empat

 

     

     Padma menyisir rambutnya sambil bercermin dengan kaca kecil. Ia tersenyum mengamati wajahnya yang cantik. Membayangkan rupa Elang yang tampan di bawah cahaya rembulan membuatnya tersipu malu-malu. Ia sedikit tertarik pada pemuda itu hanya sedikit, ingat cuma seujung kuku tak lebih. Kemuning memaklumi dirinya sendiri, mungkin karena ini pertama kalinya dia melihat pria tampan dewasa dan rayuan Elang semalam dirasa cukup menyenangkan juga. Tiba-tiba Kemuning memegang pipinya yang panas karena malu. Ada apa gerangan dengan dirinya. Tapi derap langkah kecil layon mengubah perasaanya. Dengan kesal ia meletakkan cerminnya dengan kasar di mej kayu.

    "Nona akan kabur lagi?" tanyanya penasaran karena Kemuning sudah mandi dan menyisir rambut. Gadis itu juga sudah mengenakan pakaian rapi.

   "Iya, aku akan pergi. Seperti biasa tutup mulutmu!" ancam Kemuning.

   "Tapi nona...".

   "Jangan bicara lagi Layon, kau tau aku tak akan mendengarkanmu." Kemuning memang gadis paling sulit diatur. Hanya kepada nenek Yatri, dia patuh dan takut. Karena Kemuning sangat menghormati dan menyayangi neneknya. Yatri satu-satunya keluarga yang ia miliki.

   Dengan langkah lebar dan cepat ia berjalan menyusuri jalan setapak di tengah hutan diikuti momo, kucing peliharaannya. Hatinya berbunga-bunga, ia berjalan dengan tak sabaran. Segera ingin bertemu Elang. Kemuning yakin kalau Elang kini sedang berada di sungai untuk mandi tapi kemudian jalannya terhenti. Kemuning berpikir kalau dia melihat Elang mandi sama saja dengan mengintip. Bukankah mengintip, sebuah tindakan yang tak sopan.

   Kemuning memelankan langkahnya. Ia kemudian berpikir belum tentu juga Elang akan datang. Dia kan tidak tahu jalan kemari, memang Kemuning kemarin memberitahunya tapi mana mungkin dengan sekali jalan Elang hapal. Karena terlalu sibuk dengan terkaannya. Kemuning tak sadar kalau langkah kakinya membawanya ke pinggir sungai. Suara gemericik air membuatnya terkejut, itu pertanda jika ada orang lain selain dirinya. Sadar jika Elang sedang mandi. Kemuning segera menyembunyikan dirinya di balik pohon.

   "Aku sudah melihatmu." Kemuning memejamkan mata sambil menggigit bibir. Mampus Ia ketahuan. "Keluarlah atau aku siram air." Dengan malu-malu dan muka merahnya. Kemuning keluar dari tempat persembunyiannya sedang Elang malah dengan santai memakai pakaian dan celananya kembali.

   "Kalau ingin melihat kau bisa langsung melihat. Kenapa mengintip?".

   "Siapa yang mengintip? Aku tak mengintip. Kebetulan aku mau pergi dan lewat sini". Mendengar alasan Kemuning yang mengada-ada. Elang hanya tersenyum. Di pandang dari sudut manapun, Kemuning bukanlah gadis yang pandai berbohong. Ia seperti sebuah buku yang mudah di baca dengan melihat sampulnya saja.

    "Sudahlah. Bantu aku naik, Kemuning". Kemuning terhenyak saat mendengar panggilan itu. Tak ada seorang pun yang memanggilnya dengan nama Kemuning. Kadang karena terlalu sering orang memanggilnya Padma, ia jadi lupa bahwa dia hanya Kemuning. Gadis biasa berusia 19 tahun bukan Padma penjaga hutan Ganpati.

    "Hey, kamu kenapa? Bantu aku naik."

    Tangan Elang terulur bermaksud minta bantuan tapi Kemuning enggan bergeming. Ia gamang, tak pernah ia terlibat kontak fisik dengan pria sedekat ini. Tangannya dengan ragu terulur menyambut tangan Elang yang menariknya begitu kuat. Ketika mereka bertabrakan, jantung Kemuning rasanya mau copot. Jantungnya berdebar-debar dengan sangat kencang . Menyadari ada yang salah, Kemuning langsung melepas tangannya. Mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.

    "Kamu tahu dimana aku bisa menjumpai ponsel atau telepon rumah untuk menghubungi keluargaku?"

    "Hah?" Karena terlalu sibuk menenangkan debar jantungnya. Ia tak memahami yang Elang tanyakan.

    "Kau tahu dimana aku bisa mendapatkan ponsel atau telepon rumah?"

    "Oh itu.. di rumah ketua desa ada telepon rumah. Kau mau aku mengantarmu kesana? Tak terlalu jauh dari sini!" Tapi Kemuning kemudian mengatupkan bibir. Kalau ia membawa Elang ke ketua desa. Pasti ketua desa akan melaporkan Kemuning pada neneknya. "Tunggu.. Kita jangan ke ketua desa. Ada telepon umum di desa sebelah. Kita kesana saja."

    "Kenapa tidak ke ketua desa saja yang lebih dekat?"

