Dinasti Muwahhidun - Penaklukan Wilayah
Pasca meninggalnya Ibnu Tumart, Abdul Mukmin kemudian dibai`at sebagai pemimpin Muwahhidun yang baru. Ia merupakan orang yang paling dekat dengan Ibnu Tumart, sekaligus seorang yang berwawasan luas, tegas, dan seorang panglima yang pemberani, maka tepat sekali untuk membai`atnya menjadi pengganti Ibnu Tumart dan melanjutkan perjuangan Muwahhidun.
Di bawah kepemimpinannya, keberhasilan demi keberhasilan dicapai oleh pasukan Muwahhiudn. Pada tahun 526 H, Muwahhidun berhasil menguasai Nadla, Dir’ah, Taigar, Fazar, dan Giyasah. Pada tahun 534 H, Muwahhidun melancarkan serangannya ke kubu – kubu pertahanan Murabitun. Selanjutnya pada tahun 540 H, Kota Fez—yakni kota terbesar kedua setelah Marakesh—berhasil direbut. Tidak lama berselang, hanya selisih satu tahun setelahnya, Kota Marakesh telah dapat ditundukkan. Dengan jatuhnya Kota Marakesh, jatuh pula Dinasti Murabitun, sehingga semakin mantaplah eksistensi Muwahhidun sebagai sebuah kekuatan yang baru.
Abdul Mukmin memindahkan pusat kekuasaan Muwahhidun dari Tinmal ke Marakesh. Dari sini, ekspansi dilanjutkan ke wilayah Timur. Di antaranya adalah Aljazair pada tahun 1152 M, Tunisia (Ifriqiah) pada tahun 1158 M. Lanjut dua tahun berikutnya, yaitu tahun 1160 M, Tripoli berhasil dikuasai. Pada masa Abdul Mukmin ini, wilayah kekuasaan Muwahhidun membentang dari Tripoli hingga Samudra Atlantik di Barat.
Dalam waktu yang sama, Abdul Mukmin mulai merencanakan perebutan kembali wilayah – wilayah Dinasti Murabitun di Andalusia, yang pada waktu itu tengah diduduki oleh kekuasaan Kristen. Dalam rangka menggempur Andalusia, Abdul Mukmin mempersiapkan kekuatan armada yang tangguh yang dilengkapi dengan senjata dan alat tempur. Ia juga memesan 400 kapal perang berukuran besar. Namun, sebelum rencana ini dijalankan, Abdul Mukmin meninggal dunia pada tahun 1163 M.
Rencana penyerbuan ke Andalusia akhirnya dilanjutkan oleh putra Abdul Mukmin, Abu Ya’kub Yusuf bin Abdul Mukmin. Pada masa Abu Ya’kub ini, penyerangan ke wilayah Andalusia dilakukan sebanyak dua kali. Pertama pada tahun 1169 M di bawah komando saudaranya, Abu Hafs, dan berhasil membawa pulang kemenangan atas Kota Toledo. Lalu yang kedua adalah di bawah komandonya sendiri, dan berhasil merebut Syantarin dan menghancurkan tentara Kristen di Lisabon. Namun demikian, Abu Ya’kub meninggal akibat pertempurannya ini.

Bersambung