no_image
Sinopsis

Disc jockey cantik dengan tato yang menjalar di sepanjang tangan kanan, memainkan piringan hitam begitu lincah. Suara alunan musiknya menghipnotis pengunjung, memancing untuk meliuk-liuk di lantai diskotek. DJ berambut pirang coklat pekat bercampur marun itu aku, Clarinda. Nama yang berarti bercahaya, tetapi hidupku tidak seterang makna nama pemberian dari pengasuh panti asuhan. Hidupku hanyalah ruang remang nyaris gelap dipenuhi orang-orang dengan bebas memuaskan hasrat. Wajah cantik berbibir tebal berlekuk, disematkan padaku dari pria-pria bermata nakal yang memberiku saweran lembaran ratusan. Jangan tanya yang kurasakan. Jijik, tetapi aku butuh uang itu. Ada panti asuhan yang diam-diam harus kusuplai bahan makanan setiap bulan. Bukan tentang sebuah pujian, melainkan tentang sebuah tanggung jawab. Lelah? Iya. Berhenti? Entahlah. Ini duniaku. “Apa kamu mau begini terus, Rinda? Menikahlah! Hidup tenang bersama keluarga kecil kamu.” Pertanyaan bercampur saran sering datang dari Mona, sahabatku. Akh, BUKAN! Dia saudaraku satu-satunya. Kami dibesarkan di panti asuhan yang sama. Saudara beda ayah, beda ibu. Satu ruangan di jiwaku yang bernama “HATI” sudah hampir kosong. Rasa bernama “CINTA”, tak lagi pekat, menghindar menaruh hati, nyaris, kepada semua kaum adam. Bagiku, mereka hanya makhluk yang memandang perempuan sebagai pemuas nafsu. Pria-pria yang datang ke tempatku bekerja selalu menyajikan perilaku bermenu liar. Uang dijadikan nilai sandingan untuk perempuan. Aku muak bercampur takut dengan sebuah hubungan mengatasnamakan cinta. Dulu, rasa itu pernah hadir dengan leluasa di hatiku. Sesaat. Kemudian, menguap ketika keluarga pria—yang mengaku mencintaiku—tak menerima hubungan kami. Pasrah menjadi pilihan yang memasung. Hatiku kian patah, pria bermulut manis itu tak bisa memperjuangkanku. Hanan berjaya memendar-mendarkan cintaku. Aku terhina tanpa tirai. Sudahlah … aku tahu diri. Begitupun seperti saat ini, lebih baik menekan rasa pada seorang pria berseragam coklat. Yusuf, polisi berwajah teduh itu ingin aku keluar dari duniaku, memintaku menata kehidupan dan menutup aurat, tanpa memberi alasan seperti yang kuharapkan. Permintaanya dan perhatiannya adalah cinta atau bukan …? Aku tak tahu. Mengharapkannya? Tidak! Aku tak ingin patah kembali. Tak ingin kepak singkat, terbang hendak tinggi. Batin tergoda mengungkapkan rasa ini, logikaku menafikan. Aku tahu diri. Biarlah rasa yang mulai memintal, kugulung dan sembunyikan. Menirai rejana menjadi cinta tak berbahana. Berproses, memantaskan diri, bukan untuk bersamanya, melainkan kepada-Nya. Biarlah seperti Zulaikha yang mencinta Yusuf di balik cinta pada Sang Pencipta cinta. Yang Maha Pengatur cinta, selalu memiliki peta pertemuan bagi dua orang yang ditakdirkan-Nya.

Tags
rasa Rinda bergelora sandiwara halu halu diam senja keramat Cinta keramat tirai keramat keramat bahagia masa lalu senja bergelora bergelora bergelora senja keramat senja keramat sendu sendu belenggu halu Halu halu halu senja sendu keramat belenggu belenggu belenggu belenggu belenggu bergelora sandiwara senja senja

  • Tanggal diterbitkan
  • 1 September 2022
  • Kategori
  • Writing Contest 4
  • Status
  • Belum Selesai