Lima
"Saya terima nikah dan kawinnya Fitri Lestari binti Budiyono dengan mas kawin perhiasan emas seberat sepuluh gram dibayar tunai." Dengan mantap Mas Brian mengucapkan ijab kobul hari ini. 

Setelah ijab kobul artinya aku sudah sah menjadi istri Mas Brian. Kucium punggung tangannya, kemudian meminta maaf pada kedua orang tua Mas Brian dan Bulek.

Tak henti Bulek mengeluarkan air mata. Berapa nasihat dia berikan padaku, pun tak kuasa menahan tangis. Semakin kencang kupeluk Bulek. 

"Jadi istri yang baik, ya, Fit. Layanin suamimu dengan benar. " 

"Iya, Bulek," jawabku pelan. 

Acara akad nikah tapi bagaikan resepsi, ramainya dengan rekan kerja Bapak dan Mas Brian. 

"Mas, sampe jam berapa? Aku capek Mas," keluhku pada Mas Brian. 

"Memang kamu aja yang capek." Mas Brian juga merasakan apa yang aku rasakan. 

Tak lama aku mengeluh, entah kenapa Mas Brian seakan menatap tajam ke arah tamu yang sekarang berada di hadapannya.

Seorang wanita cantik, berbalut gaun warna merah selutut. Rambut keriting gantung membuatnya semakin cantik. 

"Selamat, ya, Bri," ucapnya sambil menyodorkan tangannya.

"Selamat, Bro," sapa pria yang berada di sebelah wanita itu. 

Namanya Mas Erik. Aku mengenalnya karena beberapa kali Mas Erik datang berkunjung ke rumah, dan beberapa kali Mas Brian mengajakku bertemu dengannya.

Tapi siapa wanita itu? Kenapa Mas Brian begitu kaget, bahkan wajahnya berubah pucat.

Mas Erik memberiku selamat dan dia merangkul Mas Brian mengucapkan selamat atas pernikahan kami.

"kenalin, Bro, Alena. Pacar baru gue. " Mas Erik memperkenalkan pacar barunya. Mereka sangat cocok, Alena pun tersenyum padaku.

Mas Brian hanya tersenyum kecil. Enggan berkomentar, Mas Brian langsung mengalihkan pembicaraan. Aku terus memperhatikan wanita itu. Namun, dia terus memandang suamiku.

"Mas Brian, kenal sama pacarnya Mas Erik?" tanyaku berbisik. 

"Dia mantan pacarku."

Mendengarnya aku seperti takut sesuatu akan terjadi. Mantan pacar Mas Brian datang ke acara pernikahan kami. Apa, jangan-jangan dia masih menaruh hati pada Mas Brian? Apa Mas Brian masih menaruh hati juga padanya?

Ish, apa sih aku ini. Kalau pun masih cinta, bodo amat, ah. Lagi pula, cemburu tak ada untungnya. Mas Brian pun tidak akan peduli dengan rasa ini.

Para tamu sudah dihidangkan makanan yang sangat lezat. Banyak orang yang tidak aku kenal. Mas Brian duduk mengehempaskan tubuhnya. Terlihat wajahnya yang sangat lelah menjalani acara hari ini. Walaupun terkesan berpura-pura, tapi aku bahagia menikah dengan orang yang aku suka walau dia tidak mencintaiku.

Mas Erik menghampiri Mas Brian, mereka berbincang sambil sesekali tertawa. Beberapa kali Mas Erik terlihat menggoda Mas Brian.

"Akhirnya, ya, Bro. Langsung, nih, nanti malam main bola. Cakep deh, yang pinter, jangan cupu kaya biasa." Mas Erik meledek.

Main bola? Mereka ngomongin main bola malam-malam. Apa Mas Brian tidak capek habis acara langsung main bola. 

💕💕💕

Satu persatu tamu sudah pulang. Rasanya tubuh ini sakit, mau pulang terus tidur. Ah, tapi kenapa tidak selesai juha. 

