Dua
Tidak ada yang bicara di antara kami selama beberapa detik. Sejak semalam, setelah kuberitahukan pada ibu tentang Karnak, wanita yang kupanggil ibu selama kurang lebih 24 tahun itu tidak banyak bicara. Kami melalui malam yang panjang dengan bicara, lebih tepatnya berdebat. 

"Mom, katakan sesuatu, kumohon jangan diam saja," pintaku sebagai tanda bahwa aku menyerah akan sikap saling diam yang tidak berguna ini. Dia membawa dua piring roti isi telur dadar lengkap dengan sayurannya. Meletakkannya di atas meja, satu untukku dan satu untuknya, lalu kami duduk di meja makan dengan posisi berhadapan. 

"Apa yang harus Mom katakan, jika kau harus pergi ke sana mungkin itu yang diinginkan oleh Ayahmu," ucapnya, mimik wajahnya menyiratkan kepasrahan. Dia seolah menyimpan sesuatu setelah kematian ayah, sikapnya menunjukkan seperti itu. Kami jarang membahas tentang suaminya, hanya sekadar mengenang dengan cara yang tidak berlebihan. 

"Jika Mom tidak ingin aku ikut campur lagi tentang Ayah, akan kubatalkan ikut ke Karnak." 

Tanganku bergerak meraih roti isi, kemudian menjejalkannya ke mulut. Aku tidak tahu, seberapa sedih wanita ini setelah ditinggalkan oleh suaminya, mengapa dia bersikap seolah menutupi sesuatu bahkan ke putrinya sendiri. 

"Tidak...," bisiknya, "Ini kesempatanmu untuk melihat Ayahmu lagi." 
Mataku naik menatapnya, dia terlihat tidak nyaman dengan pembicaraan ini. Kuletakkan roti isi yang tinggal setengah bagian, entah bagaimana lagi caraku agar wanita di hadapanku ini bicara tentang sikapnya ini. 

"Tidakkah Mom senang dengan kabar ini? Ayah akhirnya ditemukan, dan sikap Mom seolah ... aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, tetapi Mom menutupi sesuatu dariku," terangku yang mulai muak dengan pembahasan ini. Ibuku menghela nafas panjang, mataku tidak akan berpindah dari sosoknya. 

"Aku bukan Ibumu." 

Terperanjat di dalam diriku, aku pun  bungkam. Informasi itu seperti granat yang dilemparkan tepat ke arahku dan meledak tepat di depan wajahku. 

⭐⭐⭐

To be Continued.