no_image
Sinopsis

(Selesai) Ini bukan tentang pengucapan kata, bukan huruf hijaiyah atau latin, ini tentang sesuatu yang tidak ditemukan dalam kamus manapun, ini tentang apa yang ada di pikiran dan di hati, ini bahasa cinta. Cobalah dikte setiap bahasa cinta, kalau kau belum memahami, jika kau ragu, coba katakan padanya; ajari aku bahasa cintamu. Terlalu banyak majas yang telah kau buang, hiperbola pun mencelamu yang terlalu berlebihan, kalimat ambigu menarik usus perutmu menghambur keluar, surealisme tidak mampu memahami kata-katamu, romantisme mencela kau dusta, realisme menuduh kau mengada-ngada, naturalisme pun merajuk karena kau memakainya, ekspresionisme mencela kau munafiq, determinisme merasa terbuang karena kau tidak menghiraukannya. Alosiomu terlalu dipakasakan, metamoramu seperti si pemeluk bulan, personifikasimu menyesal karena telah kau hidupkan, asonansi yang kau pakai tidak setuju karena kau samakan dengan dia, klimaks merasa terjatuh membiru tragis setelah kau kalahkan. Litotes mencium kakimu, paradoks tak mampu melawanmu, Pleonasme tak pernah melebihi kenyakinanmu, simile tidak pernah mau kau setarakan, repitisi kelelahan karena selalu kau ulang-ulang, oksiomoran terkapar jatuh tidak berdaya. Walau cahaya mencela kau dusta, walau gelap menghina kau munafiq, walau sastra mengangkat bendera perang, kau tetapkan kaki dalam cinta, walau darah turun deras berintik.

Tags
sastra artikel diksi bahasa sendu

  • Tanggal diterbitkan
  • 2 September 2020
  • Kategori
  • Tip Menulis
  • Status
  • Selesai