Berpisah
Kang Zein tampak tengah berbincang dengan belahan jiwanya di teras rumah, aku yang hendak pergi ke mini market memutuskan untuk mengurungkan langkah. Tak berani mendekat. Raut wajah keduanya jelas begitu serius walau terhalang kaca jendela.

Namun, tak lama Kang Zein berputar arah, aku yang gelapan akhirnya ikut memutar tubuh, mencoba mengayun langkah untuk kembali. Namun, sialnya suara yang kukagumi itu menggema di ruangan. Ya, Kang Zein memanggilku.

“Iya, Kang?” ucapku sembari berbalik, menyembunyikan gugup. Teh Husna terlihat mengekori suaminya itu.

“Akang mau bicara.” Entah kenapa aku jadi berdebar, apa lagi melihat wajah dua sejoli itu tak semringah seperti biasa? Oh, Allah. Apa aku melakukan kesalahan?

“Ada apa, Kang?” Kang Zein mengajakku duduk di kursi ruang tamu, tentu beserta istri pertamanya pula. Jujur aku semakin gugup, rasanya seperti hendak diinterogasi seorang polisi.

“Madu, seperti yang kita dengar waktu malam itu. Bapak menyarankan agar kita tinggal berpisah. Bukan karena apa, semua ini juga untuk kebaikan kita bersama,” jelas Kang Zein saat kami sudah saling berhadapan. Seperti biasa, lelaki itu selalu duduk di samping Teh Husna, bahkan tak sungkan menggenggam erat tangannya.

Nyeri … tapi aku sadar diri.

“Iya, Kang.” Aku menanggi dengan kalimat yang sama, tahu perbincangan ini akan mengarah ke mana.

“Jadi, Akang sudah memutuskan, kalau kamu akan menempati rumah almarhum abah.” Aku mendongak, menatap mereka lama sebelum kembali menunduk. 

Ya, rumah almarhum abah Kang Zein, abahku juga. Lelaki yang selama hidupnya begitu berjasa dan memberikan banyak cinta. 

“Jadi, nanti Akang akan membagi waktu. Tiga hari di rumah ini, dan tiga hari di sana. Dan di penghujung minggu kita bertiga bertemu.” Aku masih menunduk, mencoba menyembunyikan sesak serapat mungkin.

“Madu?” Suara Teh Husna membuatku tersadar, kusunggingkan senyuman termanis sembari menjawab halus.

“Kamu gak keberatan, ‘kan?”

“Tidak sama sekali, Teh. Insyaallah, keputusan ini adalah yang terbaik.” Kang Zein mengucap hamdallah, mungkin ia senang karena sebentar lagi makhluk benalu ini akan segera pergi. Ah, aku tak boleh berprasangka buruk, jelas keputusan ini lebih baik. Sangat baik.

“Kapan Madu pergi, Kang?” tanyaku membuat kedua sejoli ini saling tatap.

“Terserah kamu saja, Madu.” 

“Malam ini saja, ya? Lebih cepat akan lebih baik.”

“Kalau kamu masih betah di sini, jangan terburu-buru.” Lembut sekali Teh Husna menyahut, aku menggeleng seraya menampilkan senyum. Ingin terlihat baik-baik saja walau sebenarnya tidak demikian.

“Madu sebenarnya kangen rumah almarhum Abah, jadi lebih baik hari ini Madu segera menempatinya.”

Mereka tersenyum, aku pun tak berniat memudarkan lengkungan di bibir ini. Tak ingin menampakkan kesenduan di depan kedua orang yang selama ini sudah sangat berbaik hati. 

Kang Zein begitu semringah, jemarinya menggenggam erat tangan Teh Husna, bibir itu mengucap kalimat panjang, berharap jika sang istri cepat mendapat kepercayaan dari Yang Maha Pemurah. 

Aku tergagap saat Teh Husna meraih tanganku, menyatukan anggota tubuh ini bersama dengan genggaman mereka. 

“Semoga Madu juga,” ujarnya membuatku terpana. 

*** 

Deru mesin mobil tak terdengar lagi saat rodanya menapaki tempat parkir di depan gang. Kang Zein buru-buru turun, sementara aku hanya bisa menghela napas, lelaki itu tampak begitu semangat mengantarku ke sini.

