Empat part 2
Entah apa yang sedang terjadi padaku saat ini, ada yang ganjil dengan diriku, atau mungkin dengan situasi ini. Tepat sebelum memasuki salah satu ruangan di gedung ini, langkahku terhenti di ambang pintunya yang terbuka, aku bisa melihat beberapa orang sedang berdiri memunggungiku dan sedang fokus apa apa yang ada di depan mereka. Erick masuk lebih dulu ke dalam sana dan bergabung bersama orang-orang itu, jantung berdebar, mengirimkan perasaan takut melalui pembuluh darahku. Tiba-tiba saja, takut akan apa yang akan kulihat di dalam sana, kaki perlahan mengambil langkah mundur, mengikuti naluri, secepat mungkin membalikkan tubuh untuk mengambil langkah menjauh. Namun, saat berbalik tubuhku bertabrakan dengan seseorang yang membawa nampan aluminium, hal itu membawaku ke dalam keterkejutan yang parah, terlebih karena saat ini aku dalam mode ketakutan. Bunyi benda yang terbuat dari besi dan kaca saat bertubrukan dengan lantai pun terdengar nyaring pada koridor yang cukup lengang ini. 

Tubuhku serta-merta mengambil posisi untuk membantu seorang wanita yang kutabrak tadi mengumpulkan barang yang jatuh dari nampan yang dibawanya. Sebuah suntik yang berukuran sedang berisi cairan bening itu sedikit menyita perhatianku. 

"Untung saja suntik itu tidak tertancap di tubuhmu, kau bisa koma selama 24 jam jika itu terjadi," terang wanita itu saat kami telah selesai mengembalikan barang-barang yang dibawanya ke atas nampan. Rupanya Carina, staf di divisi pengembangan riset, wanita berkacamata itu menatapku dengan tatapan ingin tahu.

"Kau baik-baik saja? Kenapa tidak masuk?" 

Aku menoleh sebentar ke dalam ruangan itu kemudian kembali menatap Carina. 
"Aku harus kembali ke ruanganku mengambil sesuatu yang tertinggal," alasanku padanya sebelum kami berpisah. Bergegas kutinggalkan ruangan itu dengan berjalan cepat, tujuanku bukan ke ruanganku tetapi ke toilet. 

⭐⭐⭐