Bab 6
Pov Asih 

        Sepulang mengajar aku mengajak Mas Irwan untuk makan siang di warung makan kesukaanku. Ayam goreng di sana terkenal renyah dan gurih. 

    "Ok, sekalian ada yang mau aku omongin nanti saat kita makan," ujar Mas Irwan. 

     Entahlah, mungkinkah dia akan menyegerakan pernikahan kami. Semua perlu rencana yang matang jadi mungkin itulah yang ingin dia bicarakan denganku. 

    Aku memang berharap Mas Irwan segera menikahiku, agar kami tak jadi buah bibir orang. Kadang malu juga berboncengan kesana kemari. Tapi untungnya kami berhasil meyakinkan sesama rekan kerja bahwa kami hanya teman, dan masih ada hubungan keluarga. 

     Sendirian dan jauh dari rumah rasanya tidak nyaman. Aku ingin punya pendamping. Dan hatiku memilih Mas Irwan. Dia tampak penyayang. Aku mencintainya. Meskipun dia sudah beristri. Aku pikir tak ada salahnya mencintai suami orang, selama lelaki itu juga menyukaiku, jadi jalani saja dulu. Toh poligami itu boleh, kok.

   Ketika aku mulai mendekatinya dan mengutarakan perasaanku. Dia hanya mengatakan bahwa dia tidak bisa menafkahiku karena ada anaknya tujuh orang di kampung. 

    "Tidak apa Mas, toh aku punya penghasilan sendiri," jawabku saat itu.
Mas Irwan tersenyum penuh arti. 

    "Tapi kita tetap harus izin istriku, sebab kalau tidak ada izin darinya, salah-salah kita akan dipecat," kata Mas Irwan. 

    Akhirnya aku pun diajak untuk bertemu istrinya. Istrinya lebih tua dua tahun dariku. Sebenarnya dia cantik. Hanya saja karena dia kerja di sawah, jadi kulitnya kusam terpapar sinar matahari. 
    
    Dia juga ramah dan baik. Sepertinya aku tidak masalah punya kakak madu seperti dia. 

    Nanti setelah kami menikah, seperti biasa seminggu sekali Mas Irwan akan pulang ke kampungnya untuk mendatangi anak dan istrinya. Tak ada yang berubah. Uang belanja dari Mas Irwan juga tak berkurang untuknya, tentu tak masalah bagi Bu Murni. 

   Lamunanku buyar ketika Mas Irwan  datang menjemput untuk makan siang. Ini akan menjadi makan siang terindah dan romantis. 

     Aku memeluk erat pinggang Mas Irwan. Motornya merayap pelan. Aku tau dia menikmati saat kebersamaan kami seperti saat ini. 

    Tak lama warung makan yang kami tujupun telah terlihat. Kami segera masuk dan memesan makanan. 

    Namun betapa kagetnya aku, ketika ada empat anak kecil berhamburan ke arah kami. Aku pikir pasti mereka salah orang. Namun begitu aku menoleh ke belakang tampak Bu Murni berjalan membawa tas besar. 

    Ohh Tuhan...!  Dia pasti akan bikin ribut,... Tapi raut mukanya tampak tenang. Aku dan mas Irwan saling berpandangan. Dia juga terlihat gelagapan. 

    Mendadak suasana jadi riuh, duhh... Anak anak itu mana bau matahari lagi. 
Baju mereka juga asal asalan. Jelas sekali terlihat bahwa mereka orang udik. 

   Mereka cengengesan menatap dengan takjub segala yang ada di sini. Lukisan dinding, aquarium dan bunga plastik di setiap pojok.

    Tentu mereka baru pertama kali melihat semua ini, hingga mereka jadi riuh. Untung Bu Murni meminta mereka bersikap tenang, kalau tidak pasti akan tambah bikin malu. 

    Mulut mereka tak bisa diam, ngoceh terus. Aku gerah sekali. Dan ingin segera pergi dari sini. Aku menatap ke sekeliling, rupanya keriuhan mereka jadi perhatian beberapa orang. Duhh...!  Malunya... 

     Bu Murni tampak tenang, tak terlihat ada gelagat untuk membuat huru hara, padahal biasanya seorang wanita yang memergoki suaminya dengan wanita lain, pasti akan mengamuk dan main jambak. Aku sempat deg degan... Jantungku berpacu tak karuan, khawatir dia melabrakku dan bikin onar.  Tapi... Syukurlah... Keadaan aman terkendali. 

   Aku penasaran dengan tas besar yang dia bawa, jadi aku pun bertanya tentang itu. Rupanya mereka akan pindah untuk tinggal bersama Mas Irwan. Aku merasa stres karena aku sadar ini akan jadi awal hancurnya mimpi manisku. 

   "Sabar Asih," bisikku dalam hati. 

    Saat aku merasa resah dan galau memikirkan semua ini tiba tiba sepotong ayam dari piring anak kecil itu melompat ke wajahku. 

    "Astaga....! Ini seperti di sinetron. Apakah nanti juga akan ada adegan air kobokan yang tumpah di kepalaku?" 

   Kekesalanku bertambah ketika Mas Irwan tak peduli dengan apa yang terjadi, dia asik menyuapi Egy makan. 
Tak memperhatikanku sama sekali.        

  Aku segera mengelap wajahku dan berpura pura tidak masalah dengan kejadian ini. Seperti yang Bu Murni bilang, "Dimaklumi ya Bu Asih, namanya juga anak kecil."

   Rupanya musibahku tidak berakhir sampai di situ, Mas Irwan kehabisan duit buat bayar tagihan makan. Iya sihh... Aku maklum ini tanggal tua dan belum gajian tapi kok aku yang ketimpa apesnya ya, harusnyakan Bu Murni yang bayar. Diakan banyak bawa pasukan. Kepalaku mulai senut-senut ketika mengeluarkan uang dari tas tangan. Padahal rencananya sisa gaji bulan ini untuk biaya ke dokter kulit. 

    Aku punya masalah yang aneh, panu 
yang tak kunjung sembuh. Tentu saja Mas Irwan tidak tahu masalah ini. Aku akan malu jika nanti setelah menikah dia akan melihat bercak putih yang menebal itu.

   Aku lega ketika kami sudah berada di luar warung makan. Ingin rasanya segera melihat Bu Murni dan pasukannya enyah dari pandangan. 

   Ya Tuhan... Mereka menyerbu mainan. Hatiku ketar ketir karena pasti uangku lagi yang keluar. Belum sempat aku menjauh, Mas Irwan sudah berbisik minta uangnya padaku. 

   "Sesekali nyenengin hati calon anak tiri, gak papa toh.. Dik Asih," rayu Mas Irwan. Akhirnya selembar uangku melayang lagi. Semoga kesialan ini segera berlalu. 

   Namun... Rupanya itu belum berakhir. Bu Murni minta aku naik becak bersama anak-anaknya. Ya Tuhan kami berjejalan dalam becak dan Mas Irwan membiarkan ini terjadi. Awas kau Mas...! 

    Aku terantuk antuk di dalam becak, sambil memangku si bocah bau matahari. Rambut yang belum sampoannya menguarkan bau asem. Aku mau muntah rasanya. Belum lagi pandangan mataku yang terhalang balon yang dia pegang. Menengok ke kanan terantuk kepala anak satunya. Miring ke kiri terantuk palang becak. Akhirnya aku harus menahan kepalaku untuk tetap tegak lurus,  dengan hidung di kepala si bocil yang asem. Dan pandangan mataku mentok di dua baloon yang bertuliskan I LOVE YOU. 

Ya...! I LOVE YOU TOO.

Komentar

Login untuk melihat komentar!