Mabuk


.

      Tangan itu terayun ke atas, tapi kali ini tertahan oleh telapak tanganku. Sepasang mata beriris biru itu mendelik, seolah pergelangan tangannya sedang digenggam oleh binatang kotor menjijikkan. Sementara Nyonya Alaia terlindung di balik lenganku.

"Beraninya kau," desis Tuan Leonel sambil menatapku tajam.

Aku segera melepaskan pergelangan tangan pria jangkung itu, lalu berdiri dengan sikap tegap seorang pelayan. Maksudku, sedikit menundukkan pandangan.

"Maaf, Tuan," gumamku. Tanpa rasa bersalah.

Pria itu berdehem, jengkel.

"Dia sopir barumu, Alaia?" Dia melirik pada istrinya, tanpa memedulikan permintaan maafku tentu saja. 

Nyonya Alaia seketika menegakkan tubuh, lalu sedikit mendongak dengan raut wajah menantang. "Ya, apa itu menjadi urusanmu?" ejeknya.

Pria itu berdecik sinis, melirikku seolah sedang memastikan bahwa aku hanyalah seorang pria tanpa arti, lalu kembali menatap wajah istrinya.

"Pecat dia setelah ini," perintahnya tajam. "Aku tidak suka pekerja yang lancang."

"Dia tidak lancang, dia hanya sedang menjaga tuannya."

"Oho, maksudmu dia seperti anjing?"

Astaga.

"Jadi kau suka kemana-mana dengan anjing sekarang?"

"Dan kau pergi kemana-mana dengan jalang?" 

"Jaga ucapanmu, Alaia! Dia bersamaku bahkan sebelum kita menikah."

"Seharusnya kau yang menjaga ucapan. Aku bisa saja mengurus surat perceraian sekarang juga!"

Sepasang suami istri itu terus berdebat diiringi sumpah serapah dan caci maki. Sementara aku berdiri seperti orang tolol di sisi satunya. Pura-pura tak mendengar kalimat yang sebenarnya sangat jelas terdengar. Lalu mulai menyimpulkan sesuatu tentang hubungan mereka.

Pernikahan karena bisnis keluarga, bukan karena cinta. 

***

      Mobil melaju mengitari kota entah untuk yang keberapa kali. Hingga hari perlahan berubah menjadi malam. Di bangku belakang, Nyonya Alaia menatap keluar lewat jendela. Aku tahu dia sedang tidak menikmati pemandangan di luar sana. Hujan semakin deras, membiaskan kaca hingga yang terlihat hanyalah embun dan lampu-lampu menyilaukan dari luar.

Berkali, kulirik wajah pucat itu dari kaca spion. Mengamati setiap ekspresi yang ditampilkannya dalam diam. Bagaimana ia menyeka air yang menggenang di sudut mata. Bagaimana ia mengeraskan rahang penuh kemarahan. Dan bagaimana ia tertawa lirih sambil menggelengkan kepala, seolah sedang menyalahkan diri sendiri atas perdebatan sial yang terjadi siang tadi. 

Tentu saja masih kuingat jelas bagaimana pria itu mengakhiri semua kekacauan tadi dengan berbalik dan memasuki mobil, dimana seorang wanita menunggu dengan sabar. Lalu mobil mewah itu meluncur dan menghilang entah kemana. Meninggalkan Nyonya Alaia yang berdiri termangu dalam kesakitan. 

"Kita masih akan mengukur jalanan, Nyonya?" sindirku memecah keheningan di antara kami. Kutatap wajahnya lewat kaca spion. 

Wanita itu membalas tatapanku, lalu mendengkus pendek. "Benar kata Leonel. Kau memang lancang, Oris."

Aku menyunggingkan selarik senyum. "Jadi Anda akan memecatku nanti?"

Dia mengerling bosan. "Tidak."

"Karena aku mirip anjing, benar?" Aku tertawa kecil. 

Wanita itu mendelik sekejap, kami bertatapan lewat kaca spion, lalu dia ikut tertawa. Tawa yang sungguh miris. Kembali dialihkannya pandangan keluar, seperti sedang meratapi nasib sendiri.

"Aku yang mirip anak anjing," gumamnya. "Di tangan Leonel."

Keheningan kembali menyelimuti kami. 

Mobil meluncur santai, kembali memutari jalanan kota entah untuk yang keberapa kali. Kami seperti sedang berlari mengejar bulan purnama yang tergantung rendah di atas gedung. Sesekali terdengar isakannya. Sementara aku berusaha mengerti kenapa seorang wanita berparas nyaris sempurna tega disia-siakan begitu saja.

"Kita ke klub malam saja, Oris," perintah Nyonya Alaia. Sedikit mengagetkanku.

***

      Malam semakin larut. Dan aku terjebak di sini. Dalam ruangan remang beraroma alkohol dan suara musik keras hingga jantung berdebum mengikuti hentakan. 

Mulut-mulut barbar para pengunjung yang berjoget dalam keadaan mabuk terus meneriakkan kata-kata kotor entah apa di tengah ruangan. Salah satunya, Nyonya Alaia. 

Dari balik meja bar, aku hanya diam mengamati. Mengawasi beberapa bajingan yang berusaha menjamah tubuhnya, lalu menyingkirkan mereka tanpa sepengetahuan Nyonya Alaia.

Kembali kulirik angka yang tertera di sudut layar gawai. Pukul 02.30 pagi. Sudah terlalu larut hingga panggilan tak terjawab Paman Hue sudah terhitung sebanyak puluhan kali.
 
Aku buru-buru bangkit dari kursi, lalu membuka tangan dengan sigap saat melihat bagaimana wanita itu terhuyung menuju kearahku.

"Oris," panggilnya.

Aku meraih tubuh langsing wanita itu.

"Hoeeekkk!" 

Aku mengumpat. Nyonya Alaia muntah di dadaku. 

.

Detik berlalu dalam kekacauan lain. Aku memijit tengkuk wanita yang bersimpuh di depan toilet dengan mulut masih menggumamkan sumpah serapah untuk suaminya, sesekali, ia kembali muntah.

"Oris! Bawa aku pulang," erangnya. 

Wanita itu bangkit berdiri sambil terhuyung, tangannya mencari pegangan, lalu tanpa sadar jemarinya meraba perutku.

Dia mendongak, kaget. 

"Aaaaa!" teriaknya histeris. Menyadari aku dalam keadaan bertelanjang dada.

.

Next