Bukan Prioritas
Entah mengapa pagi ini terasa berbeda. Teh Husna yang biasanya berbincang hangat denganku malah bersikap sedikit dingin. Ya, hanya sedikit. Karena ia masih menyemburatkan senyum walau tipis dan tanpa kata.

“Teh, lihat sinetron, yuk.” Seperti biasa aku mengajaknya dengan semringah. Sedikit pun tak ada rasa benci yang mengakar di dalam hati ini. Aku bahagia bisa dianggap keluarga oleh Teh Husna dan Kang Zein. Bagiku, mereka seperti orang tua, seperti seorang kakak, walau nyatanya aku adalah madu di rumah ini.

Kegamangan hati kembali mendera tatkala Teh Husna abai dengan ajakanku barusan. Wanita yang tingginya lebih rendah dariku masih sibuk bergeming dengan benang rajut, aku menghela napas, melirik kursi di sampingnya yang kosong. Dengan segenap keberanian, kududukkan tubuh ini di sana. 

Kami masih saling membisu, aku dengan kegamangan sementara Teh Husna bersama keanehan. Kubiarkan sunyi mengelilingi kami, sembari menatap anggrek-anggrek hibrida di depan sana, aku menyelami diri sendiri, mungkin ada sikap atau perkataan yang salah hingga membuat si ramah menjadi senyap.

“Madu?” Aku terhenyak, refleks kepala ini menoleh. Kusunggingkan senyuman setulus mungkin, berharap Teh Husna sadar, jika diri ini amat menyayanginya. Amat hormat padanya, walau sering kali aku bersikap hiperaktif di hadapannya.

“Iya, Teh?”

“Tadi kamu ngajak nonton apa?” Senyumnya masih terlihat berbeda, seperti dipaksakan. 

“Sinetron, Teh,” sahutku walau agak heran, kenapa ia bisa lupa. Atau memang tak mendengar?

“Bosan. Sinetronnya begitu-begitu saja.” Teh Husna terkekeh, aku hanya bisa menyipitkan mata. Jemari putih nan berisi itu kembali memainkan benang rajut, wanita itu memang sangat menyukainya. Hampir setiap hari, tangannya tak pernah berhenti menyulam dan menyulap benda itu menjadi sebuah benda yang bermanfaat. Seperti tas, dompet, bahkan peci. 

“Ajarin Madu ngerajut juga, Teh.” Seperti biasa aku bersikap manja, agak merengek mengatakan hal tersebut. Namun, reaksi Teh Husna sangat berbeda dari biasanya, ia menoleh dan menatapku lekat, tanpa senyuman hingga membuat bibir ini hampir saja memudarkan lengkungan.

“Sepertinya, kamu sangat tertarik dengan milik orang lain, ya?” Senyumanku benar-benar memudar. Hatiku tertohok mendengar sahutan Teh Husna. Benar-benar tak mengerti dengan sikapnya hari ini.

“M-maksud Teteh?”

“Maksudku, kamu itu sepertinya sangat tertarik dengan hobi dan pekerjaan orang. Kamu memiliki keingintahuan yang sangat besar.” Kali ini Teh Husna melebarkan senyum seperti biasa, namun aku masih memandangnya bingung.

“Itu bagus, Madu. Kamu memang hiperaktif dan kreatif.” Hampir saja aku berprasangka buruk pada wanita pemilik dagu bulat ini. Kembali, bibirku tersungging mendengar pujian darinya.

“Jadi, Teteh mau mengajarkanku?” tanyaku dengan semringah. Teh Husna diam, namun kepalanya mengangguk pelan. Ada hal yang membuatku kebingungan, sorot mata Teh Husna benar-benar tak biasa, ia menatap wajah ini agak lekat sebelum menyudahi obrolan. Ah, bukan … bukan wajah yang ia pandangi, netra itu tertuju pada bibir ini.

