no_image
Sinopsis

[Sejam 300k mas, selama durasi masih ada, bebas mau main berapa kali.] Mataku terbelalak saat melihat isi pesan suamiku dengan seorang p*k. [Aku mau pake kamu dua jam, kalau pelayanan kamu bagus akan kukasih bonus.] Mengejutkan. Bagaimana tidak, aku terkejut. Di rumah dia rajin sholat, sering membantuku mengerjakan pekerjaan rumah dan juga momong anak. Tetapi di belakang, ternyata dia bermain gila dengan perempuan murahan di luar sana. Pantas saja setiap malam dia selalu mandi keramas, meskipun selama dua bulan ini kami belum pernah bersentuhan. Ya, aku baru saja melahirkan tepat dua bulan yang lalu. Aku tak mampu melayaninya karena keadaan yang memaksa. Selama masa nifas, kupikir ia bisa menahan syahwatnya. Karena menurutku dia adalah lelaki yang faham akan agama. Ternyata, pengetahuan tidak menjadi pacuan laki-laki akan setia dan tidak melakukan perbuatan terlarang. Semua perlakuan baiknya hanya kedok untuk menutupi kebohongannya. Ku screenshot dulu percakapan itu lalu mengirimnya ke watshAapku. Setelah itu baru aku hapus riwayat terkirim dan pesan yang ku screenshot itu di ponselnya. "Dek, buatkan teh hangat, ya?" Hati ini terasa membara-bara. Kepulan asap dan api amarah sedang berkobar sangat besar di dalam sana. Aku menarik nafas lalu berjalan ke dapur dan membuatkannya secangkir teh hangat. Kulihat ia sekarang tengah duduk di sofa dengan rambut basahnya, ia sepertinya sedang menunggu teh yang kubuat sambil menyesap sebatang puntung rokok. Aku yang melihat wajahnya tampak santai seketika murka. "Nih, Bang tehnya," aku mengulurkan secangkir teh itu di depannya. Saat ia ingin menyambut dengan segera aku menumpahkan teh hangat itu ke kepalanya. "A-aw ... Panas dek. Kamu ini apa-apaan?" Ia terperanjat sambil jingkrak-jingkrak. Melihat ponselnya yang ia letakkan di atas meja aku langsung meraihnya. Kungkat tinggi-tinggi lalu kubanting sekuat tenaga tanpa berkata sepatah katapun. "Apa-apaan lagi ini? Kenapa kamu bersikap seperti ini?" tanyanya keheranan. "Sekarang juga talak aku, Bang," ucapku lantang tanpa gentar sedikitpun. Masalah anak aku bisa menjaganya. "Maksud kamu apa? Haram hukumnya bagi seorang istri meminta cerai tanpa sebab yang jelas. Dosa besar!" Di saat seperti ini pun ia sempat-sempatnya menceramahiku. Tidak perduli dengan ucapannya, aku langsung menendang area intimnya sehingga ia menjerit kesakitan. "Itu alasan utamaku meminta cerai darimu. Bukankah selama ini kamu selalu merasa enak, memakai barang jajaan murah dengan alat kejantananmu itu. Sekarang bagaimana rasanya? Apakah sakit? atau nikmat saat kamu mendengarkan desahan dari perempuan lain?" Aku berucap sembari memberi clue padanya bahwa aku sudah mengetahui kebusukkannya. "M-maksud kamu?" Ia mendongak menatapku penuh tanda tanya.

Tags
Istri Bar-bar.

  • Tanggal diterbitkan
  • 14 Maret 2022
  • Kategori
  • K-Novel
  • Status
  • Belum Selesai