Empat Part 3
Mencuci muka dengan gerakan tergesa, sedikit membantu memperbaiki keadaanku yang linglung. Sangat tepat jika air adalah sumber kehidupan, netraku seksama menatap pantulannya pada cermin yang membentang menutupi dinding yang terdapat tiga wastafel yang berjajar. Menghirup kemudian menghela nafas sembari terpejam, kedua tanganku bertumpu pada pinggiran wastafel. 

Apa yang terjadi denganku? 

Hanya itu satu-satunya pertanyaan penting yang ingin kutemukan jawabannya. Bergeser sedikit ke kanan dari posisiku saat ini untuk meraih tisu wajah, kemudian menyeka sisa-sisa air dari wajahku. Tidak ingin berlama-lama di tempat ini, kuputuskan untuk kembali ke ruangan itu meskipun rasa takut itu masih tersisa. 

Melangkah masuk ke dalam ruangan, Erick dan dua orang lainnya--Carina dan Mr. Gordon--menatapku. Beberapa orang yang sedang mengerubungi sesuatu di tengah ruangan ini menyingkir dari tempat mereka untuk memberiku ruang. Perasaan takut akan sesuatu yang sempat kurasakan pun seketika musnah, kala melihat beberapa benda yang terpampang di atas meja besi yang cukup lebar ini. 

"Tim Apollo 15 menemukan ini di stasiun Andromeda, tempat ayahmu bertugas saat itu," Mr. Gordon berkata, di atas meja ini terdapat serpihan-serpihan besi kecil berwarna hitam, mungkin serpihan dari pesawat itu. 

"Lalu? Apa hubungannya dengan ayahku?" 

"Serpihan ini ditemukan bersama dengan barang-barang peninggalan ayahmu yang lain, yang coba dia sembunyikan selama ini." 

Berpaling menatap benda-benda itu, kembali kulontarkan pertanyaan, " Apa hanya ini yang ditemukan?" 

"Tidak, bukan hanya itu," itu Erick yang menjawab. 
"Tim juga menemukan dia di stasiun itu." 

Dinding kaca berwarna hitam yang terletak tak jauh dari meja besi itu tidak lagi berwarna hitam, rupanya dinding kaca itu adalah pembatas untuk ruangan lain. Mataku membola dalam keterkejutan, di dalam ruangan itu terdapat sosok asing yang menjadi sumber ketakutanku. 

⭐⭐⭐