*** 

“Demi Allah, Husna! Akang belum pernah meraih Surga dunia bersama Madu!” Kakiku berhenti mengayun begitu saja, perkataan Kang Zein terdengar begitu jelas dari dalam bilik kamar dengan pintu sedikit terbuka.

Dengan cepat aku menggeleng, berniat melangkahkan kaki kembali, namun entah mengapa hati ini tak bisa menahan rasa penasaran. Benar apa kata Teh Husna, aku memang memiliki rasa keingintahuan yang dalam. 

Namaku yang disebut menjadi alasan juga, mengapa kaki ini tetap berdiri di sudut pintu. Walau dengan gugup aku berusaha bertahan, hanya karena ingin mendengar sahutan Teh Husna.

“Jangan bohong, Kang. Bibir Madu yang tampak legam, membuktikan jika Kang Zein begitu bergairah padanya!” Refleks jemariku mengusap anggota tubuh yang dibicarakan Teh Husna barusan.

Lebam? 

Ah … seharusnya malam itu aku tak menggigit bibir sendiri. Hal kecil seperti ini nyatanya malah menjadi bumerang bagi dua insan yang saling dimabuk cinta. Andai dalam hal begini aku bisa mengesampingkan kesopanan, mungkin aku sudah masuk ke dalam kamar dan menjelaskan padanya, jika luka di bibirku bukan karena Kang Zein. 

Pantas saja, tadi Teh Husna memandangi bibirku begitu lekat. Jadi ini alasannya.

“Lebam? Bahkan aku sendiri tidak tahu jika bibir Madu lebam. Lebih baik kamu tanya langsung padanya, Na.”

“Tidak etis rasanya kalau bertanya langsung, apa lagi jika alasannya memang benar begitu. Kang … aku bukan tidak ikhlas, bukan tidak rida. Hanya saja, kalau kamu memang mencintai Madu, jangan berlaga tidak suka padanya. Itu namanya munafik, Kang.”

“Ya Allah, Husna … berapa kali aku bilang. Aku tidak mencintainya, rasa sayangku pada Madu tidak lebih dari seorang adik. Dari dulu dan sampai kapan pun rasa itu tidak akan pernah berubah.” Panas pelupuk ini mendengar kalimat Kang Zein. Harusnya memang aku tidak lancang menguping pembicaraan mereka, sekali pun pembahasan keduanya mengenai diriku.

“Kang, Husna lebih suka Akang jujur. Bukan kah lebih baik kalau Akang memperlakukan Madu seperti Akang memperlakukan Husna? Bukan kah lebih baik jika Akang memberikan nafkah batin padanya? Seperti yang selalu Akang berikan hampir setiap malam pada Husna.” Entah setan apa yang merasuki jiwa, hingga membuatku masih tetap bertahan berdiri di sini. Menyesapi kenyerian di dalam raga. 

“Apa lagi … kalau sampai Madu bisa memberikan keturunan untukmu, Kang. Bukan seperti aku yang man—”

“Cukup, Husna! Jangan ulangi kalimat itu lagi! Perkataan adalah doa. Allah hanya belum memberi kepercayaan, itu saja.”

“Tapi kita hampir dua tahun menikah, Kang ….”

“Mau dua tahun, mau sepuluh tahun. Jika Allah belum berkehendak bagaimana? Jangan takut, Husna. Aku menikahimu bukan karena ingin keturunan, tapi karena aku ingin didampingimu selama hidup di dunia ini. Soal anak, biarlah kita serahkan pada-Nya.” Keheningan mereka membuatku menghirup napas sedalam mungkin, menghapus genangan air yang belum sempat meluncur bebas dan beranak sungai di pipi ini.

“Sekali lagi, jangan tekan aku untuk mencintai Madu. Aku benar-benar belum siap,” ucap Kang Zein hingga menimbulkan genangan kembali di pelupuk mata.

Tak ada lagi percakapan di antara mereka, mungkin keduanya tengah larut dalam pelukan hangat bersama perasaan cinta yang membara. Atau bahkan lebih, aku tak kuat jika harus membayangkannya.

