Dinasti Murabitun - Pembentukan (2)
Pada saat Yusuf bin Tasyfin didaulat menjadi penguasa di Afrika Utara bagian barat, tepatnya di Maroko atau Marakesy, negeri seberang yakni Andalusia tengah berada dalam kondisi yang memprihatinkan sekaligus mengkhawatirkan. Banyak terjadi pertikaian di tubuh umat Islam sendiri, utamanya ketika periode Muluk ath-Thawa`if di mana dinasti-dinasti kecil Islam yang terbentuk akibat terjadinya disintegrasi besar-besaran tahun 1013 M berusaha saling menghancurkan satu sama lain. 
Ketika Toledo jatuh ke tangan Kristen pada tahun 1085 M, raja dari dinasti kecil Sevilla dengan dukungan dari raja-raja yang lain juga meminta bantuan kepada Yusuf bin Tasyfin untuk membantu mereka menghadapi pasukan konsolidasi Kristen yang semakin dekat. Melalui undangan inilah Yusuf bin Tasyfin pertama kali memasuki Andalusia. Ya, sekali masuk langsung berjihad melawan umat Kristen.
Tertanggal 23 Oktober 1086 kedua pasukan bertemu di suatu tempat yang disebut “al-Zalaqah” yang oleh orang-orang Kristen disebut dengan “Sacralias”. Pada pertempuran di az-Zalaqah itu, pasukan Islam memperoleh kemenangan. Keberhasilan tersebut menaikkan pamor Murabitun, bukan lagi sebatas gerakan keagamaan, tetapi juga rangkap pangkat menjadi gerakan politik yang mampu menembus benteng Andalusia dan menyingkirkan pasukan Kristen.
Namun, setelah kemenangan diperolehnya, Yusuf bin Tasyfin beserta pasukannya tidak melanjutkan pengejaran secara terus-menerus kepada pasukan Kristen—yang ketika itu dipimpin oleh Alfonso V. Tidak seperti yang dilakukan oleh Thariq bin Ziyad terhadap pasukan Roderick dahulu. Tindakan tersebut memberikan ruang bagi pasukan Kristen untuk kembali mengkonsolidasikan diri dan mengumpulkan kekuatan.
Akibatnya, pada tahun 1090 M serdadu Kristen kembali bergerak dan memaksa Yusuf bin Tasyfin untuk kembali ke Andalusia. Kedatangannya kali ini bukan hanya dalam rangka menghadang pasukan Kristen, tetapi juga berniat menghimpun raja-raja golongan dan menjadikan mereka bersatu kembali. Berkat usahanya, ia berhasil menyatukan kembali Andalusia di bawah kekuasaannya di Afrika Utara. Selanjutnya, stabilitas politik yang dibangun oleh Dinasti Murabitun dapat dikatakan baik dan aman. Pemimpin-pemimpin yang menjadi penerus Yusuf bin Tasyfin juga cakap, akan tetapi Murabitun harus menemui kehancurannya ketika digempur oleh kekuatan Dinasti Muwahhidun.