    "Nanti aku ketahuan nenek kalau aku mengantarmu dan meninggalkan rumah pohon. Pasti aku akan dihukum." Elang menyipitkan mata. Bisakah gadis ini bisa di percaya tapi Kemuning sudah menyelamatkan nyawanya tak mungkin dia akan mencelakakannya bukan?

    "Baiklah, tapi tempat itu jauh tidak?"

    "Agak jauh tapi aku akan mengantarkanmu, aku tahu jalan pintasnya." Elang mengangguk  yakin. "Ikuti jalanku."

     Elang mengikuti langkah Kemuning yang tak begitu lebar. Ia baru sadar kalau Kemuning tak memakai alas kaki tapi telapak kaki gadis itu begitu halus. Elang mulai mengamati Kemuning dari ujung kaki sampai kepala. Gadis yang menolongnya itu memakai dress bewarna biru laut yang warnanya sudah agak memudar. Dress dengan model sederhana itu begitu cocok dengan bentuk tubuh Kemuning yang kurus. Helaian demi helaian rambut Kemuning yang bewarna hitam kecoklatan berterbangan searah dengan hembusan angin. Dilihat dari sudut manapun Kemuning menarik sayangkan kalau kecantikan murni gadis ini harus di sembunyikan di dalam lebatnya hutan rimba.

    Tanaman yang di lalui Kemuning dengan kaki telanjangnya seolah tahu kalau penjaga hutannya datang. Mereka memberi jalan untuk Kemuning, menyibakkan ranting atau sekedar membelokkan dahan.

    Elang sudah beratus-ratus melihat perempuan cantik tapi Kemuning lain. Ia seperti perawan suci Maryam yang harus di jaga kemurniannya. Mungkin kalau di kota asalnya Elang terkenal sebagai orang brengsek tapi lain jika di sini. Kemuning penyelamatnya, bahkan untuk sekedar menaruh hati saja Elang merasa tak pantas.

    "Kenapa kamu ingin mencari telepon rumah?" tanya Kemuning tiba-tiba setelah mereka menghabiskan waktu 1 jam untuk berjalan.

    "Aku akan menghubungi keluarga untuk menjemputku."

    "Oh... Begitu."

    Ngomong-ngomong soal keluarga Elang tersenyum simpul. Dari lahir ia sudah berada di panti asuhan tak tahu menahu siapa keluarganya. Saat berusia 7 tahun ia di angkat anak oleh tuan Abraham Montana, seorang mafia asal italia. Ia di besarkan bagai anjing peliharaan , diajari untuk patuh, diajari berkelahi dengan hewan buas bahkan ia juga diajari untuk menggunakan senjata. Hidup Elang bagai hewan pemburu, beruntunglah ia juga di beri pendidikan yang tinggi. Hingga Elang bukan hanya saja mafia kuat tapi juga berotak pintar.

    "Kamu berapa bersaudara?" tanya Kemuning lagi.

    "Aku? Ehmm tiga bersaudara. Aku punya adik laki-laki dan adik perempuan." Yang di maksud saudara adalah Derrick, tangan kanannya dan Sabrina adik kandung Derrick.

    "Apa menyenangkan punya saudara?"

    "Lumayan, saat,, kita sendiri dan semua orang tak mau mendekat ke kita. Orang yang di sebut sebagai saudara selalu ada untuk kita."

    "Oh.. begitukah?"

    "Apa kau tidak punya saudara?"

    "Apa kau melihat ada orang lain yang selain aku dan nenek tinggal di rumah. Tidakkan?"

    "Ada, aku juga tinggal disana! Boleh kan aku kan jadi saudaramu?"

    "Akan ku pertimbangkan nanti."

    Langkah Kemuning tiba-tiba saja berhenti sehingga Elang yang berada di belakangnya menubruk tubuhnya .

    "Auw...".

    "Maaf, kenapa kamu mau berhenti tidak bilang-bilang?"

    "Kau tak sadar kita sudah berada di pinggir jalan raya perbatasan hutan?" Elang mengamati jalan beraspal yang di pijakinya. Mereka ternyata sudah berada di jalan Raya yang keadaannya lumayan sepi.

    "Apakah perjalanan kita masih jauh?".

    "Sebentar lagi kita akan sampai tinggal jalan beberapa langkah lagi." Elang cukup kelelahan disamping luka di perutnya yang belum sembuh sempurna, ia juga tidak terbiasa dengan jalan hutan yang terjal, naik-turun.

    Tidak berapa jauh dari mereka terlihat warung kelontong agak besar dan beberapa tukang ojek yang sedang mangkal.

    "Kamu bisa menghubungi keluargamu lewat telepon di warung itu. Oh iya kamu bawa uang?" Elang bersukur ia memang hampir mati terlempar dari dalam mobil, terjun berjungkal-jungkal. Untunglah dompetnya masih terselip rapi di kantong celana belakangnya.

    "Aku membawa uang."

    "Untunglah, aku kira kita sudah jalan sejauh ini. Kamu tak membawa uang kan percuma!" Kemuning menarik lengan Elang untuk masuk ke warung kelontong itu. "Masuklah aku akan menunggumu di bawah pohon." Tunjuknya pada sebuah pohon mangga yang sedang berbuah. Letak pohon itu Cuma lima meter dari warung. Kemuningtak dapat masuk ke warung karena sang pemilik warung tentu mengenalinya.

 

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