Belaian Zein
Kata siapa istri kedua itu paling bahagia? Kata siapa istri kedua itu selalu jadi yang pertama? Kedua, tetap lah kedua. Takkan menjadi sebuah prioritas di hati sang hamba.

"Mas, malam ini tidur lah bersama Madu." Entah mengapa ucapan Teh Husna terdengar jelas di telingaku, padahal ia berkata seraya berbisik. 

Aku tahu jawaban apa yang akan dikatakan Kang Zein, ia pasti tengah menggeleng tanpa sepengetahuan netra ini. Kuhela napas dengan berat, berusaha untuk selalu berpura-pura, menyibukkan diri dengan cucian piring yang hampir usai.

"Madu, sudah. Biar Teteh yang teruskan." Kali ini Teh Husna mendekat, baru lah aku menengok setelah menelan saliva dalam-dalam.

"Sudah selesai kok, Teh," sahutku sembari melengkungkan garis bibir, meletakkan piring terakhir pada rak yang tak jauh dari washtafel.

Sementara Kang Zein, kulihat ia sudah berlalu dari ruangan ini. Ya, hanya tinggal kami berdua, sama-sama istri sahnya walau aku diperlakukan berbeda.

"Madu, bujuk Kang Zein untuk tidur denganmu malam ini. Sudah hampir satu minggu dia tidur dengan Teteh." Ah, terbuat dari apa hati wanita di hadapanku ini? Setegar itu kah dirinya sampai begitu mudah memberi perintah yang jelas-jelas akan menyakiti kalbunya.

"Tidak, Teh. Malam ini Madu masih ingin melukis, harus bisa konsentrasi. Kalau ada Kang Zein, nanti fokusnya ambyar," sahutku menirukan bahasa yang tengah digandrungi semua kalangan.

Teh Husna tersenyum, ringan sekali tangannya mengelus bahu yang terbalut daster ini. Ketulusan dan keikhlasannya pasti termasuk alasan Kang Zein mencintai wanita ini.

"Kang Zein suamiku, dan ia juga suamimu, Madu. Kamu berhak atas dirinya, aku tak mau Allah sampai melaknat Kang Zein hanya karena ia tak bersikap adil." Aku dibuat terkagum oleh wanita bermata sipit ini, cantik sekali kalau Teh Husna tersenyum, matanya seolah hampir tiada, namun itu yang menbuat dirinya semakin manis.

"Sudah, ya. Masuk kamar. Teteh akan bicara lagi sama Kang Zein." Bibir ini kelu, mata pun hanya bisa menatapnya yang mulai menjauh. 

Aku yakin, ada setitik bahkan sebongkah cemburu di hati Teh Husna. Wanita mana tak sakit hatinya melihat sang suami berbagi kasih, walau kenyataannya tidak. Teh Husna begitu pandai menyimpan luka, pandai memancarkan bahagia.


***


"Masih melukis?" Aku kenal suara serak basah itu. Jantung terasa berhenti berdetak untuk sesaat, bujuk rayu apa yang dilakukan Teh Husna sehingga mampu mengantarkan pria ini ke kamarku?

"Iya, Kang." Sebisa mungkin aku menahan gugup, menatapnya sekilas sebelum kenbali bersatu padu dengan coretan abstrak di depan.

"Sudahi dulu, ya. Aku ingin istirahat. Tak bisa tidur jika lampunya menyala."

"Iya, Kang." Aku menurut, menyimpan kuas dan meminggirkan lukisan ke sudut ruangan. 

Kang Zein berbaring, sepertinya ia menungguku untuk mematikan cahaya di langit-langit sana. Mendadak jantung ini bergemuruh, dengan sekuat tenaga kubuang pikiran yang tidak-tidak. Mengingatkan diri sendiri, jika Mas Zein menungguku untuk menekan saklar, bukan menunggu untuk berbagi kasih.

Kini, hanya tinggal lampu duduk yang menyinari ruangan setengah gelap ini. Masih dengan debaran aku menyentuh ranjang dengan tubuh, baru sadar jika Kang Zein tidur dengan posisi telentang.

"Madu?"

"Iya, Kang?" Aku menoleh, wajahnya masih bisa kutangkap jelas karena lampu duduk di sisi kami.

"Maafkan aku, ya?" Dasar, memang hatiku ini sensitif sekali. Baru saja ia mengucap kalimat maaf, rasanya sudah tak karuan. 

"Maaf untuk apa, Kang?" Kang Zein malah bangkit, ia menyandarkan punggung ke kepala ranjang. Otomatis aku meniru. Tak enak jika harus berbicara dengan gaya tak sama.

"Maaf jika aku sudah zalim sama kamu." Duh, rasa ingin menangis, namun diri ini harus kuat seperti batu karang.

"Kamu sendiri tahu, bukan?" Kerongkongan tercekat rasanya. Jelas sekali aku tahu lanjutan kalimat Kang Zein. 

Aku tahu kalau pria ini sangat mencintai Teh Husna, mata ini adalah saksi coretan-coretan tangannya merangkai nama itu di setiap lembaran buku, bahkan di pintu lemari pakaiannya. Kaktus di depan rumah dulu juga ada ukiran nama itu. 

Masih ingat, saat Abah, tepatnya mendiang ayah Kang Zein memberi perintah agar anak semata wayangnya itu menikahi wanita menyedihkan ini. Sebelum sakaratul maut, wanti-wanti Abah menitipkanku pada Kang Zein, bukan sebagai adiknya lagi, tapi istrinya.

Jelas Kang Zein menolak, begitupun aku. Walau nyatanya kalbu ini sudah sangat lama sekali mencintainya, bahkan sebelum Kang Zein menuliskan nama Teh Husna di setiap benda di rumah, rasa sayangku sudah tumbuh dan mengakar lebih dulu.

Saat usia lima tahun, orang tuaku mengalami kecelakaan di Tol, dan hanya aku yang selamat. Ah, aku tak terlalu hapal dengan jelas, walau bayangnya terkadang samar-samar muncul di otak ini.

Abah dan Umi lah yang mengambil, merawat dan menjadikanku anak sampai sebesar ini. Dengan kasih tulus tanpa membeda-bedakan, rasa sayang mereka sama halnya pada Kang Zein. 

"Iya, Kang. Maafin Madu juga sudah jadi benalu." Aku meremas jemari yang tertutup selimut. Sakit sekali rasanya. Teringat kala Kang Zein memutuskan untuk meminang Teh Husna, remuk hatiku, hancur rasanya duniaku.

Kang Zein pergi tanpa tahu perasaanku. Bahkan sampai kini.

"Jangan bicara seperti itu, Madu. Kamu tetap adikku, selamanya akan seperti itu." Dari cahaya remang aku bisa melihat senyum Kang Zein tampak tulus, dan itu malah semakin membuat kalbu ini terkoyak.

"Iya, Kang. Terima kasih."

"Tidur, ya." Kurasakan elusan tangannya di ubun-ubunku, hal itu bukan membuat dada ini berdebar, namun terasa lebih ngilu. Belaiannya barusan bukan karena ia mencintaiku sebagai pasangan hidupnya, bukan.

Kang Zein kembali rebah sekarang, dan seperti biasa ia tidur membelakangiku. Air mata ini tak terbendung, sesak ... kugigit bibir bawah sekuat tenaga, sampai rasa asin memenuhi mulut ini.

Maafkan hambaMu, Rabbi. Harusnya hamba bersyukur, masih ada manusia yang mau menjagaku selain Abah dan Umi. 


Bersambung.