Sebuah Nestapa
Assalamualaikum teman-teman, Bersilaturahmi kembali dengan karya Asa Jannati. Semoga teman-teman tak keberatan untuk mendukung karya ini menjadi karya yang bisa dinikmati banyak orang, agar setiap ibroh yang ada dari karya ini, bisa tersampaikan lebih luas. So, bantu rekomendasikan karya ini dengan klik dulu subscribe dan jangan lupa follow agar kita selalu terhubung. Terima kasih, ya.
 
Lelaki Dengan Seribu Tahajud 
bab 1
 
Temaram lampu jalanan berpendar tertimpa rintik-rintik kecil hujan yang baru saja turun.
Gegas Alqi menepi berteduh di teras warung kecil tepi jalan yang sudah tutup. Ia mengeluarkan jaket dalam tasnya, segera memakainya lalu menutup kepalanya dengan kupluk dan melangkah kembali melanjutkan perjalanan.
 
Dalam benaknya terbayang wajah Ibu dan Ayah yang pasti berbahagia melihatnya kembali, setelah dua bulan tak jumpa dari kota tempatnya menempuh pendidikan. Ingin segera ia mengacak rambut dan menciumi ketiga adiknya yang sudah sangat ia rindui itu. Lelah kaki melangkah berkilo meter menuju kampungnya tak ia hiraukan.
 
Alqi mendesah lega kala akhirnya ia bisa melihat atap rumahnya di perempatan gang. Ia percepat langkah hingga akhirnya kakinya menjejak di teras rumah. gawai hitam putihnya sedikit bercahaya kala ia melihat jam pada layar. Pukul sepuluh malam.
 
Alqi duduk di teras rumah sesaat, melepas sepatu dan kaus kakinya yang sudah basah. Lalu mengeluarkan sesuatu dalam tas punggungnya.
 
“Assalamualaikum.” Ia ketuk pintu rumahnya perlahan. Tak ada jawaban. Sekali lagi, ia ketuk, barangkali keluarganya sudah tidur. Dipindahkannya ke dekat dada satu buah pelastik berisi oleh-oleh yang sengaja ia beli untuk adik-adiknya itu. Lalu ia coba ketuk kembali. Sayang, ketukan ketiga kalinya pun tak ada yang merespon.
 
Ia duduk kembali, menanti dengan sabar sembari memandangi taman kecil di depan rumahnya yang nampak rapi itu. Hingga akhirnya, ada seseorang membuka pintu. Diamatinya lelaki itu dengan seksama. Alqi merasa tak mengenal lelaki tersebut.
 
“Siapa, ya?” tanyanya. Tak dijawab. Lelaki dengan usia kisaran empat puluh tahun itu justru mengamati Alqi dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti heran.
 
Sementara Alqi berusaha mengingat-ingat sosok di hadapannya, barangkali ia adalah saudara jauh yang sedang berkunjung ke rumahnya. Sayang, ia sama sekali tak mengingat siapa sosok itu.
 
Alqi mencoba tersenyum kepadanya. Kemudian melangkah masuk ke dalam rumah. Diamatinya pemandangan dalam ruang tamunya yang kini sedikit berbeda.
 
“Eh, Mas. Maaf, kamu siapa, ya, kok masuk-masuk ke rumah orang?” Lelaki itu menarik tangan Alqi keluar rumah dengan tatapan yang mulai curiga. 
 
Alqi semakin bingung. Kenapa ia tak diijinkan masuk ke dalam rumahnya sendiri.
 
“Maaf, Bapak ini siapa, ini rumah saya.” Alqi balik bertanya dengan heran. Kenapa tak ada satupun adik atau orang tuanya keluar menyambutnya. Kemana mereka?
 
Lelaki itu tak menjawab, tapi reaksi wajahnya berubah tak bersahabat. Dia mundur, berdiri di depan pintu, memasang badan seakan membentengi pintu.
 
“Pak, ini rumahnya Pak Achmad, kan? Bapak saya.”
 
“Pak Achmad? Pak Achmad siapa? Apa dia pemilik rumah ini sebelumnya? Dia sudah nggak tinggal di sini, Mas. Sudah pergi. Rumah ini sudah saya beli.”
 
Seketika Alqi tercenung. Keluarganya sudah pergi?  Rumah ini sudah dibeli orang?

Next?
 _______
Swipe kanan utk baca kelanjutannya. 

Akan ada hadiah 200 koin emas utk yg rajin like dan komen, asal sudah subscribe. diumumkan di akhir bab terbaru. Di bagian bawah postingan. Jadi yuk sedikit ketik2 jarimu.