*** 

Sambil menatap concealer aku tersenyum walau dengan hati basah. Kurang baik apa sebenarnya Kang Zein padaku? Selama ini, ia selalu memberikan apa yang kubutuhkan. Ia menafkahiku dengan baik walau hanya secara materi. 

Aku harus benar-benar bersyukur, masih ada yang mau menerimaku dengan ikhlas, hingga membuat diri ini tak terlihat kepayahan karena sebatangkara.

“Madu?” Suara itu, aku mengenalnya.

“Iya, Kang.” Kusimpan concealer dengan segera, lalu memunggungi kaca rias yang sedari tadi menampilkan wajah.

Kang Zein tak melanjutkan ucapan, ia berdiri dengan raut wajah yang tak biasa. Seperti ada sesuatu yang tertahan dalam dirinya. 

“Kamu baik-baik saja?” Aku tersenyum, rasanya terharu sekali mendengar pertanyaan lelaki berkulit kuning langsat itu.

“Alhamdulillah, baik, Kang.” Kang Zein tersenyum, mendamaikan hatiku yang tengah dikobar api cemburu.

Kang Zein menarik kursi tempatku melukis, ia menempatkan beda itu di hadapanku, lalu ia duduk dengan seenaknya tanpa peduli debaran yang tengah terjadi di dalam ragaku.

“Madu, bibir kamu kenapa?” Cepat kupegangi anggota tubuh yang ia maksud.

“Apa masih kelihatan, Kang? Padahal Madu sudah menutupinya dengan concealer.”

“Masih kelihatan, sedikit.” Kang Zein tersenyum, namun tak membuat cekungan di bibir atasnya menjadi datar. Hal yang paling kusuka dari lelaki ini adalah bagian tersebut. Ah, beruntung sekali Teh Husna. Ya Allah, pikiranku jadi kemana-mana.

“Kamu belum jawab, Madu.”

“Ah, iya ….” Aku berpikir sejenak, mencari jawaban yang lebih pas. Masa iya aku harus berkata jujur, kalau aku menggigit bibir sendiri hanya karena rasa nyeri di hati?

“Ini kejedot di pintu kamar mandi, Kang. Memangnya Akang tidak dengar aku meringis sebelum salat Subuh?” Kang Zein tampak berpikir, aku jadi ingin tertawa. Sejauh apapun pikirannya berlari untuk mengingat, tak mungkin bisa didapat. Jelas aku berdusta.

“Enggak, Akang gak ingat.” Aku tersenyum, lalu menunduk sebelum kembali menatap.

“Lain kali hati-hati, ya. Lukamu itu buat Teh Husna terluka juga.” Aku tahu pembahasan ini akan mengarah ke mana. Dengan segera kuucap maaf, tak sedikit pun berniat membuat luka-luka di antara mereka.

“Tidak apa-apa, Madu. Akang hanya berharap kamu selalu berhati-hati.” Aku tersenyum lagi, entah kenapa rasa sedih dan bahagia bergumul menjadi satu. Aku bahagia karena Kang Zein tak pernah memarahiku, ia selalu menasihatiku dengan kelembutannya. Namun aku sedih, karena di balik itu semua, tersirat peringatan secara halus, jika aku harus selalu berhati-hati, agar perasaan Teh Husna tak ternodai.

Tiba-tiba percakapan kami harus terhenti, suara gaduh di depan cukup mengganggu, membuat lelaki di hadapan ini beberapa kali menoleh ke arah pintu.

“Sepertinya ada tamu. Dari suaranya Bapak sama Ibu. Akang keluar duluan, ya. Kamu jangan lupa mengekor, kita ‘kan belum makan malam.” Kang Zein hampir saja merobohkan ketegaranku saat jemarinya mengusap pinggiran bahu ini.

