegar di hadapan anak-anaknya.

“Hati-hati, Nak. Dimanapun kamu berada. Tetap jaga shalat. Kabari terus Ibu kamu, ya,” pesannya, lalu memeluk putra kebanggaannya itu.

“Maafkan Ayah. Belum bisa memberi yang terbaik untuk pendidikanmu,” lanjutnya.

Alqi mengangguk-angguk dalam pelukan ayahnya. “Tak masalah, Yah. Ini bukan hal besar untuk Alqi. Tapi Alqi janji kalau sudah cukup uang untuk kuliah, Alqi akan lanjutkan kuliah. Alqi akan urus surat-surat cuti kuliah dulu sebelum ke Jakarta, nanti,” balasnya kepada lelaki yang ia kagumi itu.

Setelah itu. Alqi melangkah dengan ringan meninggalkan rumahnya. Berjalan kaki menuju kabupaten, mencari kendaraan yang bisa mengantarnya ke Bandung.

“Abang ... “ Isak Annida. Ia berlari mengikuti abangnya hingga ujung gang. Lalu melambaikan tangannya hingga abangnya hilang dari pandangan mata.

Ia kembali berjalan  pulang ke rumah dengan pandangan yang terus menunduk.

“Nida …” Seseorang menyebut namanya. Annida ragu mendongakkan pandangan karena matanya basah. Diusapnya segera pipinya itu berkali-kali sampai bersih. 

“Kak Fatya …?” balasnya setelah mengetahui siapa yang menyapa.

“Kamu kenapa, Nida? Kenapa kok nangis di jalan?” tanya Fatya heran menatapi wajah gadis kecil ini.

Nida semakin sedih, bahunya berguncang kembali. 

“Aduh-aduh, kamu kenapa. sini-sini kita istirahat dulu di gardu.” Fatya memapah Nida hingga duduk di sebuah gardu. 

“Kamu tenang, ya. Tapi nggak apa-apa kalau mau menangis, biar lega,” ucapnya.

Mengelus punggung Annida yang sedang terus sesenggukan, menantinya hingga sedikit mereda. Diusapnya wajah Nida dengan jilbab miliknya.

“Bang Alqi, kak ….” ucapnya Nida kemudian.

“Bang Alqi, kenapa dengan abangmu, Nida?” tanyanya lembut.

Diceritakannya semua kesedihan Nida kepada wanita muda itu. Wanita yang memang layak menjadi tempat bersandar dan mengadu bagi Nida. Usia Fatya yang seumuran dengan kakaknya, Annisa, membuat Nida merasa nyaman bercerita. Terlebih Fatya adalah wanita yang berpikiran dewasa dan keibuan membuat banyak orang senang dekat dengannya.

Fatya mengangguk-angguk usai mendengarkan cerita Nida. 

“Kita doakan saja Abang kamu, ya, Nida. Kita juga nanti shalat dan minta pertolongan Allah agar bisa mempermudah kehidupan kita. Kita doakan semoga Bang Alqi di sana lekas menemukan jalan keluar dan kemudahan menyelesaikan masalah-masalahnya. Semoga apa yang jadi impian Bang ALqi, Nida dan keluarga akan segera menjadi kenyataan,” ucapnya menenangkan Nida.

To be continued 

Shalat yang paling menunjukkan rasa terima kasih kita kepada Allah adalah sholat dhuha. Shalat yang paling menunjukkan rasa cinta kita kepada Allah adalah shalat malam. (Alqi Quote)

Swipe untuk next bab