Dinasti Murabitun - Kemajuan
Kemajuan paling gemilang yang pernah dicapai oleh Dinasti Murabitun merupakan prestasi dari dua penguasanya yang pertama, yaitu Yusuf bin Tasyfin dan putranya, Ali bin Yusuf. Keduanya memang sangat serius dalam mengusahakan pembangunan dan mempertahankan stabilitas politik. Di antara pencapaian yang berhasil mereka wujudkan adalah sebagai berikut:
a) Kemajuan Bidang Ekonomi
Secara garis besar, sumber pendapatan negara berasal dari zakat, pajak, perniagaan, bea cukai, ghanimah, dan jizyah.
(Ghanimah: harta rampasan perang, Jizyah: pajak per kapita yang wajib dibayarkan oleh penduduk non-Muslim yang tinggal di wilayah kekuasaan Islam, kepada otoritas pemerintahan Islam)
Di bidang pertanian, sarana-sarana irigasi dibangun sehingga hasil pertanian menjadi melimpah. Sementara itu, pembangunan di sektor industri juga tidak kalah maju. Tercatat ada beberapa manufaktur yang didirikan demi menunjang sektor perindustrian, yaitu pabrik tekstil di Mariyah, pabrik kertas di Syathibah, pabrik sabun dan kaca di Marrakesh (Maroko) dan Fez.
Unit perdagangan juga cukup bergairah hingga mampu melampaui batas negara. Buktinya saja di sebelah selatan, Sajalmasah menjadi pintu gerbang perdagangan emas dari Sudan. Lalu di sebelah utara, berhadapan dengan pelabuhan laut merah yang strategis.
b) Kemajuan Bidang Intelektual
Stabilitas politik dan ekonomi Dinasti Murabitun mendorong kemajuan yang lebih hebat lagi di bidang intelektual atau keilmuwan. Nama-nama pemikir terkemuka seperti al-Qadhi al-‘Iyadh dan Ibnu Sakrah turut meramaikan khazanah keilmuwan di Murabitun, terutama dalam bidang ilmu hadis. Ada pula al-Ghassani dan Abu Bakar bin al-‘Arabi dalam bidang ilmu tafsir, al-Idrisi as-Sabati dan Ibnu as-Suyufi, selaku pakar sains, dan lainnya.
Karya-karya yang dihasilkan juga cukup monumental, seperti kitab Tadbir al-Mutawahhid, sebuah buku filsafat karangan Ibnu Bajah dan Mukhtashar al-Fiqh karya Ibrahim bin Ja’far al-Luwathi.
Terkait pembangunan sarana dan prasarana, dikisahkan bahwa Ali bin Yusuf mendirikan berpuluh-puluh masjid dan madrasah yang megah di pusat kota. Tidak hanya di wilayah Afrika Utara, tetapi juga mencapai wilayah Andalusia yang pada saat itu telah menjadi bagian dari wilayah Murabitun.
Pada hakikatnya, pencapaian intelektual yang gemilang itu tidak akan terwujud tanpa didasari semangat dan kecintaan terhadap ilmu, dan itulah yang ditunjukkan oleh individu-individu pembangun peradaban pada masa Dinasti Murabitun.