Aku hanya bisa tersenyum saat ia benar-benar berlalu, kemudian mata ini beralih pada kursi bekas dudukannya. Masih dengan lengkungan di bibir, aku terisak.

***

Benar, rupanya bapak dan ibu yang berkunjung. Tentu bapak ibu yang dimaksud adalah orang tua Teh Husna. Orang tua yang kami punya hanyalah mereka.

“Belum ada kabar gembira, ini?” tanya Bapak saat nasi di piring kami sudah sama-sama habis. Sementara Kang Zein tampak melirik mertuanya sembari mengelupasi kulit jeruk, buah favoritnya.

“Kabar gembira apa, Pak? Kabar gembira ‘kan banyak.” Teh Husna terkekeh. 

“Maksudnya, di antara kalian belum ada yang … isi?” Ibu melanjutkan, membuat keadaan hening mendadak. Kami saling melempar tatap.

“Belum ada, Bu. Doanya.” Kang Zein menimpali, aku tersenyum walau terasa miris.

“Selalu. Orang tua pasti selalu mendoakan, Nak. Hanya saja, kami punya masukkan. Berharap kalian mau menerimanya dengan baik.” Ritme jantungku jadi cepat, entah kenapa aku merasa tak nyaman, merasa jadi benalu di antara mereka. Ah, tapi itu memang kenyataannya.

“Insyaallah, Pak.” Kang Zein menyahut lagi. Hingga akhirnya, lelaki paruh baya berkacamata itu tampak menghela napas.

“Begini, demi kebaikan kalian, bagaimana kalau Husna dan Madu hidup secara terpisah?” Aku mendongak refleks. Lalu menunduk lagi, menunggu jawaban Kang Zein.

“Maksudnya, pisah rumah untuk sementara waktu. Ya, memang kalian sudah sama-sama ikhlas, kami pun sama. Hanya saja, sedikit banyaknya pasti lah selalu ada rasa cemburu di hati wanita mana pun jika melihat cinta suaminya terbagi. Ini Bapak blak-blakkan saja, ya.” Aku memberanikan menatap Kang Zein, ia tampak mengangguk dengan hormat.

“Bapak takut, kecemburuan atau rasa tak nyaman itu membuat batin kalian terluka, akhirnya rasa yang tertahan itu jadi pikiran. Akhirnya kalian susah punya keturunan. Walau bagaimana pun, usia kalian ini sudah cukup buat punya anak. Apa lagi, Bapak sama Ibu sudah pengen punya cucu. Entah itu dari Husna, baik dari Madu.”

“Tapi, kalau dipisah bagaimana, Pak? Husna dan Madu harus tinggal di mana?”

“Ya terserah, Zein. Bapak siap kok menampung Husna mau pun Madu di rumah kami.” Allah, rasanya berat membayangkan jika aku yang harus tinggal di rumah Bapak dan Ibu. Tapi, tak pantas juga jika aku tinggal di sini, secara rumah yang kami tempati sekarang murni bangunan milik Kang Zein dan Teh Husna.

“Biar Zein cari solusi dulu ya, Pak.” 

“Iya, Zein. Jangan terburu-buru, itu juga terserah keikhlasan kalian, Bapak sama Ibu hanya kasih masukkan.” Kang Zein mengangguk sembari tersenyum, lalu ia membagi belahan jeruk pada Teh Husna, tidak padaku.

Itu memang kebiasaan Kang Zein, memberikan separuh buah yang wangi itu pada istri pertamanya, pada kecintaannya. Aku sadar diri, tak pantas menerimanya. Sambil menunduk, pikiran ini melayang jauh entah ke mana. 

Apa Kang Zein akan mengirimku ke rumah Bapak dan Ibu? Atau kah ke tempat yang lebih jauh, sampai ia benar-benar melupakanku? 

Rabbi, aku hanya berpasrah pada-Mu. Aku tak berharap banyak, karena diri ini tetap lah nomor dua. Bukan prioritas yang selalu diutamakan.  

Bersambung