no_image
Sinopsis

"Pada tanggal 15-18 Juni 1999, diadakan konferensi, Pemerintah China menyadari bahwa untuk bisa bertahan menghadapi globalisasi perlu menyiapkan generasi muda yang kreatif dan inovatif.Apalagi China menghadapi masalah pencemaran lingkungan yang semakin parah dan populasi penduduk yang terus bertambah.Pada bulan September 2001dikeluarkan kurikulum baru yang menitikberatkan pada inovasi dan kemampuan mengaplikasikan teori dalam kehidupan sehari-hari." Semakin tinggi tingkatan inovasi bisnis suatu Bangsa dan Negara maka akan semakin banyak pendapatan Negara sehingga semakin makmur ekonomi bangsanya ! Berbicara tentang inovasi, hal yang paling penting adalah bagaimana mengubah keadaan buruk menjadi baik serta menambah nilai tambah bagi produk (inovasi tingkat ketiga). Contoh yang satu ini datang dari pak Habibie yang dengan inovasinya dalam menerapkan rumus matematika untuk mengubah keadaan krisis ekonomi menjadi keadaan ekonomi yang lebih baik. Wardiman yang saat BJ Habibie jadi Presiden tidak berada dalam pemerintahan, mengatakan pada suatu hari sengaja bertemu karibnya itu untuk diajak berdiskusi. “Pak Habibie orang yang sangat cerdas dan menguasai rumus-rumus matematika.Beliau menjelaskan kepada saya sambil mencorat-coret rumus-rumus matematika rumit untuk meredam gejolak kurs dan inflasi serta variabel ekonomi lainnya yang sedang bergejolak saat itu,” papar Wardiman saat dialog di stasiun tv, Kamis (12/9/2019). Dengan inovasi teori zig zag karya Habibie ini, Negara mendapatkan surplus lebih dari pendapatan Negara sebesar 300 trilyun sehingga nilai rupiah menguat terhadap dolar. Mari kita bandingkan ! China dengan industri game nya (elex tech.) meraup keuntungan bersih 200 trilyun rupiah dari game dengan konsep Bumi berbentuk kubus (game MOBA). Sementara itu Eropa, dengan modal proyek sains CERN sebesar 600 milyar bisa meraup keuntungan bersih hingga 50 trilyun lebih (baca TRINOMICS). Tentu hal di atas lebih menggiurkan dibanding pendapatan kotor Freeport sekitar 40 trilyunan ! "Jika menghitung kasar potensi pendapatan dengan pukul rata berdasar hasil kuartal I, maka dalam setahun pendapatan yang bisa diraup dengan mengeruk perut bumi Papua adalah sebanyak Rp 96 triliun." Akan tetapi, lain hal jika Analis Kimia di Freeport berhasil mengeksploitasi Uranium di tanah Papua tersebut dengan rahasia Struktur Unsur Berkala di tahun 1920 ! Oleh karena itu, mari berbisnis IPTEK via Inovasi Tingkat Tinggi agar usaha langgeng tanpa bahan pengawet berbahaya dan ritual pesugihan !

Tags
inovasi ekonomi sains teknologi lingkungan iklim

  • Tanggal diterbitkan
  • 31 Januari 2021
  • Kategori
  • Sains dan Teknologi
  • Status
  • Selesai