no_image
Sinopsis

Bagaimana kita mengekspresikan cinta saat ini? Dua Ramadhan dan dua Lebaran terlewati, sudah. Dalam situasi yang tidak terbayangkan sebelumnya. Amat sangat berbeda... Seolah tiba-tiba kita menjalani adegan film, dan bukan hidup sebenarnya. Semua Karena Corona. Tidak ada pribadi yang siap menjalani desain hidup seperti ini, bahkan para orang tua sekali pun. Tapi kita tidak bisa lama-lama bingung, gelisah, stress, apalagi bila di pundak kita tersemat tanggung jawab. Para imam keluarga misalnya, mereka harus membimbing istri juga anak-anak, selain memastikan mereka terlindungi. Seorang Ibu mendadak harus merangkap tugas sekaligus menjadi guru dari anak-anak yang belajar di rumah. Lebih repot ketika anak-anak di rumah memiliki jenjang pendidikan berbeda. Ya, sejak pandemi, dan anak-anak tak lagi belajar tatap muka di sekolah, mau tidak mau seorang ibu harus menguasai sedikit banyak pelajaran SD-SMP dan SMA. Para ayah pun begitu. Banyak yang harus menyesuaikan diri bekerja dari rumah atau WFH, belajar bersabar dengan keriuhan suasana, termasuk gelak tawa atau jerit tangis anak-anak yang meledak di tengah-tengah rapat penting. Agenda seorang istri menjadi begitu padat... masakan dan cemilan harus lebih banyak sebab anggota keluarga makin sering yang berteriak lapar. Sulitnya makin lama makin sulit dipenuhi, sebab penghasilan keluarga merosot bahkan terjun bebas... Semua terimbas karena corona. Lalu bagaimana kita harus bersikap? Bagaimana pula caranya melindungi keluarga lebih baik di masa pandemi? Atau menyikapi kebijakan pemerintah. Di satu sisi tak membolehkan kerumunan, tetapi pilkada sempat tetap diadakan. Masjid ditutup namun mall dibuka, hingga umat pun berteriak. Tapi ulama lain pun punya penjelasan tentang ini... semua berpikir yang terbaik bagi umat. Segala sesuatu demikian simpang siur. Dalam ketidakpastian dan kebingungan, ditambah banyaknya hoax yang beredar perbedaan pendapat yang terus bergulir, juga berbagai teori konspirasi, pada akhirnya setiap keluarga perlu memiliki prinsip dan sikap sendiri. Memutuskan yang terbaik bagi pasangan, ananda dan keluarga besar. Termasuk beradaptasi dan membuat pilihan bagaimana mengekspresikan cinta terhadap orang-orang yang kita sayang, ketika mereka bersedih, terluka, sakit dan lain-lain... di pandemi ini. Termasuk ketika harus kehilangan orang tersayang yang gugur karena wabah Jalan masih panjang... entah sampai kapan. Sebuah buku yang merupakan catatan hati Asma Nadia- sebagian sangat personal- selama dua tahun corona ini, semoga membantu menguatkan kesabaran dan menambah wawasan untuk membuat pilihan-pilihan terbaik bagi diri dan keluarga khususnya sebab kita menyadari, di luar rumah ibarat medan perang, dan setiap waktu nyawa menjadi taruhan... Buku ke 64 Asma Nadia ini, sebagian besar bisa dibaca GRATIS. Silahkan subscribe agar mendapat informasi karena akan ada tulisan yang baru, Selain Karena Corona ada lima novel Asma Nadia di aplikasi ini: Surga yang Tak Dirindukan 3, Bidadari untuk Dewa, Nikah Tanpa Pacaran, Assalamualaikum Beijing dan Pertama Bilang Cinta. Subscribe untuk inspirasi yang menguatkan hati. Follow Penulis Asma Nadia untuk tips menulis gratis dihantar langsung ke inboxmu di sini... Semoga menyemangati. Salam sehat, tetap semangat dan tak kehilangan syukur serta sabar Semoga pertolongan-Nya dihampirkan kepada siapa saja yang saat ini amat sangat membutuhkan... Semoga pandemi segera diangkat dari bumi Allah ini... Aamiin ya Allah

Tags
inspirasi kesehatan edukasi sosial kepedulian empati corona asma nadia kisah sejati opini

  • Tanggal diterbitkan
  • 28 Juli 2021
  • Kategori
  • Inspirasi
  • Status
  • Belum Selesai