Tiga
Berulang kali kucoba untuk menyingkirkan percakapan yang terjadi di antara aku dan ibu, saat sarapan. Semua informasi itu berdesakan di dalam benakku dan mulai membuatku pusing, sulit bagiku berkonsentrasi sehingga Erick berulang kali memberi isyarat agar fokus. Sebelum misi ke Karnak itu dilaksanakan, pihak kami pun melakukan kerja sama dengan tim Arkeologi agar lebih mudah melakukan misi ini. Menurut informasi yang kudengar, jasad ayahku tersimpan di dalam sebuah peti batu dan terkubur di bawah salah satu patung di dalam kuil. 

"Kau baik-baik saja?" Erick menanyaiku ketika rapat pertemuan bersama tim Arkeologi itu selesai, saat kami berjalan menjauhi ruang rapat. 
"Aku butuh sendirian," bisikku lesu, kemudian tanpa menunggu respon Erick segera mengambil langkah seribu. Menutup pintu ruanganku dengan perlahan, dan berencana untuk berdiam diri selama yang dibutuhkan. Sebuah sofa panjang yang lapisan luarnya terbungkus kain beludru di ruanganku ini, menjadi tempat membaringkan tubuhku. 

Jika dia bukan ibuku, lalu siapa?
Kenapa harus selama ini rahasia itu tersimpan dariku?
Kenapa aku tidak diberitahu lebih cepat? 

Sejumlah pertanyaan di benakku menunggu gilirannya untuk dijawab. Kepalaku mulai terasa panas akibat aktifitas otak yang meningkat, menarik nafas panjang kemudian membuangnya secara perlahan dan teratur melalui hidung, adalah usaha yang kulakukan agar gejolak emosional yang melandaku saat ini sedikit berkurang. 

Dengan posisi berbaring miring ke kiri di atas sofa empuk ini, aku mencoba untuk menerima kenyataan dan menyusun rencana. Jika Laudya Sanders bukan ibuku, aku tidak punya kuasa untuk mengubah itu yang bisa kulakukan hanya menerima kenyataan dan berusaha untuk mengungkap jati diriku. Orang tua seperti apa yang sebenarnya kumiliki? Mereka berdua--Ayah dan Ibuku--pergi meninggalkanku dengan hanya meninggalkan teka-teki atas jati diri mereka dan juga putrinya. Semua pikiran ini membuatku lelah dan mengantuk, salah satu respon unik dari tubuhku yang kusukai ialah, ketika aku sedang banyak pikiran, rasa kantuk dengan mudah menghampiriku sehingga lebih mudah untuk mengambil tidur sejenak. Mataku perlahan terasa berat, dan rasa kantuk itu pun dengan perlahan mengantarku ke alam mimpi. 

⭐⭐⭐

Indera pendengaranku menangkap suara setetes air ketika jatuh mengenai permukaan air, suara itu mampu membuka mataku dan mengembalikan kesadaranku dengan cepat, seperti ditarik dengan cepat keluar dari suatu ruangan. Saat kesadaran itu pulih, rupanya di bagian luar pintu ruanganku terdengar suara Erick yang memanggilku, lengkap dengan ketukan pintunya yang tidak sabaran. Beranjak dari posisiku saat ini, tanganku meraih kunci pintu kemudian membuka benda yang sewaktu-waktu bisa Erick hancurkan jika aku memilih untuk tidak merespon panggilannya. 

"Apa yang kau lakukan? Kita harus segera bergegas," tegasnya dengan air muka yang tidak bisa dikatakan tenang. Keningku berkerut pertanda tanya, sepertinya aku melewatkan sesuatu. Tidak bisa menahan rasa ingin tahuku sendiri, aku pun memuntahkan pertanyaan, "Apa aku melewatkan sesuatu?" Erick berdecap sembari menatapku dengan tatapan berusaha menerima keadaanku yang linglung. 

"Mr. Gordon dan yang lain telah menemukan sesuatu, ayo," ditariknya salah satu pergelangan tanganku sehingga mau tak mau tubuhku pun mengikutinya. Aku merasa aneh dengan situasi saat ini, tetapi aku tidak tahu apa yang membuatnya merasa begitu, mungkin, aku terlalu banyak mengambil tidur tadi. Erick melepaskan tangannya dari pergelanganku beberapa langkah sebelum kami tiba di tempat yang kami tuju, disalah satu ruangan di gedung ini yang di dalamnya terdapat sebuah inkubator, lengkap dengan alat yang menunjang fungsi alat tersebut, berukuran manusia dewasa di tengah-tengah ruangan. Mataku seketika tertuju pada sosok yang terbaring dengan mata terpejam tanpa gerakan di dalam inkubator itu, beberapa orang yang ada di ruangan itu melihat ke arahku saat aku masuk lebih dalam ke ruangan ini, menghampiri sosok wanita yang sepertinya terlelap di dalam inkubator ini. Tubuhnya seperti mengenakan sisik ikan, dan sisik itu berpendar-pendar layaknya berlian yang ditimpa cahaya. Wajahnya sedikit tirus dengan dagu yang lancip, wanita ini memiliki kecantikan wajah yang khas dan sepertinya, daya tariknya terletak di matanya. Aku tidak tahu persis apakah asumsiku benar, bibirnya tampak sedikit pucat, namun tidak mengurangi dugaan jika bibirnya berwarna merah muda alami dan terawat. Bisa dikatakan, fisik wanita ini adalah dambaan sebagian besar wanita saat ini. Dan akan menarik perhatian jutaan lelaki yang melihatnya. Rambut panjangnya terlihat rapi meskipun dengan model kuncir kuda, berwarna coklat tua bercampur merah gelap, warna rambut yang cantik dan unik, mungkin dia bisa jadi trend saat ini. 

Saat tubuhku lebih dekat ke inkubator yang membatasiku dengan wanita itu, sesuatu terjadi. Tubuhnya mendadak kejang, matanya yang tadi terpejam kini terbuka lebar, tetapi tidak menyiratkan kesadarannya. Spontan, aku sedikit menjauh dari inkubator dengan keterkejutan yang berlebih. Netranya berwarna abu-abu dengan lingkaran berwarna kuning emas yang membatasi pinggirannya, sekitar beberapa detik tubuhnya mengejang di dalam inkubator, sisik yang ada di tubuhnya pun berubah warna menjadi hitam pekat, tubuh wanita itu seperti mengenakan pakaian lateks berwarna hitam. Aku bisa lihat jika orang-orang di ruangan ini memaksanya untuk meraih kesadarannya, namun semakin mereka mencoba dengan mesin itu, semakin aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh wanita itu di dalam sana. 

Kepalaku seketika didera oleh rasa sakit yang mampu membuat posisi berdiriku goyah saat ini. Hingga suara di sekitarku pun terasa jauh, semua kesadaran yang kumiliki perlahan memudar dan akhirnya tenggelam. 

⭐⭐⭐

To be continued. 

Terima kasih telah membaca cerita ini ?. mohon maaf atas segala kekurangannya ?.