Aki memindai sekeliling, di mana Mas Brian? Nah, dia di sana. Loh, kenapa bersama wanitanya Mas Erik? Mana tidak ada Mas Erik pula. Gegas aku melangkah cepat menghampiri Mas Brian. 

"Mas, dari tadi aku cariin," ucapku.

Wanita itu mentapku dengan tatapan tidak suka. Siapa dia, bisa menatap aku dengan tatapan seperti itu? Harusnya aku yang marah, dia suamiku. Tak gentar aku balik menatapnya dengan sinis. 

"Maaf, ya, Tante, Mas Brian capek. Jadi, kami mau pulang dulu. Maklum pengantin baru." Tidak menunggu dia menjawab aku langsung mengapit lengan Mas Brian. 

Mas Brian hanya menurut saja apa yang kulakukan. Sepertinya dia tahu aku melepaskan dia dari hal yang membuatnya risih. 

"Cemburu, Fit?" tanyanya seperti meledek. 

"Menurut, Mas?" Aku mencoba tenang.

"Kamu cinta sama, aku? " 

"Ng--bukan gitu. Aku, kan ceritanya istri kamu, masa aku biarin kamu sama wanita lain," elakku. 

Mungkin saat ini wajahku sudah merona. Dasar rese, punya mulut suka bener kalau bicara. Mana ada wanita yang tidak cemburu melihat suaminya di goda perempuan lain.

"Oh, kiraiin kamu baper. Mendalami peran sebagai seorang istri yang sedang cemburu dengan mantan pacar suaminya." Mas Brian sekarang benar-benar meledek. Dia menyenggol tubuhku.

"Ck! Mas Brian tuh yang baper," cibirku. 

"Kenapa?" 

"Baper liat mantan. Padahal ada aku disini," ucapku. 

"Ah, kamu, sih cuma bisa di lihat doang, nggak bisa dicoba," kata Mas Brian nyengir. 

"Dicoba?" keningku berkerut. 

Mas Brian terkekeh melihat aku mengerutkan kening. Di coba? Emang aku makanan? 

"Fit," panggil Bu Arum. 

"Iya, Bu," jawabku. 

"Jangan panggil Ibu dong, panggil Mama. Kamu sekarang menantu Mama, jadi jangan panggil Ibu ya. Panggil Bapak jangan Bapak, tapi Papa." Begitulah Mama mertuaku meminta merubah panggilan pada mereka. 

"Iya, Bu--eh, Ma ... ma, " ucapku terbata-bata. 

"Gitu, dong sayang. Kamu langsung ke apartemen aja, ya, jangan ke rumah." 

"Hah? Langsung, Ma?" tanyaku setengah kaget. 

"Iya, dong, kan, ini malam pengantin kalian. Brian sini, Nak." Mama Arum memanggil Mas Brian. 

Mas Brian melangkah menghamipiri kami, wajahnya terlihat sangat lelah. 

"Iya, Ma." 

"Bri, bawa Fitri langsung ke apartemen, ya. Oh iya, pelan-pelan loh, malam pertamanya. Kasian nanti dedenya nggak kuat. Takut keguguran kalau kenceng-kenceng," bisik mama Arum. 

Seketika wajah Mas Brian memerah bagai udang rebus.

"Apa sih mah." 

"Fitri lagi hamil, jadi kalau mau berhubungan jangan kenceng-kenceng," ucap Mama berbisik di telinga Mas Brian, tapi tetep aja terdengar aku. 

Astaga! Aku lupa kalau mereka menganggapku sedang hamil. Setelah pamit, kami langsung ke apartemen. Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Mas Brian hanya diam. Hening, tak ada satu katapun yang terlontar. 

Hari ini kami sah menjadi suami istri. Mimpi, kah, ini? Semua berjalan sangat cepat. Namun, suatu saat kami pasti akan berpisah. Setelah Mas Brian menemukan cinta yang lain. Sementara, aku merana.
**