no_image
Sinopsis

TERINSPIRASI DARI KISAH NYATA. Jika ada anak SMP yang tidak pakai sepatu ke sekolah, itu pasti Ibrahim. Karena anak kurus berkulit gelap itu selalu memakai sendal jepit usang yang sudah melepuh. Sepatunya baru dipakai ketika sampai di gerbang sekolah. Hal tersebut sudah sering menjadi perhatianku, tapi aku malas bertanya karena memang bukan ranahku. Seperti pagi ini, Ibrahim datang paling awal dari teman-temannya yang lain. Sebelum memakai kaus kaki dan sepatu, anak itu menyapu halaman depan kelasnya, lalu duduk kembali di gerbang sambil memasang sepatu. “Pagi, Ib,” sapaku ramah. “Pagi Bi Wan. Kacang rebusnya masih berasap, ya?” tanyanya lebih ramah. Aku pedagang asongan dekat sekolah Ibrahim. Banyak sekali tipe anak yang sekolah di sini. Tapi menurutku Ibrahim yang paling aneh. Meski sekolah sudah di sapu petugas kebersihan, ia tetap mengulang kembali. “Tadi kamu nyapu lagi?” “Iya, Bik. Masih ada sampahnya. Aku tidak mau belajar di kelas yang halamannya kotor,” jawabnya sambil mengikat tali sepatu. Melihat bocah itu, rasa iba merasuki hati. “Ib, kamu sudah sarapan?” Dia menoleh, lantas menggeleng. “Kenapa?” “Biasalah Bi, ibu belum bangun.” Aku mendelik, dasar ibu tak bertanggung jawab, geramku dalam hati. “Kamu mau nasi goreng ini?” “Ga usah, Bi. Nanti aja jam istirahat. Kasian Bibi,” tolaknya sungkan. Anak ini sungguh berbeda, itu yang membuat guru-gurunya sayang pada Ibrahim. “Ibu, baru pulang hampir pagi, Bi. Kasian, sejak kerja di loundry ibu kecapekan. Jadi kalau pagi itu, ibu baru tidur,” jelasnya, yang membuat aku beristighfar. “Terus, kenapa sepatunya tidak dipakai dari rumah?” “Telapaknya bolong, Bi. Kalau dipakai semakin sobek. Aku tidak mau merepotkan ibu. Jadi aku pakai untuk berbaris saja, kan di dalam kelas tidak boleh bersepatu.” Tidak ada gurat kesedihan dan malu di wajah bocah kurus yang kini di depanku. Hatiku nyeri, di zaman seperti ini masih ada anak berpikiran seperti Ibrahim. “Kenapa tidak bilang ke gurumu, mana tau ada bantuan apa gitu?” Dia tersenyum, lantas menggeleng lemah. “Aku tidak mau, Bi. Soalnya kalau dari kecil kita terbiasa meminta-minta, dewasa nanti jadi pemalas. Toh, aku tidak dihukum karena sepatu bolong.” “Tapi ...!” “Bi, mungkin bagi sebagian anak, sepatu sobek membuat mereka enggan ke sekolah. Tapi tidak bagiku, dengan sepatu ini, aku bisa menumbuhkan semangat belajar, suatu saat nanti aku akan membeli sepatu dengan usaha sendiri. Jadi, bibi jangan bilang siapa-siapa,” pesannya. Setelah pamitan, anak itu berlari menuju kelas. Betapa beruntung seorang ibu memiliki anak seperti Ibrahim. Benar kata ulama dan orang soleh,” jika seorang ibu baik, maka anaknya juga akan menjadi baik. Berarti ibunya sukses mendidik sang anak.” Aku menangis, menyaksikan bahwa masih ada di dunia ini anak-anak yang mengerti kesulitan ibunya. ***

Tags
Inspiring Story Nilam Cayo Remaja Pengorbanan Ibu

  • Tanggal diterbitkan
  • 22 Juni 2021
  • Kategori
  • Unknown
  • Status
  • Belum Selesai