Setelahnya, aku ikut mengekor, menurunkan barang-barang yang akan kubawa kembali ke rumah dulu. Tanpa sepatah kata, Kang Zein menutup bagasi lalu berjalan mendahuluiku. Langkah kakinya begitu cepat walau kedua tangannya tak kosong, terpaksa aku ikut menyeimbangkan langkah agar tak tertinggal.

Ah, lihat saja … Kang Zein tak berbalik, bahkan tak bertanya aku kesusahan apa tidak? Koper dan kardus besar di tangan jelas membuat diri ini kepayahan. Namun aku harus kuat seperti biasa, jangan jadi makhluk manja, apa lagi aku hanya nomor dua.

Hampir saja aku ambruk di depan pagar karena rasa letih, Kang Zein masih setia membisu, tangannya kini sibuk membuka pintu yang terkunci. Agak lama, dan itu membuatku semakin menghela napas dalam.

“Ayo.” Bukan kepalang senangnya mendengar lelaki itu bersuara walau hanya satu kata. Aku bersemangat untuk masuk ke dalam. Tiba-tiba saja pikiran ini melayang, mungkin kah Kang Zein mau menyentuhku malam ini?

“Bersih sekali ya, Kang?” Aku keheranan melihat rumah tua ini tak berdebu, masih sama seperti dulu.

“Iya, tiap tiga hari sekali Akang nyewa Bu Ijay buat bersihin rumah,” sahutnya sembari meletakkan benda-benda yang membebani tangannya.

“Bu Ijay tetangga sebelah?” Kang Zein mengangguk. Lelaki itu menepuk-nepuk kasur berbahan kapuk dengan sapu lidi. Jantungku jadi berdebar, apa kah Kang Zein akan menyempurnakan ikatan suci pernikahan kami malam ini? Apa Kang Zein akan menganggapku sebagai seorang istri? Ya Allah … aku berharap lagi.

Dengan semangat aku mengatur semua barang, memasukkan pakaian ke dalam lemari usang. Tak sabar ingin rebah di sisi sang pujaan. 

“Madu?”

“Iya, Kang?”

“Kalau begitu Akang pamit dulu, ya. Sudah malam.” Peganganku pada lembaran baju melemah seketika, namun dengan sisa kesadaran kemballi kueratkan. Tak ingin membuat Kang Zein curiga kalau pakaian ini jatuh dari genggaman.

“Kang Zein tidak bermalam di sini?” tanyaku memberanikan diri.

“Enggak, Madu. Teh Husna pasti sudah menunggu. Tapi, tiga hari lagi Akang ke sini.” Ia melebarkan senyum, tapi terasa sakit.

Ya, Teh Husna memang tidak ikut mengantarkanku, selain Kang Zein melarang karena takut istrinya itu kena angin malam, ia juga harus mengerjakan orderan online. 

“Kamu beneran gak apa-apa di sini sendirian? Bagaimana kalau Akang suruh Bu Ijay menemani kamu?” Aku menggeleng spontan, lewat senyuman mengisyaratkan jika aku baik-baik saja.

Kang Zein mengangguk singkat, kemudian melangkahkan kaki ke luar kamar. Sekilas kupalingkan tatapan pada kasur yang baru saja ia tepuk-tepuk dengan sapu lidi. Ah … aku sudah jadi budak cinta rupanya. 

“Pamit, ya. Jangan lupa kunci pintunya. Ini uang untuk bekal.” Kang Zein menyodorkan beberapa lembar rupiah, entah berapa jumlahnya, hati ini tak berhasrat untuk menghitung.

Setelah menyalaminya, Kang Zein memakai sendal dengan gusar, berbalik tanpa rasa khawatir meninggalkan wanitanya seorang diri. Benar bukan, aku wanitanya? 

“Kang!” panggilku refleks tatkala tubuhnya hampir sampai ke pintu gerbang. Ia terdiam, lalu tak lama berbalik.

Aku jadi bingung sendiri, mematung di ujung teras.

“Hati-hati,” ucapku tulus. Kang Zein tersenyum. Ia kembali beberapa langkah dan mendekat, berdiri di hadapan makhluk yang tengah menahan sesak di dada.

“Kamu juga.” Kang Zein mengelus ubun-ubunku, hampir saja dada ini meledak karena tak percaya. Masih dengan kegemingan, kubiarkan lelaki itu menjauh. Berharap ia menepati janji, kembali tiga hari lagi.

Bersambung