Enam
Indah sekali gedung besar yang ada di hadapanku. Sepanjang jalan ke ruangan, aku tak berhenti memuji tempat besar ini.

"Jangan, norak," bisik Mas Brian di telingaku. 

Aku hanya mengerucutkan bibir, suka kesel dengan mulut lemes Mas Brian. Sesaat kami sudah berada di ruang yang cukup luas. Tertata dengan rapi, tetapi hanya ada satu kamar, ruang santai, dapur dan kamar mandi. 

Aku merebahkan tubuh di kasur. Rasanya lelah sekali, kupejamkan mata berharap rasa capek ini akan hilang besok. 

"Fitri! Ngapain kamu tidur di kasur?" teriak Mas Brian. 

Dengan berat kubuka mata perlahan. Kulihat Mas Brian sudah segar dengan rambut basah. 

"Lah, terus aku tidur di mana?" 

"Sofa," jawabnya ketus. 

"Nggak mau! Mas Brian aja yang di sofa, aku di kasur," ucapku dengan penekanan. 

Mas Brian menarik tanganku, aku menahan tubuh agar tidak ikut tertarik. 

"Bangun!" serunya dengan emosi. 

Terjadi tarik menarik. Tidak jarang hal ini terjadi di kehidupan sehari-hari kami. Biasanya Bulek bilang aku dan Mas Brian seperti kucing dan guguk. 

"Aku nggak mau Mas, ngalah, sih sama perempuan," ucapku kekeh. 

"Kamu di sofa." 

Mas Brian terus memaksa, hingga dia jatuh di atas tubuhku dan kedua bibir kami saling menempel. Inikah yang namanya ciuman? 

Aliran darahku seakan mengalir deras, jantung ini berpacu sangat kencang. Mas Brian mengangkat tubuhnya dengan cepat. Membuang pandangannya dariku. 

"Biar aku yang di sofa." Mas Brian berjalan cepat keluar kamar. 

"Yes, aku menang," ucapku. 

Sambil tersenyum aku terus memegangi bibir yang tadi tersentuh Mas Brian. 

Mas Brian membalikan tubuhnya, dia menatapku kesal. "Nggak usah senyum-senyum. Itu ngapain bibirnya di pegang-pegang? Pengen beneran di cium?" 

Netraku membulat, aku berdecak kesal. Sembarangan ngomongnya, siapa juga yang mau dicium Mas?  

"Mas kali yang mau, bukan aku!" seruku dengan penuh penekanan. 

Mas Brian terseyum genit menatapku. Menyebalkan, mengambil kesempatan dalam kesempitan.

💞💞💞

Aku masih ingin berlama-lama dalam balutan selimut. Kutarik kembali, biarlah menikmati masa indah ini, sebelum Mas Brian menyiksaku. 

"Fit, Fit ... bangun dong. Aku laper nih, buatin aku susu coklat dan roti bakar." 

Bener, kan, belum juga beberapa menit. Tidak bisa lihat orang senang Mas Brian. Aku beranjak dari ranjang. Melangkah gontai ke arah dapur. 

Mengikat rambut yang panjang, dengan masih berbalut baju tidur aku langsung memasak di dapur. 

Beberapa menit kemudian aku selesai membuat sarapan untuk Mas Brian. Kusajikan di meja makan.

"Nih, Mas." Aku menyodorkan segelas susu cokelat dan roti panggang. 

"Makan bareng sini," ajaknya. 

"Aku mau mandi," jawabku pelan. 

Aku melangkah memasuki kamar mandi. Rasa gerah melanda tubih ini.
Kutinggalkan Mas Brian yang asik menyantap sarapan paginya. Guyuran shower membuat jernih sedikit otakku yang hampir gila dengan ulah Mas Brian.

--Chew bha---

Aku tak suka berlama-lama dalam kamar mandi. Setelah selesai, aku mematut diri di depan cermin, Kupandangi diri sendiri dengan balutan dress selutut, sengaja membiarkan rambut ini tergerai. 

"Ternyata aku cantik juga ya," ucapkku, lalu tersenyum puas. 

"Jangan lama-lama ngacanya, nanti kacanya pecah," ledek Mas Brian.

"Tinggal beli lagi aja Mas, jangan kaya orang susah deh," cibirku pedas. 

"Ish!" Mas Brian berdecak kesal. 

"Nanti kita ke mall beli baju buat kamu." 

"Jalan-jalan Mas? Boleh beli baju? Di beliin, kan?" 

"Iya, kamu mau apa aja aku turutin. Kemarin aku udah janji sama kamu." 

Wah, pasti hari penuh kesenangan dan barang-barang mewah, nih. Jarang aku belanja di Mall, biasanya di pasar malam bareng Murni.

"Sejak kapan kamu suka menggunakan dress? Selutut pula?" tanyanya heran. 

Netranya memperhatikan aku dari atas sampai bawah. 

