Dinasti Murabitun - Keruntuhan (2)
b. Faktor Eksternal
Sebagaimana telah disebutkan pada review yang lalu, bahwa gejolak pemberontakan kerap mengguncang Dinasti Murabitun tanpa ampun. Pemberontakan datang dari dua wilayah sekaligus, yakni di pusat pemerintakan, Afrika Utara, dan di negeri taklukan seberang, Andalusia. Terlebih sejak Dinasti Muwahhidun berdiri pada tahun 1120 M, pertempuran berkepanjangan pecah di antara keduanya, memorakporandakan Dinasti Murabitun yang berakibat pada keruntuhannya.
Terkait serangan Dinasti Muwahhidun ini akan diuraikan secara lebih rinci pada bab selanjutnya, tetapi di sini akan disinggung sedikit terlebih dahulu.
Kronologi perebutan wilayah kekuasaan Dinasti Murabitun dimulai pada tahun 1122 M di bawah pimpinan al-Bisyr. Ia bersama pasukannya berhasil merebut Kota Aghmat dari genggaman Ali bin Yusuf.
(Kota Aghmat berada tidak terlalu jauh dari Marakesh, tepatnya ke arah tenggara dari Marakesh)
Berikutnya, pasukan di bawah komando M Abdul Mu`min terus menggempur Murabitun hingga Marakesh semakin terjepit. Bahkan, dikisahkan bahwa akibat serangan tersebut, Ali bin Yusuf sampai mengalami tekanan jiwa dan akhirnya meninggal pada tahun 1142 M. Agaknya kisah kini perlu ditelusuri lebih lanjut secara lebih eksklusif.
Pasca-wafatnya Ali bin Yusuf, ia kemudian digantikan oleh putranya, Tasyfin bin Ali (Ali bin Yusuf menamai putranya dengan nama kakeknya, Tasyfin). Namun, Tasyfin bin Ali tidak lama menjabat, sebab ia meninggal dua tahun berikutnya, yakni pada tahun 1144 M, ketika pasukan Muwahhidun melakukan pengepungan terhadap Marakesh.
Tampuk kepemimpinan selanjutnya diambil alih oleh Ishaq bin Ali. Namun nasib serupa juga menimpa Ishaq bin Ali, di mana ia terbunuh pada tahun 1146 M, selang dua tahun dari meninggalnya Tasyfin bin Ali. Ia tumbang di tangan serdadu Muwahhidun, bersamaan dengan jatuhnya Kota Marakesh ke tangan mereka.
Dengan tersingkirnya sang pemimpin dan takluknya ibu kota kepemimpinan, maka berakhirlah kekuasaan Dinasti Murabitun. Marakesh kini diduduki oleh raja dari dinasti yang baru, Dinasti Muwahhidun.

~ Dengan demikian, jika boleh disederhanakan maka kekuatan terbesar yang menuntun Dinasti Murabitun sampai pada penghujung keruntuhannya adalah Dinasti Muwahhidun. Apa yang mengherankan dari kedua dinasti ini ialah bahwa keduanya sama-sama berangkat dari gerakan keagamaan, tetapi pada kenyataannya saling menghancurkan satu sama lain ~