"Ini Mama yang beliin. Katanya harus dipakai buat sehari-hari." 

"Mama?" tanyanya dengan mengerutkan kening. 

"Ibu maksud aku, Mas. Dia memintaku memanggilnya Mama sekarang." 

Mas Brian terus memperhatikanku, entah apa yang ada dipikirannya. Dia berbalik badan, lalu melangkah keluar. 

Aku mengikuti dari belakang. Berusaha menyamai langkah Mas Brian. Ini bukan kali pertama kami ke Mall. Sudah sering aku ikut kemana saja dia pergi.

"Mas, aku mau ke salon, dong, " pintaku pada Mas Brian. 

"Hmm .... " hanya itu yang keluar dari mulutnya, sambil fokus mengendarai mobil. 

"Luluran boleh? " 

"Hmm .... " hanya itu lagi yang keluar tanpa menoleh ke arahku. 

"Mas, lihat, dong kalau aku ngomong!" pekikku

Mas Brian menghentikan laju mobilnya secara mendadak. "Aghhh ... Mas hati-hati dong," omelku. 

"Makanya diam. Berisik tahu nggak kamu, ngomong mulu. Aku lagi bawa mobil, tadi aku udah bilang kamu mau apa aja boleh tinggal tunjuk. Lagian kamu mau ngapain, sih ke salon sama luluran?" 

"Ke salon biar aku cantiklah Mas. Luluran biar badanku nggak capek, Mas tahu sendiri kalau aku luluran biasanya hanya di rumah manggil tukang urut buat luluran. Nah, sesekali, sih di mall gitu." Aku mengambil kesempatan mumpung Mas Brian lagi baik hati. 

Mas Brian tak berkomentar, dia melajukan kembali mobilnya. Aku hanya diam memandang wajah tampan suami pura-puraku ini. Andai ini nyata, bukan pura-pura bahagianya aku. 

Hanya memakai celana jeans biru dan sweter membuat Mas Brian terlihat lebih muda. Perawakannya yang tinggi 175cm, kulit putih dan gayanya yang cool membuat sekeliling menatap takjub. 

"Mau ke salon dulu apa belanja dulu?" tanyanya saat kami sampai di Mall. 

"Belanja dulu Mas," ucapku. 

Bener-bener, nih, upik abu jadi Cinderella. Tidak terbayang jadi orang kaya dadakan. Punya suami tampan pula. Wow, sekali, andai bisa pamer sama temen-temen kampung rasanya sesuatu, deh. 

Aku berputar mencari baju yang pas. Mengambil yang aku suka, tanpa harus memikirkan berapa harganya. Mataku tertuju dengan sebuah pakaian tipis yang berbahan sutra. Baju begini aja mahal amat harganya.  kurang bahan, tipis pula. 

"Ambil aja kalau mau." Suara Mas Brian terdengar seperti meledek. 

"Apa sih! Nggaklah, masa aku pake ini. Sama aja aku nggak make baju." 

"Nggak apa-apa, lah. Aku seneng kok liatnya," ucap Mas Brian dengan menaik turunkan alisnya 

"Dih mesum." 

"Biarin, sama istri sendiri," timpalnya lagi. 

Apa-apaan tuh, istri sendiri. Kesepakatan, kan hanya pura-pura kenapa jadi ganjen. Mas brian tertawa renyah. "Udah belum?" 

"Udah," jawabku. 

Setelah puas memilih baju, aku menuju salon yang masih berada di Mall ini. Tak heran Mas Brian selalu menjadi pusat perhatian kaum hawa. Saat memasuki salon, banyak mata yang tak berkedip menatapnya. Dengan cepat aku mengapit lengannya berjalan lagi keluar. 

"Kenapa keluar lagi?" tanya heran. 

"Nggak jadi. Udah males, nanti di rumah aja." 

"Oh, mau sama Mas aja lulurnya?" 
tanyanya dengan kembali meledek. 

Aku memukul lengannya, dia hanya tertawa kecil. "Pulang aja." 

💞💞💞

Sesampainya di apartemen, Mas Brian langsung menghepaskan tubuh di sofa. Matanya terpejam masih dengan memakai sepatu lengkap. 

Lelah sekali dia sampe tertidur di sofa. Kuhampiri dia, perlahan membuka sepatu, tapi dia bergeming. Pulas sekali tidurnya. Kucuri tatap wajahnya, ah ... andai dia benar milikku. Bayi besar yang suka berteriak dan memerintah sesuka hatinya. 

Duduk berselonjoran kaki di sofa, sambil menikmati lagu dari Rizky Febian. Dengan lincah pula memaikan jariku di ponsel. Aku memfoto diriku dan men-uploadnya di instagram. 

Dengan bertuliskan 'Santai sejenak, selagi bayi besarnya tidur. Love u baby.' Tak lama banyak memberikan like di foto yang aku unggah. Aku tersenyum lebar. 

💕💕💕